Mengenal Sosok M Djakfar Shodiq, Pemimpin Agamis dan Merakyat

by Slyika

KAYUAGUNG – Sosok M Djafar Shodiq jika pertama mengenal mungkin tidak akan tahu kalau dia seorang wakil bupati di Kabupaten Ogan Ilir (OKI), Sumatera Selatan (Sumsel) karena penampilannya sederhana, baik cara bertutur kata maupun dalam penampilan.

Shodiq, begitu biasa dipanggil tidak pernah menempatkan dirinya sebagai seorang pimpin yang penuh dengan pengawalan dan birokrasi. Tetapi lebih banyak menempatkan dirinya sebagai pejabat yang memberikan pelayanan pada rakyatnya dibutuhkan atau tidak dibutuhkan.

Tidak heran kalau rumah pribadi maupun rumah dinas Shodiq selalu ramai didatangi rakyat dari golongan bawah atau masyarakat petani yang ingin menyampaikan keluhan.

Bahkan rakyat kecil dan tingkat atas tidak pernah dibedakannya ketika berkunjung ke rumahnya. Bahkan Shodiq tidak segan mengajak rakyat duduk dalam mobil dinas untuk mendengarkan keluhan rakyat.

Shodiq berprinsip jadilah pendengar yang baik, karena makin banyak mendengar maka akan makin tajam untuk menganalisa suatu persoalan.

Dalam lingkungan di luar pemerintahan, dia tidak pernah ingin dibesarkan posisinya. Terutama dalam bidang keagamaan, Shodiq terkenal dekat dengan anak yatim dan dirinya tidak segan-segan turun langsung memberikan bantuan untuk keperluan keagamaan dan anak yatim.

Shodiq meniti karier sebagai Wakil Bupati OKI, dimulai dari jabatan sebagai kepala desa di Mesuji, di sebuah desa yang sangat jauh dari ibu kota kabupaten.

Karena kepribadian yang sederhana dan terbilang dekat dengan rakyat, karier politiknya terus menanjak dengan menjadi anggota DPRD OKI dari 2014-2019 dari Partai Golkar.

Kedekatannya dengan rakyat kecil ini membuat Bupati OKI Iskandar tertarik menggandengnya sebagai wakil bupati untuk periode keduanya yaitu 2019-2024.

Menurut Shodiq menjadi pejabat di lingkungan pemerintah lebih banyak untuk mengabdikan diri kepada rakyat, dan bukan untuk menjadi penguasa.

Apalagi dirinya dibesarkan dari lingkungan petani, sehingga lebih senang menjadi petani, karena dengan bertani dirinya merasa lebih dekat dengan sang pencipta dan selalu merasa bersyukur.

“Saya lebih senang menjadi petani, karena merasa lebih dekat dengan Allah SWT, dan kita bisa merasakan terus bersyukur atas nikmatnya,” ujar Shodiq.

Dikatakan pria kelahiran Bojonegoro, 22 Februari 1969 mengaku sangat beruntung dimasa kecil sudah dikenal dengan lingkungan yang taat beragama dan petani, sehingga dirinya bisa selalu merasakan nikmatnya kehidupan dengan penuh rasa syukur.

Menjadi petani itu lebih bebas dibandingkan menjadi pejabat. Pejabat itu sangat terikat dengan aturan tidak bisa bebas seperti petani. Tetapi panggilan untuk mengayomi rakyat dijadikan panggilan untuk pengabdian.

“Waktu senggang saya sering mengajak bapak kapolres, dandim atau pejabat lainnya ke lingkungan pertanian. Saya ingin mereka merasakan kehidupan rakyat yang sebenarnya,” jelasnya.

Shodiq juga menuturkan, sebagai rakyat tidak juga boleh bertindak membenci pejabat, karena para pejabat ini juga yang telah berupaya memikirkan rakyat walaupun terbatas dengan berbagai aturan.

“Saya jika tidak ada pekerjaan kantor, selalu saya habiskan waktu dengan bertani, karena ini lingkunganku sesunggunya rakyat bisa berkumpul dengan bebas tanpa terikat dengan batasan,” tuturnya.

Shodiq mengaku sebagai pejabat dirinya memiliki masa waktu periode, tetapi sebagai petani akan terus berbuat hingga akhir hidup. “Karena kita akan terus merasakan kedekatan dengan Allah SWT dengan menikmati rasa syukur yang telah diberikan,” turutnya. (noverta)

0 comment
3

Related Post

Leave a Comment