Amma ba’du,
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Dari mimbar Jumat ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada jamaah sekalian. Marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.
Takwa yang tidak tunduk kepada tekanan kekuasaan, tidak tergadaikan oleh kepentingan, dan tidak membisu di hadapan kebathilan, meskipun kebathilan itu dibungkus dengan kekuatan dan pengaruh.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Hari ini kita hidup di zaman yang penuh fitnah. Bukan sekadar fitnah biasa, tetapi fitnah yang terstruktur, sistematis, dan dipelihara oleh kekuasaan.
Kita menyaksikan bagaimana perilaku umara (penguasa) yang melakukan kemungkaran secara terang-terangan, namun anehnya, tindakan tersebut kemudian ditutupi, dibela, bahkan dipoles dengan retorika seolah-olah bukan sebuah dosa.
Kita disuguhkan berbagai fenomena yang sangat meresahkan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kemungkaran dilakukan secara terang-terangan.
Lalu dibungkus dengan narasi. Dipoles dengan bahasa. Dan disahkan dengan legitimasi.
Yang haram tidak lagi diakui sebagai haram.
Yang salah tidak lagi disebut salah.
Perbuatan yang nyata-nyata menyimpang seperti mengonsumsi minuman keras tidak diakui sebagai dosa, dengan mengubah narasinya secara halus menjadi sekadar “minum jus apel”. Ini bukan sekadar kebohongan biasa, tetapi pembodohan publik.
Bagaimana mungkin seorang kepala negara menampakkan perbuatan yang diharamkan Allah, seperti meminum minuman keras di hadapan publik internasional bersama pemimpin negeri lain, lalu ada pejabat agama yang menutupinya dengan dalih yang mengaburkan kebenaran ?
Begitu pula dengan perkara yang menyangkut harta publik seperti anggaran Kurban yang bersumber dari APBN dianalogikan secara paksa seolah-olah itu adalah pemanfaatan baitul mal yang sah secara Syar’i.
Harta negara yang seharusnya amanah rakyat, dipermainkan dengan istilah agama agar tampak suci. Seolah-olah semua bisa dibenarkan selama ada label syar’i yang dipaksakan.
Inilah kenyataan yang patut kita renungkan bersama. Ketika umara melakukan kemungkaran, dan sebagian ulama justru membenarkannya, maka fitnah akan meluas, kebenaran menjadi kabur, dan umat berada dalam kebingungan.
Namun, yang jauh lebih memprihatinkan dari semua itu adalah ketika agama digunakan untuk membenarkan kesalahan itu.
Sementara sebagian ulama, cendekiawan, atau tokoh agama yang justru ikut membenarkan, mencari-cari pembenaran, atau setidaknya memilih diam dan tidak berani meluruskan.
Padahal, tugas utama Ulama adalah menjadi pewaris Nabi yang menyampaikan kebenaran, bukan menjadi bamper pelindung bagi penyimpangan kekuasaan.
Ketika ada tokoh agama yang berdiri bukan sebagai penegak kebenaran, tetapi sebagai pembenaran kekuasaan.
Ketika mimbar tidak lagi menjadi tempat Amar Ma’ruf Nahi Munkar, tetapi menjadi alat stabilisasi kepentingan. Disitulah Agama kehilangan ruhnya, dan umat kehilangan arah tujuannya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Kondisi penuh fitnah seperti ini mengingatkan kita pada peringatan Rasulullah ﷺ tentang fitnah di akhir zaman, sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat yang mulia Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallāhu ‘anhu.
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَان رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرِّ فَجَاءَنَااللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرِّ قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرِ قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ قَلْتُ وَمَادَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرِّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ فَمَاتَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلُ تِلكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: “Dahulu manusia sering bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik, tetapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk karena aku takut keburukan itu akan menimpaku.”
Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kita dahulu berada dalam kejahiliyaan dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini (Islam) kepada kita. Apakah setelah kebaikan ini akan ada lagi keburukan?”
Rasulullah ﷺ menjawab: “Ya.”
Aku bertanya lagi: “Apakah setelah keburukan itu akan datang lagi kebaikan?” Beliau menjawab: “Ya, namun di dalamnya ada asap (kabut asap/kerusakan yang samar).”
Aku bertanya: “Apakah asap itu, wahai Rasulullah ?”
Beliau menjawab: “Adanya suatu kaum yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku, dan berjalan bukan di atas sunnahku. Engkau mengenali mereka (karena ada kebaikan pada mereka), namun engkau juga mengingkari mereka (karena kemungkaran yang mereka buat).”
Aku bertanya lagi: “Apakah setelah kebaikan itu akan ada keburukan lagi?” Beliau menjawab: “Ya, yaitu para penyeru di pintu-pintu neraka Jahanam. Barangsiapa yang memenuhi seruan mereka, maka mereka akan melemparkannya ke dalam neraka.”
Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sebutkanlah sifat-sifat mereka kepada kami!” Beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang berasal dari kulit kita (bangsa kita) dan berbicara dengan bahasa kita.”
Aku bertanya: “Lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menjumpai zaman tersebut?” Beliau menjawab: “Berpegangteguhlah pada jamaah kaum muslimin dan pemimpin mereka.”
Aku bertanya lagi: “Bagaimana jika mereka tidak memiliki jamaah dan tidak pula memiliki pemimpin?” Beliau menjawab: “Maka jauhilah semua kelompok (yang menyimpang) itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu dalam keadaan yang demikian.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jamaah yang dirahmati Allah.
Perhatikan sabda Nabi SAW ini. Beliau mengabarkan bahwa akan datang suatu masa, ketika itu:
• Ada kebaikan, tetapi bercampur dengan “dakhon” (kekeruhan)
• Ada orang-orang yang berbicara atas nama Agama, tetapi menyimpang dari petunjuk Nabi, bahkan membenarkan kebathilan.
• Bahkan akan muncul para penyeru di pintu-pintu Neraka.
Yang paling menggetarkan adalah sabda beliau: mereka dari golongan kita, berbicara dengan bahasa kita.
Artinya, mereka bukan orang asing. Mereka bisa jadi tampil sebagai tokoh agama, pejabat, menteri, pemimpin ormas.
Namun hakikatnya, mereka menyeru ke arah jalan yang menyimpang dari kebenaran.
Akibatnya, umat sering kali terkecoh dan sulit membedakan mana ulama yang tulus dan mana ulama yang oportunis.
Inilah potret yang sangat relevan dengan realitas hari ini. Ada figur-figur yang tampil di panggung publik sebagai penuntun umat, berbicara fasih atas nama agama, namun fatwa dan petunjuknya justru melenceng dari syariat.
Mereka dengan sengaja mencampuradukkan antara yang haq dan yang bathil, serta melegitimasi keburukan penguasa dengan dalih-dalih agama yang dipelintir.
Ini bukan sekadar kesalahan kecil. Ini penyimpangan arah.
Agama masih disebut, tetapi isinya sudah berubah. Sunnah masih dikutip, tetapi maknanya dipelintir.
Nabi ﷺ menyebut mereka sebagai “Penyeru di pintu-pintu Jahanam.”
Kalimat ini bukan berarti mereka mengajak manusia ke neraka secara terang-terangan. Tidak.
Mereka menyeru kepada jalan yang dibungkus dengan narasi kemaslahatan, kedamaian, atau ketaatan yang semu, padahal ujungnya menghancurkan iman dan menyesatkan umat.
Mereka tidak datang dengan wajah kasar.
Mereka datang dengan bahasa yang indah.
Dengan istilah maslahat, moderasi, stabilitas, dan kepentingan bangsa.
Namun hakikatnya mereka menyeret umat menjauh dari kebenaran.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullāh,
Hari ini kita menyaksikan bagaimana.
Kebenaran dianggap ancaman.
Kejujuran dianggap gangguan. Dan keberanian dianggap pembangkangan.
Sebaliknya, kebohongan dianggap diplomasi.
Pembenaran dianggap kebijaksanaan. Dan diam dianggap kedewasaan.
Inilah zaman ketika standar telah dibalik. Padahal Rasulullah ﷺ telah bersabda:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Jihad yang paling afdhal adalah berkata benar di hadapan pemimpin zhalim.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Tetapi hari ini, berkata benar justru dianggap berbahaya.Sementara membenarkan yang salah justru diberi panggung.
Jika keadaan ini terus dibiarkan, maka yang rusak bukan hanya sistem, tetapi akhlak umat.
Khutbah Kedua
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Dalam kelanjutan dialog dalam hadits tersebut, Hudzaifah bertanya mengenai solusi konkret.
“Apa yang engkau wasiatkan kepadaku jika aku menemui masa itu ?”
Rasulullah ﷺ memberikan panduan utama, yaitu untuk tetap merapatkan barisan bersama jamaah kaum muslimin dan pemimpin mereka yang teguh di atas kebenaran.
Namun, jika kondisinya telah begitu rusak, di mana tidak ada lagi jamaah yang lurus dan tidak ada sistem kepemimpinan yang menegakkan syariat Allah—Nabi ﷺ memberikan peringatan yang sangat keras dan ekstrem:
Ketika kebenaran sulit ditemukan, ketika kepemimpinan tidak lagi berpihak pada keadilan, ketika kelompok-kelompok saling menyesatkan.
Maka Nabi ﷺ memerintahkan: “Jauhilah semua itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon hingga mati.”
Ini adalah perintah menjaga prinsip, bukan mengikuti arus.
Jamaah yang dimuliakan Allah.
Pesan pamungkas dari Rasulullah ﷺ ini mengandung makna spiritual yang sangat mendalam bagi kita yang hidup di akhir zaman:
1. Jangan pernah larut dalam arus kebathilan, meskipun kebathilan itu tampak mendominasi dan dianggap sebagai tren yang lumrah.
2. Jangan ikut membenarkan kesalahan, hanya karena takut pada tekanan struktural atau sekadar ikut-ikutan suara mayoritas.
3. Peliharalah kesucian iman dan integritas diri, walau dalam kesendirian dan keterasingan.
Hari ini, tantangan terbesar kita bukan sekadar eksistensi kemungkaran, melainkan adanya upaya sistematis untuk melakukan normalisasi kemungkaran.
Tantangan kita bukan lagi sekadar kekeliruan, melainkan mobilisasi pembenaran terhadap kekeliruan tersebut.
Oleh karena itu, sikap seorang mukmin yang cerdas dan bertakwa di tengah badai fitnah ini adalah:
• Tetap teguh mengenali dan memegang yang haq sebagai kebenaran.
• Tetap berani menyatakan yang batil sebagai sebuah kebatilan, tanpa ragu.
• Tidak mudah silau atau tertipu oleh retorika bahasa dan pencitraan visual.
• Serta yang paling utama: tidak menggadaikan tuntunan agama demi meraup remah-remah keuntungan dunia.
Sikap seorang mukmin di zaman seperti ini harus tegas:
• Jangan tertipu oleh bahasa yang indah tetapi menyesatkan.
• Jangan ikut arus pembenaran kebathilan.
– Jangan menjual agama demi kedekatan dengan kekuasaan.
• Jangan diam ketika kebenaran diinjak.
Karena diamnya orang-orang baik adalah kemenangan bagi kebathilan.
Dan ingatlah:
• Tidak semua yang legal itu halal.
• Tidak semua yang disahkan itu benar.
• Dan tidak semua yang populer itu diridhai Allah.
Jangan sampai kita menjadi generasi yang:
• Melihat kemungkaran, tapi menganggapnya biasa.
• Mendengar kebohongan, tapi menganggapnya wajar.
• Dan akhirnya kehilangan sensitivitas terhadap dosa.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullāh,
Jika kita tidak mampu mengubah kerusakan, maka jangan sampai kita menjadi bagian dari kerusakan itu.
Jika kita tidak bisa bersuara lantang, maka jangan sampai kita ikut membenarkan.
Jika kita lemah, maka setidaknya kita tetap lurus, sebagaimana do’a yang diajarkan Rasulullah SAW:
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، وَلَا تَجْعَلْهُ مُلْتَبِسًا عَلَيْنَا فَنَضِلَّ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Allah tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan bantulah kami untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami yang batil itu batil dan bantulah kami untuk menjauhinya. Janganlah Engkau menjadikannya samar di hadapan kami sehingga kami tersesat. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.
Irfan S Awwas
Ulama dan Pengamat Politik Nasional
Redaktur : Abdul Halim.