JAKARTA – Ternyata ungkapan “Islam Berkemajuan” pertama kali dilontarkan Presiden Sukarno pada pidatonya tahun 1950-an lalu.
Waktu itu dalam pidatonya, Presiden Sukarno yg pernah menjadi Pengurus Muhammadiyah Bengkulu itu mengatakan, “Islam berkemajuan bukan Islam Sontoloyo”.
Sehingga dari kata “Islam Berkemajuan” itulah akhirnya dipakai Muhammadiyah sehingga menjadi “Muhammadiyah Gerakan Islam Berkemajuan”.
Hal itu diungkapkan Wakil Rektor II UHAMKA Jakarta, Dr Desvian Bandarsyah MPd di Aula Masjid Baitul Hikmah, PCM Tomang, Jakarta Barat, (6/10/24).
Menurut Desvian, saat ini kerja Muhammadiyah adalah kerja sosial bukan kerja politik, seperti mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan dan lain lain.
Dikatakannya, KH Agus Salim pernah berusaha merubah Muhammadiyah menjadi gerakan politik, tetapi waktu itu ditolak para Pemimpin Muhammadiyah.
“Muhammadiyah merupakan gerakan sosial keagamaan, bukan gerakan sosial politik, sehingga Muhammadiyah berpolitik tanpa beban,” ujar Desvian.
Bagi Desvian, sesungguhnya Muhammadiyah dibutuhkan pemerintah, bukan sebaliknya. Sebab Pemerintah tidak bisa mengurus Pendidikan sendirian, tetapi perlu dibantu antara lain oleh Muhammadiyah.
“Dari 180 negara di dunia, SDM Indonesia nomor urut 111 dan hanya lebih unggul dari Timor Leste, Kamboja dan Myanmar, padahal itu sudah dibantu Muhammadiyah melalui lembaga pendidikannya,” ungkap Desvian.
Hari Ber-Muhammadiyah
Sementara itu Ketua PWM DKI Jakarta, Dr H Ahmad Abubakar SE menegaskan, warga Muhammadiyah untuk terus menjaga semangat pembaruan dan berperan aktif bagi bangsa dan negara.
“Tanpa hari Ber-Muhammadiyah, kita bisa mengalami kemunduran dan semangatnya semakin kecil,” tegas Ahli Ekonomi tersebut.
Dikatakannya, perjuangan Muhammadiyah masih panjang dalam membangun masyarakat bangsa dan negara.
“Tanpa memantapkan nilai nilai Islam, sulit bagi Muhammadiyah untuk berkembang”, tegas Ahmad Abubakar.
Sedangkan Ketua PDM Jakarta Barat, Dr Ir H Narmada MA menegaskan, bicara politik sangatlah mulia.
“Sebab politik untuk mencapai tujuan dan melindungi masyarakat dan mensejahterakan serta meningkatkan kecerdasan ummat”, ujar tokoh pengusaha konveksi nasional tersebut.
Sementara itu dalam Diskusi Sosial Politik tersebut, turut sebagai pembicara Prof Dr H Agus Suhardika, H Lukman Hakim SE, H Marjuan Bakri SH, Husen Ishak SH, Jupiter SE dan Dr Aulia Casanova SH.
Redaktur: Abdul Halim