Apakah rasa takut ada hubungannya dengan genetika dan adakah kecenderungan seseorang mewariskan kecemasan turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya?
Merujuk data WHO pada 2017, lebih dari 260 juta orang di dunia menderita gangguan kecemasan. Sebuah studi baru di The Journal of Neuroscience mengungkap bahwa gangguan kecemasan mungkin bersifat genetik.
Marcella Evalie Claudia, S.Psi founder dari Psychologytalkid mengemukakan adanya beberapa penelitian yang diantaranya dilakukan oleh Daniel Weinberger, M.D ternyata membuktikan bahwa rasa takut berlebihan memang dipengaruhi oleh genetika.
Mengutip penelitian tersebut, Marcella menjelaskan jika penelitian sebelumnya mengidentifikasi dua bentuk gen, yang dijuluki “pendek” dan “panjang” untuk jumlah DNA. Versi pendek tampaknya menghasilkan lebih sedikit protein yang membantu mengatur serotonin neurotransmitter yang mengubah suasana hati. Ia juga menambahkan jika orang-orang dengan versi ini lebih cenderung menilai sebagai “takut” atau “cemas” pada tes kepribadian daripada mereka yang memiliki versi yang lebih panjang.
Menurut Marcella banyak ketakutan dalam diri manusia yang tidak mempunyai alasan yang masuk akal dan biasanya memang sebuah ketakutan yang tidak pernah terjadi. Walaupun begitu, kembali ia menegaskan “serangan panik bisa membingungkan dan menakutkan, tetapi bukan hal yang aneh”. Karena itu mencari tahu mekanisme yang mendasari gangguan kecemasan mungkin lebih penting ketimbang menargetkan gejala.
Berbicara mengenai gejala yang tampak secara umum diantaranya adalah sesak di dada, sesak napas atau detak jantung yang berdebar kencang. “Banyak penderita percaya bahwa mereka mengalami serangan jantung dan bergegas ke ruang gawat darurat”sesal Marcella.
Penyebab serangan bisa tidak jelas, tetapi sering kali muncul saat menghadapi perubahan besar dalam hidup, seperti melahirkan atau pekerjaan baru. Serangan juga bisa terjadi setelah trauma (Saxbe, 2016). Diperkirakan 2,4 juta orang mengalaminya setiap tahun.
“Mengendalikan emosi negatif bisa dengan teknik meditasi sederhana yaitu mengatur pola nafas panjang dan buang perlahan 3-5x,” saran Marcella.
Setelah itu kenali mengapa kita merasa takut. Dengan mengenali hal-hal yang cenderung membuat takut atau cemas (stressor) akan membantu mengendalikan rasa takut tersebut.
Demikian pun dengan usaha untuk merasionalisasikan rasa takut. Hal ini ditengarai karena memerangi rasa takut dengan fakta masih merupakan salah satu cara yang efektif, misal dengan mengajukan pertanyaan ke diri, apakah perlu kita merasa takut terhadap hal-hal tersebut? apakah rasa takut kita beralasan atau jangan-jangan rasa takut kita itu tidak beralasan dan tidak akan terjadi. Menurut Marcella, semua itu akan membantu untuk mengelola rasa takut. (sinse_novi)
