Maulid Nabi, Momentum Untuk Berlaku Sebagai Bagian dari Rahmatan Lil Alamin

Foto/Facebook

Maulid nabi adalah peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tepatnya tanggal 12 Rabiul awal dalam penanggalan Hijriyah di Kota Mekah. Kata maulid atau milad tersebut dalam bahasa Arab mengandung makna hari lahir. Secara subtansial, Maulid Nabi menjadi momentum bagi umat Islam untuk mensyukuri kelahiran Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya ada nilai moral yang dapat dipetik dengan memahami akhlak terpuji dalam kisah teladan Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmatan lil ‘alamin (QS. Al Anbiya : 107 “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”)

Dikutip dari laman Institut Agama Islam Negeri Surakarta karya Dr Ismail Yahya, M.A Islam secara bahasa berarti damai, keamanan, kenyamanan, dan perlindungan. Sedangkan, secara agama, Islam adalah manifestasi dari damai. Sementara itu, secara etimologis kata rahmat berarti kelembutan yang berpadu dengan rasa welas asih (compassion). Kata ini bisa juga diartikan sebagai kasih sayang. Artinya Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT untuk memberikan kasih sayang kepada seluruh manusia.

Dapat disimpulkan, Islam rahmatan lil alamin adalah konsep abstrak yang mengembangkan pola hubungan antar manusia yang pluralis, humanis, dialogis, dan toleran. Selain itu, konsep ini mengembangkan pemanfaatan dan pengelolaan alam dengan rasa kasih sayang serta berlaku toek alam semesta. Konsep dan nilai yang berlaku secara universal, valid toek dunia.

Namun sayangnya, jaman ini dunia tampak begitu kelelahan dengan banyaknya penderitaan dari persaingan, permusuhan, kebencian dan peperangan. Pandemi covid 19 memperburuk kondisi dunia. Pandemi ini pun disinyalir merupakan bentuk peperangan biologis yang dampak buruknya menerpa hampir disemua lini kehidupan.

Menyorot dunia kecil, manusia modern abad 21 tampaknya pun banyak yang kewalahan menjalani kehidupan saat ini. Dr. Mona Sugianto, M.Psi , Psikolog klinis dan peneliti dari layanan psikologi Ad Famili Indonesia berdasarkan hasil penelitian disertasinya mengungkapkan issue besar problem keresahan global dewasa ini, adalah kualitas koneksi manusia dengan diri sendiri, sesama dan semesta.

Mengkaitkan dengan fenomena VUCA, yaitu fenomena yang menggambarkan situasi dunia yang kita hidupi sekarang, dimana perubahan begitu sangat cepat, tidak terduga, dipengaruhi oleh banyak faktor yang sulit di control dan kebenaran serta realitas menjadi sangat subjektif. Menurut peneliti dan dosen ini, VUCA merupakan ciri dari abad ke 21 dan merupakan issue besar problem keresahan global, juga kesehatan mental diantaranya loneliness (kesepian), berasa asing dengan diri sendiri dan kurangnya rasa peduli pada lingkungan (empati).

Lebih lanjut, Dr. Mona Sugianto, M.Psi , Psikolog klinis mengajak kita untuk mengenal diri dan jeli melihat penderitaan di sekitar dengan kaca mata welas asih (compassion = rahmat). Menerapkan pada diri sendiri juga memperlebar lingkup kasih sayang kita terhadap orang-orang disekitar. Dalam relasi social, kita bisa digambarkan sebagai beberapa lingkaran dari yang kecil sampai besar, dimana diri kita berada ditengahnya. Mulai dari keluarga inti, kota, bangsa sampai menyayangi seluruh umat manusia.

Artinya mengakui bahwa pada akhirnya semua manusia adalah bagian dari dunia dan semesta yang sama. kita mencari selamat bersama, bukan selamat sendiri dan kemenangan yang semu. Persaudaraan yang menembus batas sejalan dengan spirit rahmatan lil ‘alamin (rahmat atau kasih sayang semesta)

Semoga maulid Nabi menjadi momentum bagi umat manusia toek dapat dapat meningkatkan kualitas koneksi dengan diri sendiri, sesama dan semesta juga berlaku sebagai rahmatnya (kasih sayang )alam semesta. (sinse_novi)

Related posts

Sangat Bersyukur Sehari Jalan ke Berbagai Kota dan Lancar

Jumat Berselimut Sholawat

Ijazah Antara Ghibah dan Berbantah-bantah