Lingkungan dan makhluk hidup merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dan saling berkaitan satu sama lain. Saat ini kesadaraan untuk peduli lingkungan mulai berkurang.
Padahal seperti yang kita ketahui, jika makhluk hidup sangat bergantung pada lingkungan dan jika tidak dijaga kelestariannya dapat merusak ekosistem alam. Tentunya yang akan merasa rugi masyarakat yang tinggal di dalam lingkungan tersebut.
Untuk menyikapinya, maka dibuatlah Gerakan Sadar Lingkungan (Gasal). Tujuannya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Gasal dapat dilakukan melalui berbagai cara. Contoh terkecil misalnya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Salah satu wilayah yang sedang giat mempraktekkan gasal adalah warga RW 07 Kelurahan Alam Jaya, Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang. Demi memaksimalkan Gerakan Sadar Lingkungan ini, Ketua RW 07 Rudi Anko dan juga Ketua Gasal 07 Ngasip Priyono sebagai tokoh masyarakat selalu memotivasi masyarakat dengan penuh semangat.
“Kami mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai pentingnya Gerakan Sadar Lingkungan dan terus memberikan semangat kepada masyarakat agar lebih produktif. Kebetulan ada tanah fasum seluas 6000 meter. Jadi kita ajak masyarakat sekitar untuk aktif berperan serta mengelola tanah ini. Selama pandemi banyak orang yang melakukan kegiatan dari rumah saja. Jadi kami mengajak warga untuk bercocok tanam,” ujar Ketua Gasal 07, Ngasip Priyono.
Baru-baru ini, Gasal 07 bekerja sama dengan Komunitas Tunggak Semi Tangerang mensosialisasikan tentang tanaman bonsai kepada masyarakat. Hal ini merupakan salah satu upaya melakukan edukasi Gerakan Sadar Lingkungan.
Di area depan terlihat ada bangunan saung yang merupakan sumbangan dari salah satu warga bernama Purnadi. Biasanya saung tersebut digunakan sebagai tempat bersantai warga. Beberapa tanaman hias, seperti bonsai yang menghiasi seputaran saung menambah teduh suasana.
Di depan saung, terlihat deretan tanaman buah naga yang tertata rapi. Tanaman buah naga terbagi menjadi dua jenis, yakni buah naga merah dan buah naga yang dalamnya berwarna putih.
Di samping tanaman buah naga, kehadiran TOGA (Tanaman Obat Keluarga) semakin menyempurnakan Gerakan sadar lingkungan ini.
“Kami selalu berkordinasi dengan pemerintah kota. Tanaman buah naga ini juga sumbangan dari bapak walikota Tangerang. Kami ingin mengupayakan 100 jenis tanaman TOGA (Tanaman Obat Keluarga). Sebagian tanaman TOGA tersebut merupakan bantuan dari kelurahan dan kecamatan. Ibu-ibu kader juga turut berperan serta dan masyarakat juga sudah banyak yang menanam Toga di rumah masing-masing,” terang Rudi Anko, selaku Ketua RW 07.
Pengelolaan lahan Gerakan Sadar Lingkungan (Gasal) RW 07 diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat melalui kelompok yang sudah dibagi berdasarkan masing-masing RT dan harus dikelola berdasarkan fungsinya. Biasanya warga ramai berkumpul untuk mengurus tanaman sekitar jam 9, jam 2 siang dan jam 7 malam.
Warga diberikan kebebasan sepenuhnya dalam memilih jenis tanaman yang akan dirawat. Terlihat berbagai jenis sayuran seperti kangkung, bayam, dan banyak lagi jenisnya berjajar rapi. Warga juga boleh berekspresi untuk mempercantik wilayahnya masing-masing. Misalnya dengan menghias batasan memakai ban-ban bekas atau pot yang diberi cat warna-warni.
Tidak hanya melakukan kegiatan bercocok tanam, masyarakat juga diberikan fasilitas untuk budidaya ikan lele, nila dan magot (sejenis belatung untuk makanan ikan).
“Biasanya pelatihan ternak lele diadakan di aula. Setelah dapat ilmunya, baru dipraktekkan langsung di kolam-kolam ini. Di dalam kolam ini ada sekitar 2000 ekor ikan lele dan ikan nila,” jelas Ngasip sambil menunjukkan deretan kolam yang di dalamnya berisi ikan lele dan nila. Masing-masing RT melakukan iuran sebesar 20.000 rupiah setiap bulan untuk keperluan token listrik.
Kegiatan Gerakan Sadar lingkungan ini tentu sangat bermanfaat. Selain bisa mengisi waktu dengan kegiatan positif, ada lagi keuntungan yang bisa diberikan kepada masyarakat sekitar.
“Biasanya kami info ke warga jika ada sayur, buah atau ikan lele yang akan siap panen. Siapa yang mau beli nanti di data dan harga jual yang diberikan tentunya di bawah harga pasaran pada umumnya,” kata Ngasip.
Selain menjadikan lahan fasum sebagai pusat bercocok tanam dan beternak, Gasal 07 juga memiliki cita-cita yang diharapkan dapat terealisasi dalam waktu dekat.
“Kami punya impian, nantinya di fasum ini bisa ada fasilitas taman bermain, spot-spot untuk selfie, dan juga tempat untuk belajar serta pelatihan,” pungkas Ngasip.