Ikan Kembung

When I was young; not just a young but a little boy, maybe around 7-9 years old.

Ketika itu saya sedang makan malam bersama di rumah saya yang sederhana, dengan kedua orang tua saya dan adik saya serta paman saya.

Dari kecil saat kami makan malam bersama dengan eyang kami, saya sudah dibiasakan untuk tidak mengambil makan sebelum para ‘senior’ mengambil makanan dan lauknya (that’s my first courtesy lesson that I have in beginning of my life).

Kembali ke rumah kami yang sederhana itu. Makanan kami kala itu pun sederhana saja. Saat itu kami sedang duduk mengelilingi meja makan dan makan malam dengan menu ikan kembung.

Dan yang bagi kami anak-anak kecil saat itu. Ikan kembung adalah ikan yang kurang kami senangi.

But di meja makan saat itu only ikan kembung dan sayur lodeh and sambal plus kerupuk. And of course tahu tempe. And a little bit lalapan.

Seperti biasa, saya menunggu orang tua saya untuk mengambil makanannya dan kemudian tiba giliran paman saya itu yang duduk persis di sebelah kanan saya mengambil makanannya, lengkap seperti menu yang saya sebutkan di atas.

Namun saat dia mengambil lauk ikan kembung, dia pun mengambilkannya untuk saya. Lengkap seperti makanan yang dia ambil untuk dirinya.

Dan saat itu saya tidak mengerti dan aneh kenapa dia berbuat seperti itu. So lesson number two, we have to care each others. Ketika itu saya berusaha menikmati ikan kembung yang ada durinya itu.

Sembari melirik paman saya itu yang makan dengan lahapnya, saya paksakan diri untuk memakan ikan itu yang teramat sulit bagi saya ketika itu.

Namun, karena makan ikan itu telah menjadi keseharian kami, akhirnya makan ikan pun sudah menjadi kebiasaan yang ternyata sampai sekarang saya menjadi sangat menikmatinya.

Hasilnya saat ini saya telah menjadi penikmat makanan dari kind of ikan, not only ikan kembung..
Lesson number three, apapun yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita, we have to syukuri dan nikmati.

Karenanya, selamat menjalankan peran, tugas, fungsi atau apapun namanya itu yang diberikan oleh Sang Pemilik Jagad ini. Syukuri dan nikmatilah peran dan tugas itu. Karena sesungguhnya tugas itu adalah kehormatan.

R. Ario Hudoyo

Operation Center Garuda Indonesia

Related posts

Ironi Pensiun dan Pesangon Pekerja Media Televisi

Fitnah Akhir Zaman, Saat Umara Menyimpang dan Ulama Membenarkannya

Shalat Munfarid pada Maghrib, Isya, dan Subuh: Apakah Bacaan Al-Fatihah dan Surat Dibaca Jahr atau Sirr ?