Dengan Izin Allah SWT, diikuti dengan keyakinanan dan sikap istiqomah, maka secara optimistis Reuni ke VI di Lamakera NTT pada April 2023 nanti akan berjalan lancar dan sukses.
Merujuk pemikiran Ibnu Choldun dalam Al-Muqoddimah, bahwa jalan meraih sukses pada sebuah ikhtiar peradaban harus didasari oleh keteguhan keyakinan dan sikap fanatisme.
Reuni nanti dimaksudkan untuk meneguhkan Komitment Kebangkitan Putra Putri Lamakera yang bertebaran di seluruh pelosok Tanah Air.
Bangkit dan bertekad melanjutkan rangkaian agenda yang telah digagas oleh para pendahulu, yaitu Agenda Lamakera sebagai Epicentrum Peradaban Islam (LEPI).
Tentu optimisme itu bukanlah sesuatu yg mengada-ada atau bukan pula tanpa dasar. Bangunan optimisme itu didasari pada event penyelenggaraan pra reuni yang berlangsung selama 3 hari di Kota Kupang, pada 21 – 23 Oktober 2022 lalu.
Pra reuni dengan mengambil lokus Asrama Haji dan GOR Kupang, tentu menjadi barometer dan tolok ukur yang menentukan keberhasilan reuni putra putri pelajar dan mahasiswa, kaum intelektual, buruh, nelayan, papa lele dan orang tua di kampung.
Proses pra reuni kali ini, meskipun hanya merupakan langkah taktis, namun memiliki urgensi dan nilai strategis yang sangat besar bagi eskalasi kebudayaan Lamakera di masa depan.
Pra reuni ini sebagai wahana konsulidasi ide dan gerak, merangkum berbagai irisan, menjahit potensi yang dimiliki oleh putra dan putri Lamakera menjadi satu kekuatan bersama yang solid, sehingga tidak gampang dirontokkan.
Pra reuni merupakan sebuah rekayasa kreatif dan produktif untuk mendorong gerak mobilisasi perubahan.
Dimana pra reuni ini mempertemukan pentolan pentolan anak-anak Lamakera dari berbagai lapisan; dari kaum terdidik dan terpelajar, pemuda, nelayan dan ibu ibu papale, bersama sejumlah orang tua pemuka, tokoh panutan dari Lamakera.
Mereka itu terdiri dari 7 ketua suku adat yang berada di Lamaker, pimpinan madrasah, pengelola masjid, unsur pemuda, komunitas seni budaya, komunitas nelayan dan 2 kepala desa mendampingi tokoh tersebut.
Nampak soliditas yang sungguh indah dan membanggakan, tentu akan menjadi gelombang baru dalam percepatan kerja peradaban di Lamakera.
Diantara tokoh para sesepuh adat Lamakera yang hadir pada event pra reuni Kupang antara lain:
Aba Ilyas Liwu, Kak Abdullah Majudi, Nana Kasim Koli, Nana Alwan, Kak Akbar Usman, Nana Lukman Hakim, Nana Ramdan Maloko, Nana Usman Kikon, Nana Laba dan lain-lain.
Makna lain dari kehadiran para orang tua ini selain memapar agenda masalah yang melingkari Lamakera dan menati pemecahan, juga sebagai bentuk pernyataan sikap untuk menerima amanah penyelenggaraan Reuni VI Putra Putri Lamakera.
Dengan begitu Reuni VI berjalan dengan ketulusan, kerelaan dan tanggung jawab bersama tanpa tendensi dan prasangka.
Dengan demikian pra reuni ini sungguh merupakan kegiatan pendahuluan yang sangat spektakuler.
Tujuan pra reuni ini, tiada lain selain proses ikhtiar mengreorientasikan alam pemikiran, pandangan ide semua anak Lamakera dalam satu tonggak kolektivisme.
Hakekat dari koliektifitas itu, meruntuhkan bangunan serpihan egoisme, individualisme, dan berbagai hal berbau tendensius, watak primitif absurd lainnya itu terdekonstruksi, yang tersisa hanyalah profil kedirian kita sebagai anak Lamakera.
Pembukaan di GOR Kota Kupang, semua anak Lamakera yang hadir dengan menggunakan uniform, baju putih, kopiah hitam dan lilitan kain kawatak bagi pria.
Sedangkan kaum perempuan mengenakan kerudung merah, baju merah dan bawahan kewatak, kain tenun adat Lamaholot, menumpuk riuh gemuruh di GOR.
Acara ini telah mengundang jutaan mata warga Kota Kupang menyoroti hingar bingar apresiasi gelar budaya yg berpusat di GOR itu.
Warna merah putih yang dibalut dengan kain ada, songkok dan jilbab, melambangkan sikap nasionalisme orang Lamakera, keindonesiaan orang Lamakera.
Karena itu jangan pernah meremehkan akan kualitas nasionalisme orang Lamakera.
Event spektakular itu secara maknawi menjelaskan bahwa kehadiran orang Lamakera dalam pra reuni, mendekler bahwa kami satu, dan satu komitmen menuju Reuni VI Lamakera pada April 2023 mendatang.
Itulah pernyataan sikap terbuka yang harus dibaca oleh publik dibalik kemeriahan acara tersebut.
Apalagi pada event pembukaan itu dihadiri oleh aparat, Pemda NTT, Ketua DPRD, staf Gubernur NTT, Wali Kota Kupang.
Tidak ketinggalan sejumlah tokoh Lamaholot senior rekan rekan HMI dan KAHMI turut hadir di Balkon.
Kak Muhammad Wongso, Dr Ahmad Atan, Jahidin Umar, Adinda Amir S Kiwan, Adinda Suhada, Kak Sahrir Usu dan lain-lain.
Di atas altar panggung peradaban, Ahmad Yohan berpidato dengan tutur kata yang santun, teratur, lancar dan jernih, padat makna, layaknya seorang pemimpin nasional yang terlahir dari rahim Lamakera.
Pidato peradaban yang menggelorakan harapan rakyat. Pidato Ahmad Yohan mewakili cita rasa, cita intelektual, cita budaya putra putri kaum terdidik dan warga Lamakera pada umumnya tentang komitmen keindonesiaan orang Lamakera, membangun untuk negeri di manapun orang Lamakera berada.
Orang Lamakera bagai anak panah yang sanggup melesat ke seluruh pelosok NTT menjadi guru pencerah peradaban umat manusia.
Orang Lamakera memiliki etos dan spirit kebersamaan untuk membangun dirinya sendiri. Pada saatnya Pemda NTT membuka mata melihat peran serta dan kesediaan warga Lamakera, agar ada keadilan hak yang harus didapatkan oleh orang Lamakera sebagai warga negara.
Pidato Ahmad Yohan seakan menagih janji kemerdekaan kepada penyelenggara pemerintahan NTT.
Kegiatan seremonial pembukaan itu dirangkai dengan tarian Hedung, Dana Dani kolosal serta lilin.
Semua rangkaian kegiatan itu semakin menjelaskan bahwa secara simbolik orang Lamakera bisa bersatu padu dengan rendah hati dan pikiran cemerlang, kemauan yang tulus, merdeka menjemput perubahan melaui reuni di Lamakera mendatang.
Selain itu agenda pra reuni yang dibingkai dengan pertandingan futsal antara putra Lamakera dari beberapa grup. Grup Lamakera, Grup Kupang, Grup Makasar, Grup Yogyakarta dan Grup Jakarta.
Pertandingan ini bukan untuk seleksi bakat dan minat, bukan juga untuk mencari kalah dan menang, melainkan membulatkan nafas dan menyatukan semangat tolalitas “Ke Lamakeraan” kita.
Suasana persahabatan ini sungguh mengharuhkan karena di situ terjadi pertautan batin, meruntuhkan egoisme, mereduksi supremasi rasionalitas personal, meluluhkan superieoritas personal antar sesama anak Lamakera.
Sejumlah tokoh tenar meskipun telah menggantungkan sepatu, namun terpanggil untuk tampil mewarnai even persahabatan itu.
Di antara mereka yang saya catat antara lain: Nana Elman Edong, Opu Bahruddin Stila, Bintang Primadona Ikan Paus di jamannya. Selain itu ada Nana Malik Usman, M. Opu Ibnu Umar, Nana Taher Maloko, Opu Nurdin Gesi, Opu Ahmad Mustafa, Kadir D Mukin, Opu Guru Bahruddin Mukkin, Adinda Gunawan Hud Usman Mahing , Adinda Ahmad Yohan Natsir Hasan, Nana Muis Kasim, Ananda Gazali Iskandar, Ibnu Iskandar dan lain-lain.
Pada event itu pula tampil sejumlah pemain muda berbakat yang sedang menjadi bintang saat ini, antara lain Ananda Izul Mukin.
Turnamen Futsal ini meski hanya bersifat persabatan, namun tetap mengikuti standar dan kaedah olah raga yang berlaku.
Mobilisasi pra reuni, sejak dari kedatangan delegasi, event pembukaan, tarian lili, dana dani kolosal dan kegiatan futsal, di bawah nakhoda adinda Lukman Hakim, tidak lebih merupakan gambaran bahwa semua kita sanggup bergandeng tangan, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, menyatukan pikiran, membulatkan visi tanpa saling membedakan antar sesama orang Lamakera.
Soliditas ini menjadi point penting dan kunci utama pemecahan segala hal sesulit apapun. Semua ikhtiar dikonsentrasikan mewujudkan agenda Reuni VI Lamakera.
Dari sana tumbuh benih baru yang berkarakter dan berintegritas. Benih yang berenergi baru, tumbuh secara sinergis dan kolaboratif untuk mengusung agenda Lamakera epicentrum peradaban islam.
Pada pra reuni ini telah terjadi dialog tentang ke Lamakeraan kita, semua berbicara perihal Lamakera kita, yang melahirkan sejumlah rekomendasi menuju Reuni VI Putra Putri Lamakera.
Semua rangkaian dialog pra reuni mengalir lancar dan tertib yang dipandu oleh Adinda Mustaqiem Syahdan selaku pimpinan sidang pra reuni.
Penulis: MHR. Shikka Songge