“Sejak beberapa bulan saya bertugas di sini harus “cuci piring”. Menyelesaikan hingga tuntas semua masalah termasuk membayar hutang kepada pihak ketiga yang jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah. Satu per satu saya selesaikan. Semuanya merupakan peninggalan komandan lama yang merupakan senior saya,” ujar seorang perwira tinggi menyampaikan curahan hati (curhat)nya.
Perwira tinggi itu baru beberapa bulan menjabat di satuan tersebut. Di awal bertugas sudah disodorkan banyak masalah oleh stafnya termasuk para pejabat utamanya.
Meski kaget, namun di depan jajarannya berusaha untuk tetap bersikap tenang. Sekaligus “mendem jero”, menyimpan semua keburukan senior yang digantikannya.
Cuma makin hari masalahnya tambah banyak. Muncul satu per satu. Meski ada juga yang sepele. Remeh-temeh.
Perwira tinggi itu tidak habis pikir. Senior yang digantikannya tidak lama menjabat. Cuma kenapa masalahnya banyak sekali.
Sebagai junior dia mengalah. Tidak mau menyampaikan komplain kepada seniornya atas semua masalah di satuan yang kini dipimpinnya. Diurai satu per satu.
Terkait dengan hutang kepada pihak ketiga yang jumlahnya lumayan besar, mulai mencicilnya. Terkadang pakai uang pribadi.
“Mau bagaimana lagi. Orang di luar sana tahunya sekarang saya yang menjadi komandan di sini. Jadi semua kewajiban harus saya yang menyelesaikannya, meski saya tidak tahu menahu ketika proses hutangnya,” lanjut perwira tinggi itu.
Lunasi Semua Kewajiban
Dia kemudian bercerita pengalaman saat menjadi komandan di berbagai satuan mulai dari yang terkecil.
Selama menjabat berusaha membangun tidak hanya sisi sumber daya manusia (SDM), tetapi juga secara fisik. Merapikan dan menambah bangunan di kantornya.
Targetnya agar semua jajarannya bekerja dengan nyaman dalam situasi yang kondusif. Sehingga mereka produktif dan hasil kerjanya maksimal.
Berusaha agar semua ruangan rapi dan bersih. Begitu juga kamar mandinya. Jadi yang disentuh tidak hanya ruang komandan tapi secara keseluruhan.
Semua itu sengaja dilakukannya sebagai kenang-kenangan jika kelak meninggalkan satuan tersebut. Sekaligus akan dikenang secara positif oleh seluruh jajarannya.
Saat akan meninggalkan satuan karena mutasi atau promosi, yang pertama kali diceknya adalah kewajiban kepada pihak ketiga. Jika ada dilunasi semuanya agar tidak menjadi beban kepada penggantinya.
Selain itu seoptimal mungkin meninggalkan sejumlah dana buat bekal penggantinya saat menjabat. Mengenai jumlahnya relatif.
Dengan konsisten bersikap seperti itu, hubungannya dengan semua komandan yang menggantikannya tetap baik.
Begitu juga jajaran yang ditinggal di satuan, seluruhnya selalu bersikap hormat padanya.
“Saya sengaja melakukan semua itu untuk menunjukkan keteladan. Jika memang dinilai baik bisa dicontoh oleh mereka yang menggantikan saya dan yang lainnya,” ungkap perwira tinggi itu.
Jangan Aji Mumpung
Terkait dengan senior yang meninggalkan banyak masalah tersebut, perwira tinggi itu mengatakan sejak serah terima jabatan tidak pernah berkomunikasi.
Meski dia beberapa kali datang ke kota tempat satuannya berada.
Perwira tinggi itu memonitor, seniornya masih kontak dengan beberapa anggotanya terkait dengan urusan pribadi. Mereka lapor kepadanya sebagai komandan.
“Kalau kepada saya sama sekali tidak pernah kontak. Mungkin beliau malu karena telah meninggalkan banyak masalah di satuan yang pernah dipimpinnya,” pungkas perwira tinggi itu.
Belajar dari kisah di atas, saat menjabat agar jangan aji mumpung. Apalagi sampai merugikan orang lain yang akhirnya harus meninggalkan beban kepada penggantinya.
Ingat bahwa menjaga nama baik termasuk saat menjadi komandan adalah hal utama dan sangat penting.
Jangan sampai setelah tidak menjabat semua orang terutama seluruh jajaran dan penggantinya, mengenangnya negatif.
Jangan karena urusan dunia, semuanya jadi negatif. Jika sampai terjadi, selamanya akan dicap serupa. Bakal merugi baik di dunia maupun kelak di akhirat.
Semoga kisah di atas menjadi pelajaran berharga terutama buat mereka yang saat ini sedang mendapat amanah jadi pimpinan di institusinya. Aamiin ya robbal aalamiin…
Dari Bogor saya ucapkan selamat berusaha secara optimal menjadi pemimpin yang amanah. Salam hormat buat keluarga.
Dr Aqua Dwipayana
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional