Senin (17/10/22) sore mendadak saya ke Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap. Agendanya hanya satu: silaturahim ke teman baik saya, I Putu Murdiana.
Beliau menjabat Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas I Batu Nusakambangan. Juga sebagai koordinator semua Unit Pelayanan Teknis (UPT) di pulau itu dan Kota Cilacap yang berada di bawah Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia.
Waktu itu tidak sekedar silaturahim. Putu mengajak saya keliling Nusakambangan. Sambil menceritakan kondisi di sana baik para sipir —sebutan untuk pegawai Lapas— maupun warga binaan.
Saya menyimak semua yang disampaikan Putu. Sangat menarik. Apalagi selama di Nusakambangan saya menyaksikan sendiri para sipir yang penuh keikhlasan bekerja di sana.
Tidak kalah menarik adalah kehidupan warga binaannya. Ada yang tidak boleh dikunjungi oleh siapa pun termasuk keluarganya karena mendapat hukuman maksimal.
Warga binaan kelas kakap tersebut setiap hari menghabiskan sebagian besar waktunya sendirian di ruang tahanan tertutup. Tidak ada jendela atau lubang angin apa pun.
Juga tidak bisa berinteraksi dengan orang lain. Mereka tidak tahu hari dan waktu sebab di selnya tidak ada kalender dan jam.
Pantai Kopassus
Saat menyimak cerita Putu tentang warga binaan yang terisolir tersebut, saya membayangkan betapa menderitanya mereka. Meski itu terjadi karena ulah mereka sendiri. Jadi sesuai amal perbuatannya.
Putu juga mengajak saya ke Pantai Permisan. Tempat yang biasa digunakan untuk pembaretan prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang telah menyelesaikan pendidikan.
Tempat itu rutin digunakan pasukan elit TNI AD tersebut. Sehingga sering juga disebut Pantai Kopassus.
Dari kejauhan terlihat pisau komando besar tertancap ke tanah yang berada di bukit batu. Latar belakang menarik sebagai tempat berfoto. Saya dan Putu berfoto di sana sebagai kenang-kenangan.
Pemandangannya indah. Ombaknya tinggi. Cuma tidak ada sinyal telefon genggam. Sehingga sekitar 30 menit di sana, kami “puasa” komunikasi lewat telefon.
200 Peserta
Ketika sedang makan malam di warung sederhana yang menyajikan aneka makanan yang rasanya yummy, Putu menyampaikan undangan kepada saya untuk memberikan Sharing Komunikasi dan Motivasi kepada jajarannya. Saya langsung menyanggupinya.
“Siap Pak Putu. Saya akan datang lagi ke Nusakambangan untuk memberikan Sharing Komunikasi dan Motivasi kepada jajaran bapak. Gratis,” ucap saya.
Putu gembira dengan respon saya tersebut. Sambil mengatakan akan mempersiapkan acaranya supaya optimal.
Selasa (6/12/22) malam ini saya ke Cilacap. Memenuhi janji kepada Putu. Acaranya pada Kamis (8/12/22) pagi. Rencananya hadir sekitar 200 peserta.
Rabu (7/12/22) malam saya akan menginap di Nusakambangan. Ingin merasakan langsung suasana di sana.
Semoga acara Sharing Komunikasi dan Motivasinya lancar, sukses, berkah, dan bernilai ibadah. Aamiin ya robbal aalamiin…
Saat di kereta Bima dari Jakarta ke Cilacap dengan turun di Stasiun Kroya, saya ucapkan selamat berempati pada sesama yang kondisinya kurang beruntung. Salam hormat buat keluarga.
Dr Aqua Dwipayana
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional