Apakah Sejatinya Kebahagiaan Itu

Bahagia. Apakah sejatinya kebahagiaan di dunia itu? Apakah bahagia itu identik dgn materi melimpah, pangkat, jabatan  dan status sosial lain nan mentereng?

Memiliki banyak uang miliaran, cash maupun bank saving. Rumah mewah, garasi penuh mobil wah, motor lebih dari empat buah dan mungkin satu atau dua moge alias motor geulis, hahaha.

Bisa makan enak di hotel bintang lima, resort, resto, cafe, executive club dimana saja seantero jagat bumi ini. Fashion super branded dari Paris, Milan atau Tokyo. Pakai perhiasan mengkilat, gemerincing, silau Men. Atau punya segala mahkota kebanggaan duniawi.e

Lantas apakah bisa membuat kita  merasa super bahagia, terberkati & menjadi manusia yg paling beruntung dibanding orang kebanyakan?

Walau terus berusaha bahagia melalui berbagi keberuntungannya dengan sesama. Semoga tulus, tanpa pamrih dan bebas pujian. Tetapi apakah sudah benar-benar membuat bahagia?

Nyatanya, dalam realitas kehidupan ini banyak yang masih saja kurang bahagia. Seolah masih kurang saja pencapaian-pencapaian kesuksesan duniawi yang sudah diraihnya.

Kemudian, mengapa banyak kalangan ‘di atas langit’ yang ujung-ujungnya masih saja tidak juga merasa bahagia secara optimal dan maksimal? Padahal dunia bisa mereka “beli” kapan saja.

Lantas apa yg membuat mereka masih belum juga merasa mencapai a truly happiness? Banyak yang pada saat-saat tertentu masih saja merasa kesepian dah hampa.

Ah mana mungkin. Semua sarana kebahagiaan sudah di genggamannya. Tapi mengapa masih banyak yang merasa tak bahagia? Lalu apa sebetulnya kebahagiaan sejati itu?

Pada sisi kehidupan lain, tak sedikit insan manusia yang  justru merasa mencapai kebahagiaan sejati. Walau dunia memandangnya bukanlah siapa-siapa dan bukan apa-apa.

Mungkin mereka hanya kalangan masyarakat biasa-biasa saja. Bahkan yang tergolong di bawah biasa-biasa saja. Jumlah kalangan ini sangat banyak di sekitar kehidupan kita sehari2.

Tentu secara pencapaian duniawi banyak yang merasa tidak atau belum bahagia. Tetapi justru jumlah yang bisa merasa bahagia dan mencoba untuk bisa bahagia lebih banyak yang berasal dari kalangan ini.

Kok bisa? Bukankah mereka banyak yang berkekurangan dan merasa pas-pasan dalam memenuhi berbagai ‘pulsa’ kebutuhan hidup ini?

Sebetulnya apa sih tolok ukur atau parameter kebahagiaan di dunia itu? Materi sematakah atau ada dimensi perspektif kebahagiaan lain di dunia ini?

Apakah bicara dunia, ya bicara pencapaian materi, fisik, barang, kebendaan, kepuasan ragawi, jasmani, dagingiah semata Bukankah hidup tanpa materi, uang dan sebagainya itu tidaklah sempurna?

Tetapi di sisi lain, keduniawian itu bukanlah yang paling sempurna atau segala-galanya, tetapi juga sangat penting karena kita hidup di dunia. Tanpa itu manusia tak bisa apa-apa.

Oleh karenanya, olah rasa dan olah pikir manusia kadang dibuat bergumul keras utk mensikapi hal itu. Bahagia duniawi betul adanya bahwa materi adalah sarananya. Namun, bukanlah segala-galanya. Banyak yang terbukti belum bisa bahagia dengan hal itu.

Kadang manusia lupa bahwa anugerah dan musibah itu sangat tipis jaraknya. Anugerah bisa menjadi musibah dan sebaliknya musibah bisa menjadi anugerah. Semua tergantung bagaimana cara pandang batiniah dan mengelola kalbu atau nurani ini.

Akhirnya semua kmbali berpulang pd sejauh mana kita bisa mensyukuri hal yang paling sederhana dalam irama hidup ini. Itulah makna spiritual dari suatu konsepsi batiniah yang bernama kebahagiaan. Banyak yang terjebak dalam kesenangan duniawi dan mengejar kebahagiaan duniawi.

Alhasil kita sering lupa untuk bersyukur sehingga lupa bahwa itu semua hanya amanat titipan-Nya untuk bisa ikut tulus dirasakan sesama kita, yang juga punya hak untuk bahagia.

Bahagia adalah bagaimana cara kita bersyukur untuk tulus sejati penuh peduli dalam memanusiakan sesama dengan ikut berupaya membahagiakannya. Bukan justru dengan selalu bersyukur untuk terus membahagiakan diri sendiri dan mungkin juga teringat untuk membahagiakan sesama walau dengan harap pamrih untuk sebuah pujian.

Bahagia ada dalam sejauh mana ketajaman batin ini menerjemahkan bahasa Sang Ilahi dalam setiap asesori dunia yang ada di setiap detik irama napas kehidupan ini.

Agar kita kelak benar-benar bisa mencapai apa yang dinamakan kebahagiaan sejati yang abadi, yaitu suatu perjumpaan yang kekal dengan Sang Maha Pengasih dan Penyayang, yakni Sang Ilahi.

Jangan pernah lupa untuk terus bersyukur agar kita selalu bahagia. Semoga semua makhluk tetap bahagia.

Salam Kebajikan

Fby for humanity

Related posts

Banyak Belajar Kepada Mereka yang Totalitas dan Ikhlas Menekuni Pekerjaannya

1 Juni atau 18 Agustus, Memahami Sejarah Lahirnya Pancasila Secara Utuh, Akademik dan Konstitusional

Bukan Malah Cari Panggung, Jokowi Wajib Digantung