Agar Clear, Sekarang Saja Teddy Diperiksa

Bertahan dengan keyakinan atas pernyataan soal perilaku seksual Seskab Teddy Indra Wijaya dan kesiapan jika proses hukum harus dilalui, adalah sikap ksatria Prof Amien Rais dalam spirit untuk membangun budaya Istana yang bersih dan bermoral.

Tidak ada yang salah dengan niat dan upaya itu. Pak Amien Rais pun mengangkat masalah ini sekedar mengartikulasikan apa yang sudah dan sedang berkembang di masyarakat.

Hoaks, fitnah, atau pencemaran yang dituduhkan baik oleh Menkomdigi, MenHAM, atau tokoh lain seperti Hendropriyono dan Dudung Abdurahman tidaklah menjawab masalah.

Apalagi model Dudung yang membela Teddy atas sikap hormat dan sopan kepada dirinya.

Ia lupa kurang hormat dan akrab apa Teddy gelendotan kepada Menteri PKP Maruarar Sirait sebagaimana dalam tayangan media.

Amien Rais dan Tim tentu siap berperang hukum di Pengadilan, membawa ketertutupan ke ruang yang terbuka, dari remang-remang ke tempat terang, menjawab normal atau abnormal, lurus atau menyimpang.

Uji forensik alat bukti Teddy bersama-sama.

Kasus ini bukan ranah privat tapi menyangkut dugaan perilaku menyimpang penyelenggara negara, pemimpin bangsa yang harusnya menjadi teladan untuk jutaan kepala.

Mempertanyakan bukanlah pelanggaran HAM. Begitu juga dengan penyuka sesama jenis bukan HAM.

Hak Asasi Manusia adalah hak yang diberikan tuhan kepada manusia dan jika hak itu hilang, maka hilang kemanusiaan.

Gay atau lesbian bukan HAM tapi penyimpangan. Jika hilang tidak hilang kemanusiaan.

Bahkan tanpa gay jadilah ia manusia.

Penyuka sesama jenis dalam agama dinilai lebih hina daripada hewan.

Hewan tidak ada yang gay atau lesbian.

Tantangan Pak Amien untuk pembuktian terbuka di Pengadilan sangatlah bagus.

Dokter spesialis dapat dihadirkan apakah psikiater, spesialis andrologi, internis, urologi, atau lainnya.

Ini untuk menjawab jelas agar publik tidak bergosip, menduga-duga, dan menghentikan budaya tidak jujur seperti skandal ijazah palsu Jokowi.

Kelamin palsu pejabat lebih bahaya daripada ijazah palsu.

Sesungguhnya bagi edukasi publik dan membangun budaya transparansi, lebih bagus jika secara sukarela dan inisiatif sendiri Teddy melakukan pemeriksaan sekarang.

Jika hasilnya negatif artinya tidak benar gay, tinggal umumkan saja kepada publik. Case closed.

Pak Prabowo bisa mendorong transparansi itu. Jangan seperti kasus ijazah palsu yang terus-menerus bermasalah, berbelit, dan akhirnya menjadi skandal kebodohan nasional.

Publik tetap berharap Teddy tidak berubah menjadi Tetty, Indra tidak menjadi Indri, dan Wijaya menjadi Wijayanti.

Rakyat Indonesia ingin memiliki  Presiden dan anggota Kabinet yang normal.

Negara Pancasila adalah negara bermoral.

M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Redaktur : Abdul Halim

Related posts

Meniti Jalan Lurus Menuju Mardhatillah, Dari Iman Menuju Sistem

Amanah yang Dikhianati, Negara Tidak Boleh Lagi Terlambat Melindungi Santri

Sebentar Lagi Ijazah Palsu Jokowi Akan Terbongkar