Seorang guru hendaknya menjadi teladan bagi peserta didiknya, hal ini menjadi dasar dari pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam sistem Among dan Pamong.
Dengan semboyan Tutwuri Handayani, Tutwuri berarti mengikuti, menuntun perkembangan siswa dengan sepenuh hati, dilandasi cinta kasih dan tulus ikhlas.
Handayani dimaknai dengan menguatkan kondisi lahir dan batin anak melalui rangsangan, didikan suri teladan, sehingga anak dapat menumbuhkembangkan potensi yang ada pada dirinya sendiri bukan karena paksaan, hukuman, atau bahkan iming-iming imbalan, semua lahir atas kesadaran dan disiplin sendiri.
Guru sebagai pamong harus mempunyai 5 sikap utama. Satu, memegang teguh pembelajaran sesuai dengan kemampuan peserta didiknya.
Dua, seorang pamong menyadari sepenuh hati bahwa setiap peserta didik memiliki potensi sesuai dengan garis kodratnya sendiri.
Ketiga, Pamong harus memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didiknya untuk dapat mengungkapkan perasaan, pikiran dan perbuatannya.
Keempat, pembinaan peserta didik berdasarkan atas kemauan, pemahaman dan usahanya sendiri. Kelima, Pamong harus dapat memfasilitasi peserta didik untuk dapat mengolah hasil temuannya.
Dari filosofi Ki Hajar Dewantara tentang konsep guru sebagai Pamong, guru membutuhkan pemahaman dan penguasaan terhadap kompetensi sosial dan emosional yang matang.
Guru harus paham benar dengan situasi lahir batin dirinya sendiri dan peserta didiknya.
Kompetensi sosial emosional menjadi sangat penting dalam pelaksanaan pembelajaran yang mengakar pada tercapainya tujuan pembelajaran untuk peserta didik. Apakah Kompetensi Sosial Emosional?
Pengertian
Kompetensi yang berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mengenai aspek sosial dan emosional.
Ada 5 kompetensi sosial dan emosional, yaitu : kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
Kelima kompetensi sosial emosional ini ditemukan dalam program pengembangan anak dan remaja yang terbukti efektif untuk menumbuhkan kecerdasan emosional.
Kesadaran diri :
Kemampuan untuk memahami perasaan, emosi, dan nilai-nilai diri sendiri, dan bagaimana pengaruhnya pada perilaku diri dalam berbagai situasi dan konteks kehidupan.
Bagaimana membuat aksi nyata pada pembelajaran untuk menggali kesadaran peserta didik? Kegiatan berikut mungkin bisa menjadi inspirasi rekan guru untuk dipraktekkan di kelas masing-masing.
Bernapas dengan kesadaran penuh Ini adalah meminta mereka tiduran dan meletakkan boneka di atas perutnya. Minta mereka memperhatikan bagaimana boneka tersebut naik dan turun perlahan-lahan.
Guru juga dapat menganalogikan kegiatan menarik dan membuang napas seperti kupu-kupu yang sedang terbang dengan meminta mereka mengangkat kedua lengannya.
Minta mereka refleksikan apa yang mereka rasakan pada tubuh, pikiran, dan perasaan mereka sebelum dan setelah melakukan kegiatan tersebut.
Kegiatan ini bertujuan agar peserta didik dapat mengekspresikan apa yang mereka rasakan.
Memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan belajar memahaminya, sehingga dikemudian hari dengan tuntunan dan bimbingan dari orang orang sekitarnya mereka dapat menjadikan kelemahan mereka sebagai kekuatan.
Identifikasi perasaan. Bacalah sebuah cerita yang perasaan tokoh-tokohnya dideskripsikan dengan jelas dalam cerita tersebut.
Misalnya: Dongeng Si Kancil, Kisah Loro Jonggrang, atau kejadian faktual yang sedang terjadi, dan lain-lain.
Minta murid-murid untuk menggambar ekspresi wajah tokoh-tokoh cerita sesaat setelah mendengarkan cerita yang dibacakan oleh guru atau orang-orang yang mengalami apa yang diceritakan atau perasaan tokoh yang ada dalam cerita tersebut atau tokoh yang mengalami kejadian faktual apa yang diceritakan.
Manajemen diri:
Kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan dan aspirasi.
Untuk melatih kemampuan dalam manajemen diri, guru dapat meminta peserta didik untuk melakukan kegiatan seperti di bawah ini:
Membuat jurnal diri untuk mengenali diri dan memantau perkembangan diri Ajari murid untuk menetapkan sebuah tujuan pribadi (akademis, emosional, sosial, dll.) Ajari murid untuk memantau kemajuan mereka sendiri atas tujuan tersebut.
Bantulah mereka mengembangkan kebiasaan meninjau kembali dan menyesuaikan tujuan mereka sesering mungkin untuk memantau kemajuan.
Apakah hal baik yang sudah kulakukan? Apakah bagian mana yang sudah tercapai? Apa yang harus saya kerjakan selanjutnya? Bagaimana saya ingin bertumbuh lebih baik lagi?
Membuat kolase diri Murid menyiapkan kertas, lem, majalah, dan alat tulis lainnya. Ajak murid-murid untuk membuat ilustrasi dirinya sendiri dalam bentuk sebuah kolase diri.
Kolase yang dibuat harus mendeskripsikan kualitas-kualitas yang ada pada diri mereka. Caranya dengan mengidentifikasi kekuatan, potensi yang dimiliki, hal-hal yang diminati, serta nilai-nilai hidup yang diyakini.
Kesadaran sosial:
Kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang, budaya, dan konteks yang berbeda-beda.
Menuliskan ucapan terima kasih, ajak peserta didik untuk memikirkan seseorang telah berbuat baik terhadap mereka.
Dorong mereka untuk mengucapkan terima dan penghargaan atas kebaikan yang sudah diterima.
Minta mereka untuk menuliskan perasaan mereka terhadap kebaikan yang diterima. Untuk anak yang lebih kecil, tambahkan gambar yang berhubungan dengan kata-kata yang ditulis atau gambar apapun yang disukai orang tersebut.
Bila memungkinkan, murid juga dapat mengirimkan ucapan tersebut kepada orang yang dituju. Ajak murid merefleksikan perasaan mereka selama melakukan kegiatan ini maupun setelah melakukan kegiatan ini.
Apa yang kamu rasakan setelah membuat kartu ini? Apa yang kamu rasakan saat melihat ekspresi temanmu yang menerima kartu tersebut?
Menuliskan akronim dari nama teman. Misalnya peserta didik memilih teman Budi untuk dijadikan akronim, B = Baik orangnya, U = Unggul dalam menolong, dan lain-lain.
Keterampilan berelasi:
Kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan-hubungan yang sehat dan suportif. Kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan di kelas misalnya,
Cari teman baru, berikan tantangan pada peserta didik untuk duduk dengan teman yang berbeda saat makan siang di kantin.
Dorong mereka untuk mencoba memulai pembicaraan dengan teman tersebut dengan rasa ingin tahu. Minta mereka mencerita tentang pengalaman mereka dan hal yang berkesan dan menuliskannya dalam buku jurnal mereka.
Belajar dalam grup, peserta didik diminta untuk menajawab pertanyaan tentang ASEAN
(Pembelajaran IPS kelas 6) lalu mendiskusikan jawaban mereka di depan kelas dengan cara presentasi.
Pada kegiatan ini peserta didik diajak untuk mempelajari bagaimana berkolaborasi, berkoordinasi, memahami kemampuan diri dan teman lainnya.
Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab:
Kemampuan untuk mengambil pilihan-pilihan membangun yang berdasar atas kepedulian, kapasitas dalam mempertimbangkan standar-standar etis dan rasa aman, dan untuk mengevaluasi manfaat dan konsekuensi dari bermacam-macam tindakan dan perilaku untuk kesejahteraan psikologis (well-being) diri sendiri, masyarakat, dan kelompok.
Aksi nyata didalam sebuah pembelajaran bisa dilakukan dengan cara; bergiliran dalam menjadi ketua kelas, tugas seorang ketua kelas adalah memastikan kondisi kelas dan semua temannya siap mengikuti pembelajaran dengan aman, dan nyaman.
Ada banyak tantangan yang harus dihadapi, dalam situasi tertentu seorang ketua kelas harus mengambil keputusan yang penting agar semua berjalan dengan baik.
Misalnya saat guru kelas sedang ada tamu, sehingga tidak dapat kembali ke kelas dengan segera, lalu terjadi perselisihan antar temannya, ketua kelaslah yang memutuskan untuk memanggil guru piket agar perselisihan cepat diatasi.
Kegiatan Kepramukaan, menjadi ketua regu pramuka.
Semua kegiatan yang dilaksanakan dikelas harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik masing-masing.
Lakukan pemetaan dan laksanakan pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan keadaan peserta didik.
Pembelajaran berdiferensiasi dapat menjadi strategi pembelajaran yang baik untuk meningkatkan kompetensi sosial emosional.
Peran guru penggerak dalam hal ini adalah menyampaikan pemahaman tentang kompetensi sosial dan emosional yang bisa meningkatkan pembelajaran peserta didik menjadi lebih baik.
Kegiatan yang bisa dilakukan dalam rangka aksi antara lain adalah dengan mengadakan desiminasi, sharing pengalaman dan pembelajaran tentang kompetensi ini.
Desiminasi dengan rekan guru tidak harus bersifat resmi, pada percakapan sehari-hari ketika berkumpul mungkin dapat lebih efektif.
Kejadian di sekolah dapat dijadikan contoh kasus dan penanganan yang dilakukan dijadikan refleksi, apakah sudah dilaksanakan secara mindfulness.
Contoh kegiatan lain bisa dengan mengundang rekan guru untuk mengikuti pembelajaran yang sudah menghadirkan kompetensi sosial emosional.
Minta rekan guru untuk mengamati, merasakan langsung, dan memberi saran dan masukan tentang pembelajaran tersebut. Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tutwuri Handayani.
Lia Inggawati
CGP Angkatan 5
Tergerak, Bergerak, Penggerak dan Menggerakkan