JAKARTA – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menggagas Santri Film Festival (Sanffest) 2025 sejak Februari 2025, berawal dari diskusi kecil kemudian berkembang menjadi gerakan besar.
Sanffest 2025 resmi dimulai sejak 21 Oktober 2025 dan langsung disambut antusias oleh komunitas pesantren di seluruh Indonesia.
Sebanyak 400 pesantren dan ratusan santri telah mendaftarkan diri mengikuti rangkaian program Sanffest mulai dari Ta’aruf Film, workshop, hingga kompetisi film nasional yang memperebutkan total dana apresiasi Rp308 juta.
Menjelang penyelenggaraan Sanfest 2025, panitia menggelar kegiatan NgoFi (Ngobrolin Film) bersama awak media di Galeri Darmin Kopi, Jakarta, pada Senin (10/11/25).
Acara menghadirkan Ketua Komite Sanffest 2025 Neno Warisman, Festival Director Fadhli dan Ali dari Milenia selaku penyelenggara.
Dalam diskusi tersebut, Neno Warisman menegaskan, film santri bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari gerakan kebudayaan menuju Indonesia Emas 2045.
“Film santri membangun negeri adalah spirit yang ingin kami gaungkan, sebagai bukti bahwa santri juga mampu berkiprah di dunia film,” ujar Neno.
Neno menilai, keluhuran nilai-nilai pesantren selama ini telah menjadi fondasi moral bangsa.
“Kami tahu betapa besar peranan pesantren, para kiai, dan habaib dalam sejarah kemerdekaan,” jelasnya.
“Tapi ketika bicara sejarah, sebenarnya sedang bicara masa depan. Indonesia Emas itu ada di pesantren,” ucapnya lagi.
Menurutnya, dunia pesantren yang sarat disiplin, spiritualitas, dan nilai kemanusiaan memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui sinema.
“Bayangkan jika nilai-nilai itu ditransformasikan ke dalam film, tentu akan menjadi khazanah budaya yang sangat menarik,” ungkapnya.
“Film santri bisa menjadi ruang ekspresi sekaligus dakwah kebudayaan,” tuturnya lagi.
Saat ini, terdapat lebih dari 42 ribu pesantren di Indonesia yang menjadi bagian penting dari ekosistem sosial dan pendidikan bangsa.
Bagi Neno, potensi ini harus dirangkai dalam ekosistem kreatif yang lebih luas.
“Kalau generasi sekarang banyak bicara soal mental health, mungkin nilai-nilai dari pesantren bisa menjadi penawar duka bangsa ini,” tuturnya.
Dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan, Sanffest 2025 diharapkan menjadi tonggak lahirnya gerakan budaya dari pesantren untuk Indonesia.
“Kami ingin festival ini menjadi bukti nyata bahwa dunia pesantren bukan hanya penjaga nilai, tetapi juga penggerak kebudayaan yang akan membawa Indonesia menuju masa depan gemilang,” pungkas Neno.
