Filosofi Mengayuh Becak

Becak? Ya, becak! Suatu sarana transportasi angkutan umum tradisional yang sangat legendaris dari masa ke masa di seantero negeri.

Angkutan roda tiga dengan tenaga manusia, tukang becak yang bernama Abang Becak atau Mamang Becak atau Mas Becak atau Pak Becak atau apapun julukan kesayangannya itu pastilah sangat melekat di dalam kenangan, memori masa-masa lampau setiap kita.

Entah pada saat itu ketika harus tergantung pada sebuah becak untuk pulang-pergi ke sekolah di masa kecil kita.

Turut mengantar Ibu atau Nenek untuk berbelanja ke pasar, menikmati romantisnya malam minggu di masa-masa pacaran dari rumah kekasih menuju bioskop kesayangan.

Ataupun tatkala kita di pagi buta, ‘clingak-clinguk’ tiba pertama kali di Stasiun Tugu, Malioboro untuk menyambut kuliah di UGM seraya bingung harus memilih becak mana yang akan kita tumpangi menuju tempat kost yang baru.

Turis lokal maupun interlokal juga punya kenangan manis menyusuri seluk-beluk setiap sudut kota wisata dengan layanan servis kayuhan becak plus keramahan sang ‘kusir’ becak itu.

Becak pastilah ada pada kenangan atau memori setiap kita, baik dari Presiden, Menteri, Anggota parlemen, Jenderal, Dirjen, Gubernur, Rektor, pengusaha, PNS/ASN, mahasiswa,pelajar hingga masyarakat biasa dalam perjalanan historis hidupnya.

Moda transportasi roda tiga energi napas manusia ini pernah sangat berjasa mengisi lembaran sejarah sendi-sendi kehidupan ekonomi masyarakat beberapa dekade terakhir.

Sang Abang becak dan becaknya itu seolah siap turut menghantarkan siapa saja untuk menuju pada setiap kesuksesan masa depan dalam hidup ini.

Sontak, ku menjadi teringat akan sebuah lagu di masa kecilku.
“Saya mau tamasya berkeliling-keliling kota, hendak melihat-lihat keramaian yang ada. Saya panggilkan becak, kereta tak berkuda, becak becak, tolong bawa saya.”

Dan sang tukang becak yang pernah berjasa itu, kini menghilang entah kemana. Ironis memang ya, semoga saja kita doakan bersama keluarganya, anak-istri dan cucu-cucunya kini senantiasa sehat dan sejahtera adanya.

Seperti halnya dengan betapa kerasnya kompetisi dalam kehidupan ini, sang penarik becak sesungguhnya adalah sebuah contoh gambaran atau cermin bagi kita untuk sebuah nilai perjuangan.

Perjuangan bagi diri dan keluarganya dan bagi semangat untuk memberikan pelayanan yang tulus bagi pelanggan setianya.

Baginya, setiap helaan tarikan napasnya, adalah secercah harapan untuk hari esok.

Harapan yang baginya adalah satu-satunya keteguhan imannya pada Yang Maha Kuasa.

Maka tatkala hidup ini laksana kita tengah menarik becak, teruslah mengayuh dan melaju walau dengan tenaga yang melemah dan napas yang kian terengah sekalipun.

Dan ketika kita makin melemah, tak bertenaga dan napas pun seolah hampir sirna, janganlah menyerah.

Berhentilah untuk menghela dan mengatur napas sejenak.

Kemudian melaju, mengayuhlah kembali perlahan dan perlahan, seraya tetap yakin dan percaya akan sampai di titik tujuan, laksana menang dalam sebuah pertempuran.

Sebuah pertempuran yang harus dilandasi dengan semangat untuk tetap tangguh, optimis dan positif.

Filosofi mengayuh becak, sebuah filosofi untuk sebuah perjuangan pantang menyerah.

Abang Becak, I miss you so much.

Salam Abang Becak

HD. Febiyanto
Motivator Strategi Komunikasi – Pemerhati Pengembangan Karakter Kebangsaan & Kenegarawanan

Related posts

Sangat Bersyukur Sehari Jalan ke Berbagai Kota dan Lancar

Jumat Berselimut Sholawat

Ijazah Antara Ghibah dan Berbantah-bantah