Mendengar kata pensiun dini sering dikaitkan dengan orang-orang yang mungkin merasa sudah tidak mampu mengembangkan diri dalam suatu posisinya dan tidak cocok lagi dengan atmosfer lingkungan kerjanya.
Juga tidak tertantang lagi pada posisi jabatannya saat ini dan 1.001 alasan lain yang melatarbelakangi berhenti jadi pegawai lebih awal dari yang semestinya.
Sabtu , 7 Agustus 2021, saya kembali membaca kata pensiun dini. Dari tulisan yang dikirimkan motivator ulung Dr Aqua Dwipayana. Berjudul Nyali Kecil, Pandemi Covid-19 makin Membuat Takut Pensiun Dini.
Pada banyak kejadian, para pelaku pensiun dini terjebak dalam kebimbangan pasca pensiun. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya justru menyesal karena mengambil keputusan melakukan itu.
Namun bukan berarti semua orang yang melakukan pensiun dini akan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Tentu kembali kepada masing-masing pribadinya.
Apabila langkah pensiun dini telah direncanakan dengan baik dan penuh perhitungan, hasilnya pasti akan membuat orang yang melakukannya menjadi semakin sukses dan bahagia.
Kemudian akan timbul satu pertanyaan, “Apakah ada orang yang pensiun dini bisa menjadi semakin sukses dan bahagia?” Tentu jawabannya “ADA”. Bahkan mungkin banyak, yang (mungkin) seringkali tertutup oleh kejadian yang tidak mengenakkan terkait pensiun dini tersebut.
Salah seorang yang menjadi sukses, bahagia, bahkan barokah hidupnya setelah memutuskan pensiun dini adalah saudara saya, Dr Aqua Dwipayana. Beliau sudah sekitar 16 tahun menjalaninya.
Hidup Penuh Keyakinan
Seingat saya waktu itu dalam kondisi karirnya yang bagus dengan gaji belasan juta rupiah di PT Semen Cibinong (belakangan ganti nama jadi PT Holcim Indonesia dan berubah lagi menjadi PT Solusi Bangun Indonesia), Pak Aqua pada 30 September 2005 memutuskan berhenti sebagai pegawai di perusahaan itu.
Kemudian dengan penuh keyakinan mantap memulai aktivitas baru yang mandiri. Atasan satu-satunya hanya TUHAN, tidak ada yang lain.
Waktu itu banyak yang meragukan keberhasilannya. Apalagi kedua anaknya, masih kecil. Mereka adalah Alira Vania Putri Dwipayana (9 tahun) dan Savero Karamiveta Dwipayana (6 tahun).
Ketika itu sampai ada yang bertanya bagaimana nasib keluarga terutama anak-anaknya yang masih kecil. Mau diberi makan apa? Apakah mampu membiayai pendidikannya hingga selesai kuliah?
Pak Aqua yang selalu hidup dengan penuh keyakinan tidak menjawab secara lisan semua pertanyaan itu. Namun membuktikannya secara langsung agar mereka yang semula meragukan kehidupannya, bisa melihat bukti nyata.
Tidak membutuhkan waktu lama. Hanya dalam hitungan tahun, dalam segala aspek kehidupan kualitasnya jauh lebih baik dibandingkan ketika masih jadi karyawan.
Begitu juga temannya, secara pesat dan cepat bertambah banyak. Mereka berasal dari berbagai latar belakang dan strata. Seluruhnya bersahabat baik dengan Pak Aqua. Bahkan banyak yang akrab.
Pemicu Pak Aqua berhenti jadi karyawan sederhana sekali. Ketika masih menjadi pegawai PT Semen Cibinong, beliau sering tugas keluar kota. Ketemu banyak orang di berbagai daerah di Indonesia.
Saat itu Pak Aqua melihat banyak sekali orang yang menganggur. Dengan kemampuannya sebagai motivator, niatnya sangat mulia. Tanpa pamrih ingin menggugah banyak orang agar bergerak dan mengoptimalkan potensi diri mereka. Dengan begitu dapat mengurangi pengangguran.
Mantan wartawan di banyak media besar itu melakukannya dengan ikhlas. Niat sepenuhnya ibadah, semata-mata karena TUHAN. Tidak ada niatan yang lain.
Balasan Rezeki Berlimpah
Pak Aqua berkeyakinan jika dirinya membantu sebanyak-banyaknya orang tanpa pamrih maka TUHAN akan membalasnya dengan memberikan rezeki yang berlimpah pada dirinya dan keluarga. Ternyata keyakinan itu terbukti benar.
Hal tersebut membuatnya ketagihan menolong banyak orang termasuk yang belum dikenalnya. Meski melakukannya secara selektif dan sesuai kemampuan.
Selama sekitar 16 tahun Pak Aqua mensyukuri dan menikmati jadi orang bebas merdeka. Atasan satu-satunya hanyalah TUHAN Sang Pencipta alam semesta.
Karena hanya bersandar pada TUHAN, Pak Aqua tidak pernah khawatir dengan hidupnya bersama keluarga. Juga tidak ada sedikitpun keraguan membantu sesama tanpa pamrih.
Semua aktivitas sosial itu dilakukannya secara konsisten selama belasan tahun bersama keluarga. Melaksanakannya tanpa beban karena yakin semuanya titipan TUHAN.
Hasilnya alhamdulillah luar biasa. Pak Aqua semakin berbahagia dalam menjalani kehidupannya. Juga tambah leluasa membantu sesama yang secara materi jumlahnya lumayan besar.
Semua itu sengaja dilakukannya sebagai wujud konkrit selalu bersyukur dan ikhlas. Hal tersebut merupakan buah “manis” dari keputusannya melakukan pensiun dini pada 2005 lalu.
Semoga selama pandemi Covid-19 ini Pak Aqua bersama Ibu Retno, Mbak Alira, dan Mas Ero senantiasa mendapatkan limpahan nikmat sehat dari ALLAH SWT.
Karena keberadaan beliau sekeluarga dengan perannya masing-masing dibutuhkan banyak orang. Aamiin ya robbal aalamiin…
Mengakhiri tulisan ini ijinkanlah saya menulis pantun.
Ke Jawa naik bendi.
Jalannya mudah diakses dan tidak terjal.
Pak Aqua pensiun dini.
Hidupnya semakin sukses dan tambah banyak beramal.
Joko Sudarmawan
Penulis adalah Manajer Administrasi Penjualan Kantor Regional Pos 8 Bali Nusra