Pekan kelima atau minggu terakhir Mei 2026 agenda saya di Yogyakarta dan Surabaya. Selama di dua provinsi itu saya ketemu banyak orang dari berbagai latar belakang.
Jumlahnya ratusan orang. Mereka semua adalah orang penting. Masing-masing memiliki kelebihan dan keistimewaan.
Di samping juga tentunya ada kekurangan. Manusiawi sekali sebagai makhluk tuhan.
Paling menonjol dari mereka adalah totalitas dan ikhlas menekuni pekerjaannya.
Merasa mulia sehingga sungguh-sungguh dan serius menjalaninya.
Mereka meyakini dan telah merasakan langsung selama bertahun-tahun, manfaat dari semua sikap positifnya itu.
Selain membahagiakan banyak orang yang mendapatkan dampak positifnya, juga memberikan rezeki berupa materi.
Mereka yang merasakan langsung bantuan mereka memberikan apresiasi.
Menyampaikan pujian dan terus mendorong untuk konsisten menekuninya.
Bahkan meningkatkan kualitasnya. Sehingga keberadaan mereka makin dirasakan banyak orang.
Semua itu membuat mereka semakin semangat untuk meningkatkan kualitas layanannya kepada orang lain.
Mereka merasa sangat bahagia ketika bisa membahagiakan banyak orang.
Saya sangat bersyukur dan beruntung sekali karena berinteraksi dengan mereka.
Kesempatan itu sekaligus saya optimalkan untuk banyak belajar kepada mereka.
Di tengah situasi yang terasa makin sulit, baik karena faktor internal maupun eksternal, mereka tetap semangat menekuni pekerjaannya.
Optimis menjalani setiap hari dengan dilandasi niat sepenuhnya ibadah.
Sekolah Terbaik
Setelah melaksanakan Sharing Komunikasi dan Motivasi di SMPN 2 Ngemplak Kabupaten Sleman pada Senin siang (25/5/26) di antara ratusan peserta, Kepala SMPN 2 Cangkringan Evi Apriyanti mengontak saya lewat WhatsApp.
“Assalamualaikum wr wb, selamat pagi Pak Dr Aqua Dwipayana, mohon maaf mengganggu waktunya. Perkenalkan Saya Evi Apriyanti KS SMPN 2 Cangkringan, maaf mohon izin save no hp. Terima kasih Bapak,”. Tulisnya.
Langsung saya respon. Setelah itu kami intens berkomunikasi.
Tuhan menggerakkan saya untuk silaturahim ke Evi di sekolah yang dipimpinnya sejak Selasa (21/4/26), bertepatan dengan Hari Kartini.
Selasa siang (26/5/26) dari Magelang, saya langsung ke SMPN 2 Cangkringan.
Situasi sekolahnya menyenangkan. Sejuk dan asri. Lokasinya di kaki gunung Merapi.
Saat saya datang, Evi sedang bersama jajarannya, belasan guru dan pegawai di ruang rapat.
Langsung “menodong” saya untuk memberikan motivasi. Permintaannya saya penuhi.
Menyemangati mereka. Semuanya antusias berdiskusi.
Evi menunjukkan kepemimpinannya yang kuat. Meski baru menjabat, berhasil merangkul jajarannya. Mereka kompak.
Tidak hanya itu. Istri dari almarhum Syahrirodin tersebut menyampaikan tekadnya yang diiringi semangat dan aksi nyata untuk menjadikan SMPN 2 Cangkringan sebagai sekolah yang terbaik.
Menghasilkan siswa-siswa yang berkualitas dan menjadi tempat belajar bagi sekolah lain termasuk dari luar Sleman.
Melihat rekam jejak ibu dari Rendi Syahri dan Rezqi Syahri itu, saya yakin niat mulianya bakal terwujud.
Apalagi Evi sebelumnya pernah menjadi Kepala SMPN 1 Sungkai Selatan, Lampung Utara.
Amanah itu diperolehnya sejak 14 September 2014. Ia tahu persis yang harus dilakukan untuk memajukan sekolah yang dipimpinnya.
“Mohon doa dan dukungannya Pak Aqua agar saya dapat melaksanakan semua amanah yang diberikan kepada saya,” ujar putri dari pasangan Nurhasan dan Nurbaya Sitiana itu.
Pantang Menyerah
Salah satu keberkahan saya melaksanakan Sharing Komunikasi dan Motivasi di kantor Dinas Kabupaten Sleman pada Senin siang (25/5/26) adalah ketemu Febriyanto Dwi Prabowo.
Ia yang jadi pegawai honorer sejak tahun 2022 di sana hadir sebagai salah seorang peserta.
Febri yang duduk di kursi bagian belakang, tekun menyimak semua yang saya sampaikan.
Seusai sharing, bapak dari Shafiyyah Lubna Febriyanto itu kontak saya untuk mengenalkan diri dan mengapresiasi.
Begitu tahu Febri punya usaha makanan dan minuman yang diberi nama Dapur Laikha di rumahnya di Pisangan, RT 02/RW 14, Tridadi, Kabupaten Sleman, pada Rabu sore (27/5/26) bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 1447 H saya ke sana.
Saya bersama Sumarti, Aryanti Putri Utami, Gilang Ramadan, dan Agus Virgiawan.
Selama di Dapur Laikha, saya melihat Febri dan istrinya Dika Candra Sari semangat sekali melayani semua tamunya. Satu per satu disapa dengan ramah.
Kedua orangtuanya, Sihono dan Nurhayati yang tinggal di dekat rumahnya selalu hadir menyemangati mereka.
Mendorong untuk terus melayani dengan hati dan hati-hati.
Kami menikmati aneka makanan dan minuman yang yummy.
Menu Dapur Laikha antara lain Kebab ori, Black kebab, Burger, Kentang goreng, Es cemil, dan aneka Pop ice. Harganya sangat terjangkau.
Febri dan istrinya sebelumnya jualan manik-manik. Setiap ada pasar malam di Kabupaten Sleman, mereka memasarkan dagangannya.
Semangat pantang menyerah terlihat pada diri mereka.
Saya yakin suatu saat nanti bisnis mereka sukses.
Ketekunan dan kegigihan serta optimisme mereka menekuni usaha merupakan keteladanan yang luar biasa.
Aura Positif
Jumat dini hari (29/5/26) sekira pukul 01.00 saya mendapat banyak pelajaran dari Agus Trian, porter di Stasiun Tugu Yogyakarta.
Ketika itu saya mau naik kereta Mutiara Selatan yang berangkat pukul 02.40 dari jalur 3 ke Surabaya.
Saat pertama kali ketemu Trian, saya langsung merasakan aura positif. Di saat dini hari sebagian besar orang tidur nyenyak, ia semangat bekerja.
Menyapa calon penumpang dengan ceria. Menebar kebaikan. Padahal itu waktunya istirahat.
Ketika saya minta bantuan membawakan semua barang bawaan, calon suami Donanova itu tersenyum ikhlas.
Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya berisi nada positif.
“Harus selalu semangat menjalani hidup ini, pak. Banyak atau pun sedikit penumpang yang dilayani,” ucap Trian.
Trian yang berusia 26 tahun dengan totalitas dan ikhlas melayani. Sama sekali tidak terlihat ada beban pada dirinya.
Berbagai pertanyaan yang ditujukan kepadanya dijawab dengan jelas.
Disertai senyum yang membuat senang lawan bicaranya.
Selama bersama Trian, saya banyak belajar. Pria bernomor punggung 48 itu selain ramah dan semangat bekerja sekira 10 jam (17.00 – 04.00), juga selalu optimis menjalani hidup.
Terkesan sekali
Terakhir, saat Jumat sampai Minggu (29-31/5/2026) di Surabaya saya sekeluarga banyak belajar kepada Sertu Sentot.
Bapak dari Hilmalia Kamila dan Luthfi Dzulfikar Huda itu optimal melaksanakan tugasnya.
Sentot yang sehari-hari bertugas sebagai Babinsa di Koramil Gubeng Kota Surabaya, mendapat tugas dari Dandim 0830/Surabaya Kolonel Inf Bambang Raditya untuk melayani saya sekeluarga.
Sejak pertama kali ketemu telah menunjukkan kesan yang positif.
Saat kami bersama, Sentot cerita banyak pengalamannya selama jadi prajurit.
Pernah bertugas di Binjai, Cimahi, Makassar, dan Surabaya. Ia menjalaninya dengan penuh rasa syukur dan sukacita.
Buah dari semua itu, suami dari Imas Siti Fatimah tersebut mendapat amanah melayani tujuh Dandim yang pernah tugas di Surabaya.
Mereka adalah Kolonel Inf Dodit Lumwartono, Kolonel Inf Lukman Hakim, Kolonel Inf La Ode Muhammad Nurdin, Kolonel Arm M Hadir, Kolonel Inf Agus Faridianto, Kolonel Inf Yusan Riawan, dan Kolonel Inf Didin Nasrudin Darsono.
“Saya sangat bersyukur dan beruntung sekali pernah melayani para komandan itu. Semuanya baik dan perhatian pada anggota. Saya banyak belajar kepada mereka,” ucap Sentot.
Pria yang berasal dari Surabaya itu sangat cekatan. Setiap saya membutuhkan pertolongan, dengan cepat membantu.
Saya sekeluarga sangat puas dengan layanan Sentot. Kami terkesan sekali.
Dr Aqua Dwipayana
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional