JEPARA – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (Gus Muhaimin) melakukan reuni nostalgia dengan sejumlah aktivis pergerakan LKiS Yogyakarta di Pondok Pesantren Hasyim Asyari Bangsri, Jepara, Jawa Tangah, Sabtu malam (12/2/22).
Reuni dibalut dalam forum bertajuk Ken-Duren LKiS itu menjadi ajang temu kangen para aktivis pergerakan Yogyakarta.
Ada pendiri LKiS Imam Azis, Gus Muwaffiq, Zastrow Al Ngatawi, KH Nuruddin Amin, St. Sunardi , Chotibul Umam Wiranu, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Tranamigrasi serta sejumlah aktivis senior LKiS lainnya.
Mereka terlihat larut dalam kehangatan dan rasa kangen setelah sekitar 20 tahunan tidak saling bertemu dalam satu forum pertemuan LKiS.
“Saya sungguh bahagia, bersyukur, ini luar biasa dan sangat menyenangkan. Pandemi sulit untuk bertemu, tapi kita bisa ketemu. Mudah-mudahan dalam kondisi sehat semua,” ungkapnya mengawali sambutannya.
Dia mengatakan, pandemi membuat tantangan bangsa kedepan semakin sulit diprediksi.
“Ini betul-betul berubah suasana, tantangan di saat-saat transisi sosial, ekonomi, politik yang tidak menentu. Nasib ekonomi kedepan tidak ada yang bisa prediksi,” katanya.
Wakil Ketua DPR RI ini mengingat masa-masa di pergerakan bersama para aktivis Yogyakarta yang tergabung dalam LKiS saat berjuang mendobrak kekuatan rezim Orde Baru yang ditandai dengan jatuhnya Soeharto dari pucuk pimpinan negeri setelah 32 tahun berkuasa.
“Dulu LKiS bisa beradaptasi dengan sangat baik. Puncaknya Pak Suharto jatuh. Hal yang saya tahu, LKiS adalah kelompok diskusi. Saya diajak Mas Imam, Fajrul Falaakh, kelompok diskusi kecil yang luar biasa. Saya kemudian pindah ke Jakarta, LKiS semakin maju, dahsyat membanggakan dan menjadi rujukan,” katanya.
Forum Ken-Duren, kata dia, perlu diteruskan bukan sekadar untuk reonian, namun juga menjadi forum untuk membahas berbagai persoalan masa depan bangsa yang semakin sulit.
“LKiS bisa menjadi rujukan buat semua tokoh, pelaku-pelaku lembaga-lembaga strategis. Khususnya sahabat-sahabat di berbagai bidang, kita harapkan bisa merawat LKiS selamanya ila yaumul kiamah,” urainya.
Senada dengannya, tokoh senior LKiS Imam Azis berharap lembaga yang dia dirikan bersama sejumlah avtivis lainnya ini bisa kembali menghidupkan tradisi diskusi kebangsaan.
“Aktivis-aktivis Yogya yang tersebar dimana-mana bisa memperkuat demokratisasi, memperkuat masyarakat sipil. Jangan terkotak-kota pada level. Harus ada kerjasama yang baik antara masyarakat sipil, parpol, lembaga negara, pengusaha. Ini harus ada penajaman dan pendalaman demokrasi,” urainya.
Imam mengatakan, dulu LKiS dan NU vis a vis dengan negara. Saat ini kondisinya berbeda sehingga kedepan tak boleh lagi. “Harus ada penataan dan kolaborasi yang lebih baik,” katanya.
Zastrow pun demikian, LKiS harus menjadi harapan dan sarana untuk menata Indonesia ke depan yang lebih baik.
“Dulu cita-cita kebangsaan, demokrasi dibicarakan di serambi masjid. Dulu state vs society. Kedepan berbeda karena sebagian kita sudah ada di dalam lembaga negara sehingga harus berkolaborasi dengan baik, memainkan perannya masing-masing untuk menata bangsa,” urainya. (mirza)
