Bulan Suci Ramadhan, Momentum Rekonsiliasi untuk Saling Tulus Memaafkan

Masa yang telah lalu atau masa lampau adalah pengalaman yang pernah terjadi, masa kini atau hari ini adalah kenyataan yang sedang terjadi dan masa depan, hari esok adalah harapan atas tantangan yang akan terjadi.

Rekonsiliasi, berdamai atau islah adalah suatu upaya luhur untuk secara tulus menarik pelajaran pahit dan kelam di masa lalu dengan sebuah tekad akan komitmen untuk bersepakat tidak mengulanginya kembali.

Sikap saling menghormati, menghargai, mempercayai secara personal antar pribadi maupun satu sama lain antar anggota masyarakat adalah dasar sikap-sikap yang harus diperbaharui dan dipulihkan walau harus kita akui bahwa usaha rekonsiliasi tersebut pasti akan berhadapan dengan tembok-tembok memori kolektif yang penuh dengan stigma dan trauma akan masa lalu yang buruk itu.

Terkadang pula memori kolektif itu disertai oleh pemaksaan dendam kolektif yang tentunya akan sangat menghalangi tumbuhnya sikap saling memahami, sikap yang menjunjung tinggi kesalingpahaman satu sama lain, antar pribadi, antar kelompok masyarakat maupun dalam konteks kita hidup berbangsa dan bernegara.

Terlebih dalam kita hidup berbangsa dan bernegara, sikap memaafkan dan mengampuni dalam sebuah prasyarat adanya komitmen untuk berdamai, memang tidak mudah dan sangatlah sulit untuk diwujudkan karena perjalanan historis bangsa dan negara sejak jaman kemerdekaan yang terkadang tidak lepas diwarnai oleh kekerasan, perlawanan kepada hukum dan pelanggaran terhadap hak-hak azasi manusia (HAM).

Oleh sebab itu pengikatan terhadap komitmen bersama seluruh kekuatan bangsa untuk menatap hari esok lebih baik yang penuh dengan kedamaian, terbebas dari rasa dendam dan kebencian adalah prasyarat untuk adanya sebuah perdamaian, islah, rekosiliasi nasional secara tulus-sejati.

Penanaman atas diri kita pribadi lepas pribadi sebagai insan bangsa besar ini untuk memiliki pandangan batiniah bahwa pada dasarnya setiap manusia adalah baik, sebelum benar-benar ditemukan dalam berbagai pembuktian bahwa telah berperangai yang tidak baik pada sesamanya.

Menatap masa depan bangsa dengan semangat perdamaian untuk makin merekatkan semangat persatuan dan kesatuan seluruh kekuatan bangsa dengan bayang-bayang memori kolektif atas stigma dan trauma masa lalu, memanglah membuat kita mengalami kondisi dilematis tarik-menarik antara ‘memaafkan’ dan ‘tidak melupakan’, sampai pada saatnya kita bisa melalui pergumulan batin itu dengan mencapai kesalingpengertian atas posisi masing-masing dan kesepahaman atas peliknya persoalan yang yang telah terjadi itu, menuju pada sikap saling hormat dan percaya.

Pembiaran terhadap iklim dendam dan balas dendam hanyalah akan menguras dan menghabiskan energi nasional dan membawa rakyat, masyarakat luas kepada keputusasaan.

Maka tak ada jalan lain kecuali harus diupayakan dengan sangat sungguh-sungguh untuk mendamaikan dan menyatukan kembali semua pihak yang pernah terlibat dalam konflik apapun yang pernah terjadi di masa lalu.

Perdamaian dan penyatuan antara sesama anak-bangsa besar ini adalah suatu langkah pilihan yang tak mungkin dihindari.

Hanya berangkat dari sebuah ketulus-sejatian hatilah yang akan sanggup melahirkan sebuah kebesaran jiwa untuk bersedia menjunjung tinggi nilai keutamaan-keutamaan atas kepentingan masyarakat luas, bangsa dan negara, jauh diatas kepentingan pribadi, kelompok maupun golongan.

Sebuah tindakan besar pasti akan sangat membutuhkan tekad yang besar pula. Sebuah tekad untuk berani berkorban demi masyarakat, bangsa dan negara.

Penegasan atas garis pemisah antara masa lalu dan yang akan datang memang tidak bisa serta-merta hanya dengan sekedar melupakan sama-sekali peristiwa yang tidak baik di masa lalu begitu saja, yang justru akan menghasilkan sikap permisif, lalai dan gagal menarik hikmah pembelajaran dari sejarah dan akan sangat membahayakan hari depan, masa-masa mendatang yang akan mengikutinya.

Sikap saling terbuka untuk tulus sepenuh-hati memaafkan adalah sebagai sebuah pilihan, opsi yang sangat dimungkinkan paling logis dan rasional untuk bisa diambil bagi sebuah permulaan yang baik, elok dan mengagumkan atas sebuah lembaran kehidupan nasional, kehidupan bersesama warga bangsa yang baru, yang sejauh-mungkin bisa perlahan terlepas dari deraan trauma masa silam.

Suatu garis pembatas demarkasi yang memisahkan antara masa lalu, kini dan hari esok, masa yang akan datang, haruslah ditarik dengan garis yang tegas dan jelas serta tidak boleh dilangkahi.

Setiap pelanggaran yang akan ada di masa yang akan datang, harus dikenakan dengan tindakan berdasar hukum yang berlaku secara tegas dan tidak ada kompromi.

Komitmen rekonsiliasi secara sepenuh-hati di Bulan Suci Ramadhan yang penuh dengan berkah dan ampunan-Nya ini adalah momentum yang sangat tepat untuk kembali merajut komitmen saling berdamai, sebuah komitmen untuk saling memaafkan secara tulus-sejati, walaupun secara emosional-psikologis tentunya tidak bisa terlupakan begitu saja.

Namun, terlebih kita harus tulus-sejati untuk saling mengampuni satu sama lain. “…Padamkanlah api amarah, dendam dan kebencian dengan Air Cinta Kasih….” (KH.Abdurrahman Wahid/Gus Dur).

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1442 H di Bulan Suci Penuh Berkah dan Ampunan-Nya ini kepada seluruh saudaraku sebangsa se-Tanah Air yang menjalankannya. Mohon Maaf Lahir & Batin. Salam Silaturahim

HD. Febiyanto

Motivator Komunikasi Strategis – Pemerhati Pengembangan Karakter Kebangsaan & Kenegarawanan

Related posts

Umur yang Terukur, ‘Happy Milad Abah Anies’

Agar Clear, Sekarang Saja Teddy Diperiksa

Meniti Jalan Lurus Menuju Mardhatillah, Dari Iman Menuju Sistem