Fakultas Pertanian Unsri Gelar Penyuluhan Bertajuk ‘Aplikasi Bahan Herbal dalam Pakan untuk Meningkatkan Pertumbuhan Lele’

Foto/Ist

PALEMBANG — Tim Pengabdian kepada masyarakat dari Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri) yang diketuai Yulisman, S.Pi., M.Si melaksanakan kegiatan penyuluhan.

Kegiatan pengabdian ini dengan skema pengabdian berbasis masyarakat bertajuk “Aplikasi Bahan Herbal dalam Pakan untuk Meningkatkan Pertumbuhan Ikan Lele” di lingkungan Sekolah Tahfiz Plus Khoiru Ummah (STPKU), Sematang Borang, Palembang.

Kegiatan beranggotakan Azmi Afriansyah, S.Pi., M.Si., Revita Syefti Palmi, S.Pi., M.Si. dan Muhammad Antony Jefri Pratama, S.P., M.Si., serta dibantu beberapa mahasiswa.

Adapun penggunaan bahan herbal bertujuan meningkatkan performa pertumbuhan ikan lele dengan pemanfaatan pakan yang lebih efisien, sekaligus menekan ketergantungan pada bahan aditif sintetis sebagai booster pertumbuhan ikan.

Acara tersebut dibuka oleh Syafaruddin selaku Ketua Yayasan STPKU, dan materi penyuluhan disampaikan Azmi Afriansyah, S.Pi., M.Si.

Pemateri menyampaikan secara lengkap terkait konsep dasar bahan herbal, proses pembuatan, teknik pencampuran pada pakan, dan pengaplikasian pada ikan.

Banyak bahan herbal yang dapat dimanfaatkan untuk ikan, diantaranya bawang putih, bawang merah, kunyit, jahe, kencur, dan biji pepaya.

Bahan herbal tersebut memiliki banyak manfaat, diantaranya dapat meningkatkan imunitas, mencegah penyakit, meningkatkan daya cerna pakan dan nafsu makan ikan sehingga mampu meingkatkan laju pertumbuhan, dan pemanfaatan pakan oleh ikan lebih efisien, ujarnya.

Peserta yang terdiri atas warga sekitar STPKU dengan profesi sampingan sebagai pembudidaya ikan skala rumahan tidak hanya mendapatkan materi yang bersifat teori, tetapi juga mendapatkan praktek langsung teknis penggunaan dan pencampuran bahan herbal pada pakan menggunakan metode repelleting.

Praktek tersebut dibantu oleh anggota tim melalui penjelasan alur yang mudah dipahami dan diterapkan, dimulai dari pencampuran pakan komersial berbentuk tepung dengan bahan herbal (kombinasi serbuk bawang merah dan biji papaya), kemudian ditambah binder (perekat) dan air sambil diaduk hingga homogen.

Campuran bahan tersebut dicetak menggunakan pencetak pakan dan dikeringkan.

Pakan yang sudah kering dapat diberikan langsung pada ikan, dan atau disimpan di tempat kering sebelum diberikan pada ikan.

Selama kegiatan berlangsung, dibuka sesi diskusi terkait manajemen pemberian pakan khususnya pengaruh pakan herbal terhadap laju pertumbuhan, efisiensi pakan, dan kelangsungan hidup ikan.

Ketua Yayasan STPKU Syafaruddin optimistis atas dampak dari kegiatan ini.

“Penggunaan pakan herbal ini relevan untuk budidaya ikan di lahan sekolah karena aman, ekonomis, dan mudah diaplikasikan terutama menggunakan bahan baku lokal,” katanya.

“Program ini tidak hanya meningkatkan produksi ikan saja, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi santri tentang sains terapan dan kewirausahaan,” lanjutnya.

Tim pengabdian menekankan pentingnya mengetahui dosis bahan herbal yang akan digunakan agar efektif dan efisien.

Selain modul panduan aplikasi herbal, peserta juga menerima lembar evaluasi kegiatan berupa pre dan post-test terkait materi yang telah disampaikan.

Program pengabdian ini tidak hanya terbatas pada kegiatan penyuluhan saja, tetapi juga pendampingan melalui demonstration plot (demplot) untuk mempraktekkan langsung kegiatan budidaya ikan yang diberi pakan herbal, yang didampingi oleh tenaga teknis yaitu mahasiswa sebagai kegiatan tugas akhir (praktek lapangan).

Agenda selanjutnya juga akan dilakukan monitoring, dan evaluasi.

Serangkaian acara ditutup dengan penyerahan beberapa sarana budidaya ikan oleh tim pengabdian kepada pihak sekolah Tahfiz Plus Khoiru Ummah.

Dengan kolaborasi aktif antara tim pengabdian dan pihak STPKU, diharapkan menjadi model budidaya ikan lele yang sehat, pertumbuhan cepat, pakan yang efisien, dan berkelanjutan di kawasan Sematang Borang, sekaligus memperkuat literasi bisnis perikanan di lingkungan pendidikan.

Related posts

KSPI Tegaskan K3 Tidak Bisa Ditawar, Serukan Sosialisasi dan Pelabelan Material Mengandung Bahaya Asbes Bagian dari Hak Pekerja

Sumbang Remitansi Rp220 Triliun, Dewan Kritik Aturan Paspor Diaspora yang Ribet

9 WNI Ditangkap Israel Akhirnya Dibebaskan, DPR: Kawal hingga Tiba Selamat di Indonesia