Tenang-tenang Merenung di Tengah Taufan Hidup yang Ramai

Tenang-tenang Merenung di Tengah Taufan Hidup yang Ramai. Foto/Ist

Menutup akhir tahun, salah satu program layanan psikologi dan kesehatan mental untuk masyarakat luas yaitu AFI Karuna menyelenggarakan kegiatan webinar zoom pada kamis 29 Desember 2022 pukul 19.00 – 20.30 WIB dengan mengangkat topik ‘Tenang Merenung di Tengah Taufan Hidup yang Ramai’.

Acara yang dihadiri 46 peserta ini mengajak masayarakat untuk mau dan mendorong melakukan refleksi pribadi bersama.

‘Keletihan’
Badai ini adalah kamu, di dalammu sendiri. Jadi, yang bisa kamu lakukan ya Cuma berserah ke situ, masuk ke dalam badai. Ketika badai berakhir, toh kau takkan ingat. Bagaimana kau melewatinya, bagaimana kau bisa selamat.

Apa yang lebih indah daripada sunyi, ketika akoeh seorang diri ?, diantaranya adalah kesempatan toek merefleksi “merobek isi kepala”, mengeluarkan segala luka. Apa kabar luka, masihkah kau tersimpan rapi dalam senyum pura-pura ?.

Refleksi diri adalah proses perenungan dan analisa terhadap diri sendiri tentang segala kejadian, pikiran, perasaan dan keputusan yang telah dilakukan selama menjalani kehidupan sehari-hari.

Sebagai salah satu metode, refleksi diantara cara yang ampuh untuk membantu berproses pulih, sembuh (healing) maupun kembali utuh.

Dalam konteks bahasa gaul kekinian terutama di sosial media, “Healing” kerap diasosiasikan dengan menenangkan diri dengan pergi kesuatu tempat yang disenangi (refreshing) dan berkaitan dengan proses penyembuhan luka batin.

Hal ini biasanya disebabkan karena seseorang mengalami kelelahan emosi karena persoalan tertentu.

Lalu muncul juga istilah self healing yang memiliki makna penyembuhan diri dari luka batin. Luka batin yang dimaksudkan di sini dapat disebabkan karena beberapa faktor baik diri sendiri dan orang lain.

Refleksi sebagai bagian dari self healing, bisa menjadi awal toek membangun pemahaman guna berlatih menyadari.

Suatu manifestasi dari praktek spirit “Tenang-tenang merenung di tengah taufan hidup yang ramai”, mengistirahatkan sejenak modus bertindak ke settingan pabrik.

Mengaktifkan mode default barang sebentar untuk membersamai momen demi momen kekinian atau saat ini.

Healing secara harafiah mempunyai arti proses untuk menjadikan seorang individu utuh (wholeness) kembali.

Healing bisa terjadi dengan atau tanpa obat-obatan. Asalr kata “Whole” berakar dari bahasa anglo saxon kuno yaitu “holo” yang berarti penuh.

Sepenuhnya kita pernah berdaulat, utuh (integral, komplit), bebas (apa adanya) secara fisik, batin dan energi. Kita sepenuhnya menjadi diri kita apa adanya dan di saat itu juga, sekarang juga.

Tentu saja kita juga mengalami perubahan. Namun kapan kita menjadi diri kita sebenarnya?, diantaranya yaitu saat kita duduk tenang “menjadi” ( just being) , tidak berusaha (doing maupun becoming) sebagai kepribadian kita.

“Settingan berusaha” selalu muncul ketika pikiran bergerak mencari pemenuhan kepuasan. Kita merasa belum berhasil sebelum merasakan kepuasan yang diidam-idamkan.

Kita memperlakukan kepuasan sebagai kendaraan menuju ketenangan yang dicari untuk digenggam, maka dari itu tidak heran jika muncul pertanyaan: “Apa kabar luka, masihkah kau tersimpan rapi dalam senyum pura-pura ?”.

Dalam bahasa Inggris, manusia disebut sebagai “human being” . Being memiliki arti “sekedar berada”. Jadi secara alami, manusia butuh selalu berproses momen demi momen.

Sekedar berada bearti hanya sekedar bersama dengan apa pun yang muncul dalam diri seorang manusia, termasuk berbagai macam emosi serta pikiran yang kita nilai sebagai positif dan negatif.

Pikiran dengan kreatifnya mulai menjadi hakim bagi diri sendiri mulai dari “AKU” berlanjut “Kamu” merembet “kalian” atau “mereka”.

Pikiran mengucapkan propaganda, memunculkan ombak-ombak riuh kecil untuk kemudian menjadi badai gaduh pada diri sendiri dan akhirnya kita lontarkan ke orang lain di sekitar kita.

Mirip dan serupa. Ujungnya kita menjadi korban dari kehidupan. Dan itu tidak mengapa. Karena begitulah umumnya yang terjadi pada masyarakat dan dunia.

Itulah sebab mereka mengajari, memperlakukan bahkan memaksa dengan cara demikian.

Dan disinilah peran refleksi . Diantaranya agar kita bisa melihat kembali dan merenungkan berbagai hal yang telah terjadi di dalam hidup dan keputusan.

Refleksi diri bisa membantu kita untuk menjalani hidup yang lebih baik ke depannya. Mengkristalisasi nilai dan mengekstrak makna sebagai jeda saat keletihan berada dalam badai kehidupan.

Memberi kesempatan pada diri untuk kembali pulang, ramah pada diri agar tidak mudah patah, terampil santai walau jiwa sedang terbantai.

Yakinlah akan ada hari, ketika tanda dan canda semesta terasa lebih ramah, tidak lagi menyesakkan dada. Terik yang terasa lebih sejuk dari biasanya, Rabb (Tuhan) semesta menitipkan kasih dan sayangnya lewat usapan angin.

Kita sadar apabila ini bukan sedang jatuh cinta maupun euphoria. Tidak pula marah, patah ataupun kecewa. Hanya tenang dalam kesekarangan.

Thio Novi

Related posts

Sangat Bersyukur Sehari Jalan ke Berbagai Kota dan Lancar

Jumat Berselimut Sholawat

Ijazah Antara Ghibah dan Berbantah-bantah