Selagi kehidupan ada di dunia ini, permasalahan selalu ada pada manusia. Tuhan telah memberikan akal pada manusia untuk berpikir.
Berpikir merupakan upaya manusia dalam memecahkan masalah. Suriasumantri (2003) menyatakan bahwa berpikir merupakan kegiatan akal untuk memperolah pengetahuan yang benar.
Secara garis besar, berpikir dapat dibedakan antara berpikir alamiah dan berpikir ilmiah. Berpikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan kehidupan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya, sedangkan berpikir ilmiah adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan cermat.
Dalam kehidupan sehari-hari, acap kali kita mendengar istilah “salah nalar” atau juga ada pernyataan “logika terbalik”.
Penalaran adalah suatu bentuk pemikiran. Artinya, jika dikatakan salah nalar berarti ada yang salah dalam berpikir.
Sementara, logika merupakan salah satu teknik untuk meneliti suatu penalaran. Logika digunakan untuk melakukan pembuktian, dan logika tidak bisa dihindarkan dalam proses hidup mencari kebenaran.
Setiap orang selalu berusaha menemukan kebenaran. Banyak cara telah ditempuh untuk memperoleh kebenaran.
Plato (filsuf Yunani) pernah berkata: “Apakah kebenaran itu? Filsuf Inggris, Francis Herbert Bradley menjawab; “Kebenaran itu adalah kenyataan”, tetapi bukanlah kenyataan (dos sollen) itu tidak selalu yang seharusnya (dos sein) terjadi.
Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk ketidakbenaran (keburukan). Berbicara tentang kebenaran dan kenyataan tersebut, dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Masa pandemi (Covid-19) dapat diambil sebagai gambaran realita tersebut. Seperti yang baru-baru ini ramai diberitakan bahwa seorang pemimpin dianggap menciptakan kerumunan.
Padahal, kerumunan pada masa pandemi virus (covid-19) ini sangat dilarang atau terlarang untuk diciptakan, baik sengaja maupun tidak disengaja.
Seperti ramai diberitakan, di media sosial beredar video yang menunjukkan kerumunan warga saat seorang presiden tiba di sebuah daerah.
Dalam video tersebut, diperlihatkan aksi kerumunan massa yang menyambut kedatangan presiden. Lalu, tampak presiden berhenti dan melemparkan beberapa suvenir kepada kerumunan massa sehingga kerumunan massa semakin ramai.
Tak ada social distancing. Setelah video viral tersebut, pihak istana pun berargumen bahwa kejadian tersebut adalah spontanitas presiden untuk menghargai antusias memasyarakat (dilansirdari media online CNBC Indonesia).
Dari pernyataan tersebut teori kebenaran dipakai oleh pihak istana dengan menggunakan logika, yakni spontanitas sesuai dengan kenyataan.
Namun, seperti yang diungkapka nfilsuf Bradley, kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk ketidakbenaran.
Artinya, bahwa kenyataan di masa pandemi tidak boleh ada kerumunan, seharusnya seorang pemimpin bisa menunjukkan contoh pada masyarakat untuk tidak menciptakan kerumunan.
Karena logikanya, seseorang yang dicintai atau disukai, seperti pemimpin, ulama, atau artis sekalipun akan selalu dinantikan kehadirannya.
Kehadiran penggemar atau pengagum itulah yang akan berpotensi menimbulkan kerumunan. Padahal, keramaian atau kerumunan tanpa jarak sangat dilarang untuk dilakukan pada masa sekarang karena akan berurusan dengan aparat penegak hukum.
Masalah kebenaran yang disampaikan oleh pihak istana di atas, dilihat dari perspektif filsafat ilmu, dapat termasuk teori performatif (the performatif theory of truth).
Dalam fase kehidupan, manusia kadang kala harus mengikuti kebenaran performatif. Pemegang otoritas yang menjadi rujukan bisa pemerintah, pemimpin agama, pemimpin adat, pemimpin masyarakat, dan sebagainya.
Masyarakat yang mengikuti kebenaran performatif tidak terbiasa berpikir kritis dan rasional. Biasanya kurang inisiatif dan inovatif, karena terbiasa mengikuti kebenaran pemegang otoritas.
Pada beberapa daerah yang masyarakatnya masih sangat patuh pada adat, kebiasaan ini seakan-akan kebenaran mutlak.
Mereka tidak berani melanggar keputusan pemimpin adat dan tidak terbiasa menggunakan rasio untuk mencari kebenaran.
Sekali lagi, kebenaran itu adalah kenyataan, tetapi bukanlah kenyataan itu tidak selalu yang seharusnya terjadi. Semoga.
Dr. Darwin Effendi, M.Pd.
Dosen Universitas PGRI Palembang