JAKARTA — Sejumlah perupa dari komunitas Perupa Jakarta (Peruja) bersama alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) membuka pameran seni rupa Paradocs #2 — Run Wild di Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki (TIM).
Pameran tahunan ini menghadirkan puluhan karya dari seniman lintas generasi dengan latar pendidikan, pendekatan visual, dan praktik artistik yang beragam.
Paradocs edisi kedua ini digelar bertepatan dengan ulang tahun TIM serta momentum Hari Pahlawan, menjadikannya ruang refleksi tentang keberanian berkarya dan dorongan untuk melampaui batas-batas konvensi seni.
Kurator Firman Lie menempatkan Paradocs sebagai para-document, yakni cara membaca karya seni yang berdiri di sisi dokumen, bukan semata-mata menjadikannya arsip.
Pendekatan ini melihat karya sebagai peristiwa hidup yang selalu bergerak dan bernegosiasi dengan konteks sosial, budaya, politik, serta dinamika batin pencipta.
Dengan tema Run Wild, pameran ini menekankan kejujuran estetik dan kebebasan kreatif di tengah struktur kota Jakarta yang serba tertata.
“Run Wild bukan ajakan untuk chaos, tetapi dorongan untuk setia pada intuisi dan kegelisahan kreatif,” ujar kurator.
Keliaran kreatif dianggap penting bagi seniman untuk menjaga kesehatan emosional maupun intelektual.
Paradocs #2 juga mempertemukan dua ekosistem besar seni rupa Jakarta.
IKJ membawa struktur akademik serta metodologi formal, sementara Peruja menawarkan spontanitas, otonomi, dan praktik seni berbasis komunitas.
Pertemuan keduanya menciptakan ruang dialog yang mempertemukan teori, pengalaman, serta energi liar yang tidak dibatasi institusi menjadikan pameran ini sebagai “laboratorium terbuka”.
Selain memamerkan karya, Paradocs dirancang sebagai program rutin di TIM untuk mendorong dialog seni lintas generasi, menyediakan dokumentasi alternatif perkembangan seni Jakarta, serta menghidupkan kembali fungsi TIM sebagai ruang eksperimen dan percakapan kritis, terutama setelah revitalisasi fisiknya pada 2020–2022.
Pameran Paradocs #2 — Run Wild dibuka untuk publik pada 25 November hingga 1 Desember 2025 di Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Pengunjung diajak mengalami seni sebagai ruang kemungkinan yang terus bergerak, bukan hanya yang dicatat, tetapi yang hidup.