Tahun 2021 dalam hitungan jam akan segera berganti untuk masuk pada tahun 2022, suatu ukuran deret angka yang merujuk kepada hitungan waktu berdasar tahun yang terdiri dari dua belas bulan masa berlangsung selama satu tahunnya.
Selama hampir dua tahun sejak bulan Maret 2020,, hampir seluruh warga dunia telah dan masih mengalami banyak deraan berbagai kesulitan dan pergumulan dalam hidup karena wabah pandemi covid-19 ini.
Tidak ada satupun negara di dunia ini yang benar-benar terbebas dari wabah virus yang tidak bisa dianggap remeh dan sangat membahayakan ini.
Tidak ada satupun pemerintahan di seantero bumi ini yang.tidak benar-benar bekerja keras untuk mengendalikan laju penyebaran virus corona dengan berbagai jenis varian baru yang ada dengan percepatan pelaksanaan vaksinasi yang telah melalui uji klinis yang benar-benar ampuh dan aman dipergunakan bagi segenap umat manusia di muka bumi ini.
Belum lagi dampak sosial-ekonomi dan sosial-politik dari deraan penyebaran wabah ini. Tingkat pengangguran dan kriminalitas, dampak pada melemahnya perekonomian, industri dan perdagangan, terlebih lagi dampak secara politis yang bisa saja terjadi pada semua negara.
Tahun baru menjadi momentum titik awal untuk kita kembali, meng-evaluasi diri merefleksikan diri mengenai apa yang telah kita lakukan di masa-masa sebelumnya dan mengenai strategi resolusi apa yang harus kita lakukan untuk masa-masa yang akan datang.
Refleksi, evaluasi diri,introspeksi diri, retreat, kontemplasi, melihat ke dalam, atau apapun namanya adalah bagian utuh dari objek mekanisme formal-teknis atas rangkaian sirkulasi perputaran mesin waktu dalam irama atau ritme hidup ini antara lalu, kini dan akan datang. Kemarin, hari ini dan hari esok.
Refleksi atas segala baik-buruk, benar-tak benar, tepat-tak tepat, keliru-tak keliru dari pengalaman masa sebelum kini, adalah bagian utuh, integral dari proses pembelajaran untuk bisa menemukan resolusi, cara, formula, strategi, kiat untuk mencari solusi semua problematika hidup ini secara lebih baik dan jauh lebih baik ke depan.
Penguasaan segenap potensi diri akan kondisi lingkungan sekitar dan kendaraan pada seorang pengemudi kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat terhadap kondisi lalu-lintas merupakan satu contoh konkrit yang bisa diibaratkan perputaran roda dalam kehidupan ini.
Bagaimana roda kendaraan yang diibaratkan roda kehidupan yang terus berputar, sang pengemudi dituntut untuk bisa mengendalikan stabilnya kendaraan dengan bahan bakar yang cukup untuk jarak yang akan ditempuhnya, ia harus menyesuaikan kecepatan pada kondisi mesin dan roda kendaraan, dengan sesekali ia melihat ke belakang melalui kedua kaca spion dan kaca kabin, bila kendaraan roda empat atau mobil, ia harus bisa fokus untuk terus menjamin laju kendaraannya aman dan terjamin keselamatannya hingga sampai di tempat tujuan dengan selamat.
Begitu pula dalam kehidupan ini, laksana seseorang pengendara tadi, kita dituntut untuk bisa menjalani perjalanan roda kehidupan ini dengan baik agar terjamin keselamatan kita dalam meniti setiap jengkal jarak demi jarak dan setiap putaran waktu demi waktu dengan kendaraan iman dan takwa atas agama kita padaNya Sang Ilahi, berbahan bakarkan spiritualitas akhlak, moral, budi pekerti dan karakter kita yang digerakkan oleh mesin spiritualitas atas nilai keTuhanan & kemanusiaan sejati, dipandu oleh cahaya lampu lentera jiwa, kalbu, nurani, sanubari ini.
Roda Perjalanan hidup yang kita kendarai ini pastilah melalui fase demi fase dalam irama, ritme hidup ini. Pengalaman dalam perjalanan hidup itu merupakan cermin kalbu, cermin mata batin yang memproses kita untuk bisa lebih dewasa, arif, bijak, tajam, dalam dan cerdas dalam sikap dan prilaku atas segala hal dan perkara dlm kehidupan ini.
Perputaran bumi, dunia dengan tahun berganti tahun yang begitu cepatnya, seakan laju mesin waktu ini tak bisa berkompromi, bernegosiasi dengan keterbatasan akal, logika, nalar kita manusia.
Upaya manusia untuk terus mengejar pulsa dunia seringkali bisa menumpulkan mata batin ini, seakan kita kerap sulit untuk bercermin diri, merefleksikan diri atas apa yang pernah terjadi di masa sebelum untuk menjadi pembelajaran batiniah di hari esok.
Kita manusia tetap haruslah tidak hanya pandai, namun cerdas bersyukur. Pencapaian-pencapaian atas segala prestasi dalam kehidupan ini terkadang tidak berjalan mulus yang penuh dengan batu terjal dan sesekali terdapat duri semak-belukar, bahkan racun serangga atau ranjau peledak yang bisa mematikan.
Keimanan dan ketakwaan pada Yang Maha Agung adalah landasan segala-galanya bagi suksesnya semua pencapaian prestasi dalam irama hidup ini dalam arti yang sesungguhnya dan sejati.
Suatu pencapaian prestasi dalam kehidupan yang selalu mengedepankan semangat bagi kebaikan bersama, kebajikan publik atau umum, kemaslahatan khalayak.
Tahun terus berganti, usia berangsur menua, fisik makin melemah, daya ingat, memori kian menumpul, namun semangat atau spirit kita harus terus menggelora untuk terus menorehkan warisan, legacy akan nilai-nilai keutamaan dan kemuliaan jiwa bagi generasi penerus kita, junior kita, anak-cucu kita.
Raga bolehlah kian merapuh, namun spirit haruslah tetap tangguh. Mata lahir ini bolehlah meredup namun mata batin ini haruslah tetap ‘hidup’ dan tajam.
Hari lampau adalah pengalaman, hari ini adalah kenyataan dan hari esok adalah tantangan, kita mesti menjalani kehidupan dengan penuh keimanan, rasa syukur dan suka-cita, apapun pil pahit yang mungkin harus kita konsumsi dalam hidup ini.
Kurang-lebih 12 jam kurang 15 menit kita akan memasuki ruang waktu yang bernama tahun 2022 dengan mekanisme perputaran mesin waktu yang terus bergulir dengan sangat cepat, detik-menit-jam-hari-minggu dan bulan, semua berlari kencang dan terus berkejaran.
Tahun 2021 ini yang akan segera usang dan berganti tahun berikut yang baru hanyalah sebuah piranti dimensi kosmik perputaran roda irama hidup ini.
Namun pahit-manisnya pengalaman hidup ini janganlah dengan mudahnya sirna dari memori personal dan kolektif kita untuk kita jadikan nutrisi, gizi, vitamin, mineral, protein refleksi diri yang menyehatkan mata batin ini agar senantiasa tajam dan ‘hidup’ untuk terus bisa memberikan warna dan pencerahan kalbu bagi diri kita dan sesama untuk menjalani kehidupan yang baik dan benar.
Kehidupan yang baik dan benar menurut ke-Agungan, kesucian, kesakralan, kemuliaan ajaran agama dan kepercayaan yang bersumber dari kearifan lokal adab adat istiadat dan budaya luhur bangsa.
Penajaman kalbu, mata batin ini merupakan cermin dan lentera jiwa yang tak boleh redup dan bahkan sirna, sebagai cermin dan cahaya yang.
Selalu setia mengarahkan kita kepada keutamaan dan kemuliaan jati diri,sejatinya diri yang secitra dengan Beliau Sang Maha Pengasih dan Penyayang untuk terus menebarkan semangat cinta-kasih dan kasih-sayang pada setiap manusia, hambaNya.
Tahun yang berganti baru sejatinya harus dipergunakan sebagai momentum untuk pembaharuan jiwa yang lahir baru sebagai signage, penanda akan masuk.dalam ikatan zona waktu yang baru, sebagaimana pula dalam momen selebrasi tahun baru dalam berbagai perayaan keagamaan dan adat kepercayaan leluhur.
Memasuki tahun yang baru adalah mengenai sejauhmana kita mereflekaikan diri, bercermin diri dalam penajaman mata batin,sanubari ini atas sebuah lembaran peristiwa-peristiwa dalam kehidupan ini di masa lampau dengan berpijak bumi pada realitas-faktual yang nyata kini hari untuk menemukan resolusi, cara-strategi pemecahan setiap masalah yang kita hadapi dalam hidup ini.
Agar dalam dimensi waktu apapun sepanjang hayat masih dikandung badan, kita makin memiliki nilai luhur dan mulia di mata Yang Maha Mulia.
Tetap semangat untuk menjadi insan manusia yang TOP, Tangguh-Optimis dan Positif untuk menjadi cahaya inspirasi yang mencerahkan bagi perdamaian Indonesia kita dan dunia.
Selamat Menyongsong Anugerah Tahun Baru 2022 & sukses selalu. Sang Maha Pencipta memberkahi dan melindungi kita semua. Salam Kemanusiaan & Salam Perdamaian.
HD Febiyanto
Motivator Strategi Komunikasi, Pemerhati Pengembangan Karakter Kebangsaan & Kenegarawanan, Manado