Makin Banyak yang Galau Melihat Lingkungan Kerjanya

Dr Aqua Dwipayana Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional. Foto/Dok Pribadi

Beberapa bulan terakhir ini banyak pegawai yang kontak saya. Latar belakangnya beragam: anggota TNI, Polri, pegawai BUMN, dan swasta. Curahan hati (curhat)nya sama yaitu galau melihat lingkungan tempat mereka bekerja.

Meski menyampaikan curhatnya dalam waktu yang berbeda. Namun isinya senada: galau melihat lingkungan kerjanya.

Ada teman-teman sekantornya yang menghalalkan semua cara untuk mendapatkan jabatan dan materi.

Mereka yang masih memiliki nurani, tidak nyaman melihat kondisi itu. Keseharian yang terjadi di lingkungan kerjanya.

Mereka mencoba bertahan dengan sikapnya. Namun ada juga yang khawatir goyah, terpengaruh lingkungan yang tidak sehat tersebut.

Semua yang mereka sampaikan saya simak. Ada yang curhat lewat WhatsApp. Banyak juga yang telefon langsung. Bahkan mengutarakannya hingga berjam-jam.

Dengan sabar saya menyimak curhatnya. Membiarkan mereka membuang semua “sampah” yang ada dalam diri masing-masing.

Setelah tuntas bicara, mereka plong. Seluruh isi hati dan pikirannya telah “dikeluarkan” mereka.

Sebelumnya hanya disimpan dalam diri. Jika dibiarkan berlarut-larut, bisa menimbulkan penyakit hati yang dapat menimbulkan berbagai penyakit lainnya. Jadi komplikasi.

Akan “Lewat” dan Selesai
Selanjutnya giliran saya yang bicara. Setelah mengucapkan terima kasih untuk semua ceritanya, saya mengapresiasi mereka. Bisa bertahan dan tidak ikut arus. Meski situasi itu membuat galau.

Saya tegaskan, tetaplah konsisten dengan kemampuan diri. Mengoptimalkan potensi yang ada agar kinerjanya maksimal.

Seiring dengan itu selalu berdoa kepada.TUHAN supaya semua yang dilakukan mendapat ridho.

Tidak kalah pentingnya adalah terus-menerus tanpa pamrih aktif menjalin silaturahim dengan semua orang. Melakukannya secara universal, tanpa membeda-bedakan.

Tidak usah ikut arus yang negatif. Hanya masalah waktu, mereka yang bermanuver itu akan “lewat” dan selesai. Yakinlah!

Tentang itu sudah banyak sekali contohnya. Mereka yang menghalalkan semua cara, hidupnya pasti tidak tenang. Sedangkan rezeki yang diperolehnya tidak berkah.

Kalau itu terjadi, tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hanya muncul penyesalan di belakang hari. Bertanya pada diri: kenapa melakukan semua itu? Apa sebenarnya yang dicari?

Selamat Dunia Akhirat
Ironisnya saat meninggal, semuanya yakni jabatan dan materi bakal ditinggalkan. Paling berat adalah mempertanggungjawabkannya kepada TUHAN. Baik cara mendapatkannya maupun memanfaatkannya.

Di sisi lain mereka yang tidak ikut arus merasa tenang dan nyaman. Bahkan harus banyak bersyukur karena TUHAN selalu menjaga hati dan pikirannya.

Mereka selamat dunia dan insya ALLAH akhirat. Ibarat di sebuah perlombaan, awalnya mereka sepertinya kalah oleh teman-temannya yang menghalalkan semua cara untuk mendapatkan jabatan dan materi.

Belakangan merekalah pemenang sejati. Keputusan yang tidak dapat diganggu gugat.

Setelah saya mengutarakan semuanya lengkap dengan contoh-contohnya, mereka yang semula galau, berubah jadi semangat. Optimismenya bangkit. Membayangkan jadi pemenang sejati.

Semoga TUHAN segera menyadarkan semua orang yang selama ini menghalalkan segala cara. Sehingga lingkungan kerjanya kembali kondusif. Aamiin ya robbal aalamiin…

Dari Bogor saya ucapkan selamat tinggal rasa galau dan optimis menjalani semua aktivitas mulia. Salam hormat buat keluarga.

Dr Aqua Dwipayana
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional

 

Related posts

Bersyukur Semua Teman di Kejaksaan Promosi Kajati dan Sekretaris Jaksa Agung Muda

Pernyataan Resmi Taipei Economic and Trade Office (TETO) di Indonesia

Umat Islam Siap Syahid Bela Jusuf Kalla