Hipokritisme, Sebuah Pengingkaran Atas Kebenaran Sejati

Sebagai makhluk yang paling mulia, manusia, makhluk ciptaanNya yang memiliki perangkat rohaniah yang berupa akal, budi dan nurani ini tentunya sangatlah jauh memiliki kelebihan dan keunggulan rohaniah dibanding makhluk hidup lainnya, hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Itulah sebabnya, manusia dikatakan sebagai makhlukNya yang paling mulia.

Kemuliaan jiwa, nurani, mata-hati atau mata-batin, sanubari adalah terang jiwa bagi terawatnya moralitas, pekerti, watak atau karakter, kepribadian kita untuk kita senantiasa bisa selalu hadir sebagai figur, sosok, pribadi insan manusia yang tulus-sejati menjaga nilai-nilai keutamaan dalam keimanan dan ketakwaan pada sosok Yang Maha Agung itu.

Sekaligus pada saat yang bersamaan secara tulus-sejati menjaga nilai-nilai keutamaan dalam menebar semangat kebajikan bagi sesama umat manusia.

Tuhan Semesta Alam, Sang Maha Besar Yang Maha Pengasih dan Penyayang itu pastilah sangat menghendaki setiap kita, hamba-Nya ini untuk senantiasa meletakkan rasa penghormatan yang tinggi di tempat yang tertinggi atas sebuah konsep kebenaran.

Sebuah konsep kebenaran yang hakiki, yang adalah konsepNya itu, konsepnya Sang Maha Pencipta yang harus kita hormati secara tulus-sejati.

Penghormatan atas konsepNya ini adalah suatu penghormatan yang sangat berkomitmen teguh untuk menjauhkan diri dari pengingkaran atas kebenaran hakiki itu, yang adalah kebenaran yang hanya milikNya itu, kebenaran yang dianugerahkan, dikaruniakan bagi sebuah kemuliaan manusia yang dinamakan peradaban kemanusiaan sejati.

Sang Maha Empunya Segala adalah Sang Maha Kebenaran. Beliau Yang Maha Agung dan Maha Suci itu adalah Sang Pencinta Kebenaran Hakiki, karena hanya dari Beliaulah kebenaran sejati itu berasal.

Kita manusia diciptakan-Nya atas dasar Rasa Cinta-Kasih dan Kasih-SayangNya, maka begitupun sebaliknya, sudah sepatutnyalah kita betul-betul tulus-sejati mencintai kebenaran hakiki Yang Maha Esa itu dengan kasih dan sayang kita padaNya secara sepenuh-hati.

Sejatinya kita mencintai Tuhan Semesta Alam yaitu dengan mencintai kebenaran. Mencintai kebenaran yang tidak mengingkari kebenaran itu sendiri.

Pencinta kebenaran adalah pencinta akan sebuah kualitas kesejatian. Secara asli dan otentik, menjauhkan diri dari sikap dan prilaku yang penuh dengan kepura-puraan.

Sikap dan prilaku yang penuh dengan sifat hipokritis, dusta dan kepalsuan. Menjaga kebenaran adalah menjaga lentera jiwa murni.

Hidup pura-pura adalah hidup yang mengingkari kebenaran. Segala wujud bentuk ungkapan pikiran, perasaan, tindakan dan perbuatan haruslah selalu murni dan sejati.

Kita semua berpotensi untuk berdusta, berpura-pura hingga ternodainya hati dan pikiran kita oleh lumpur hipokritisme, namun bersegeralah kita untuk kembali berusaha hidup otentik dalam kebenaran, walau memang berat dan tak mudah.

Ini semua agar kita senantiasa terbebas dari palsunya putih, bersih, halus, tertib, sukses diluar rumah, namun hitam, kotor, kasar, kacau, gagal di dalam rumah.

Tak ada orang suci yang mengaku dirinya suci. Pribadi yang benar-benar otentik dengan kebenaran, tak kan pernah gegabah menghakimi kelemahan orang lain dan tak pernah sibuk dengan kekurangan dan kesalahan orang lain.

Seorang yang hipokrit adalah pemuja bentuk tanpa isi, pemuja penampilan tanpa hakikat. Ia adalah ‘rumah kardus’ nan tampak masyur dan kokoh tetapi mudah hancur dan roboh oleh hembusan angin kebenaran, angin kesejatian itu.

Kesejatian adalah ketika taman hati kita selalu menjaga kesalehan, kebaikan, kejujuran, kebenaran, rasa keadilan kita, baik didalam rumah maupun di luar rumah.

Kesejatian itu adalah tatkala taman kalbu kita senantiasa menjaga ke-otentik-an nyala jiwa kita, nyala jiwa yang selalu hidup penuh sahaja, hidup penuh kesejatian, kejujuran apa adanya dirinya.

Sejati yang tidak pernah mengingkari dan mengkhianati kebenaran yang hakiki. Sejati yang tak kan pernah mendustai esensi dari sebuah persaudaraan sejati sebagai ruh dari peradaban kemanusiaan sejati.

sebuah peradaban yang selalu mengagungkan dan memuliakan hakikat kebenaran sejati. Salam Kebenaran Sejati

HD. Febiyanto
Motivator Komunikasi Strategis-Pemerhati Pengembangan Karakter Kebangsaan & Kenegarawanan

Related posts

Tahlilan dan Takziyah Tiga Hari: Antara Empati, Tradisi, dan Kejujuran Ilmiah

Islam Bukan Ideologi Kebencian, Manifesto Indonesia Thayyibah

Reshuffle Palsu Emprit-emprit