Home Berita APSF dan Lahirnya Lagu Anthem ‘The Greatest Love of APSF’

APSF dan Lahirnya Lagu Anthem ‘The Greatest Love of APSF’

by Slyika

JAKARTA – ASEAN Para Sports Federation (APSF) merupakan pilar utama dalam pengembangan gerakan paralimpik di kawasan Asia Tenggara.

Organisasi ini memainkan peran strategis dalam membangun semangat inklusivitas, sportivitas, dan persatuan antarnegara ASEAN melalui olahraga disabilitas.

Gerakan paralimpik di Asia Tenggara mulai berkembang sejak tahun 2000 di Kuala Lumpur.

Setahun kemudian, pada 2001, APSF secara resmi didirikan oleh Dato’ Abidin Abu Zarin.

Sejak 2015, tongkat kepemimpinan APSF dilanjutkan oleh Mayor Jenderal Ossot Bavilai, yang hingga kini berperan penting dalam memperkuat fondasi olahraga disabilitas di kawasan ASEAN.

Sebagai organisasi regional, APSF memiliki kewenangan penuh sebagai penyelenggara resmi ASEAN Para Games serta memberikan persetujuan kepada negara-negara yang ditetapkan sebagai tuan rumah ajang tersebut.

Namun, selama lebih dari dua dekade berdiri, APSF belum memiliki lagu anthem resmi yang merepresentasikan semangat, nilai, dan cinta dalam gerakan paralimpik ASEAN.

Dari Panggung Solo 2022 hingga Lahirnya Anthem APSF

Momentum bersejarah terjadi pada ASEAN Para Games Solo 2022. Penampilan lagu tema “S for E”, yang dibawakan oleh Delon Thamrin, Ricardo Ryo, dan Inara Detri, berhasil memukau publik serta para pemangku kepentingan paralimpik Asia Tenggara.

Penampilan tersebut mendorong Sekretaris Jenderal APSF, Wandee Tosuwan, untuk menyampaikan gagasan langsung kepada pencipta lagu “S for E”, Natalia Tjahja, mengenai kebutuhan APSF akan sebuah lagu anthem resmi yang dapat merepresentasikan jiwa dan semangat gerakan paralimpik ASEAN.

Mukjizat 25 Lagu dan Program ‘Charity Songs for The World’

Sebelumnya, Natalia Tjahja mencatat sebuah perjalanan spiritual dan kreatif yang ia sebut sebagai mukjizat.

Pada tahun 2011, dalam kurun waktu 25 hari, ia menciptakan 25 lagu setelah berdoa kepada Tuhan agar dapat mempersembahkan karya musik bagi dunia secara gratis.

Perjalanan tersebut kemudian melahirkan salah satu program kemanusiaan Maria Monique Last Wish Foundation (MMLWF) bertajuk “Charity Songs for The World”.

Dari 25 lagu yang diciptakan, satu lagu secara khusus dipersembahkan oleh Natalia sebagai Anthem resmi APSF, lengkap dengan melodi dan lirik, tanpa unsur komersial.

Aransemen musik lagu ini dikerjakan oleh Yukina Mebuki, musisi asal Jepang. Lagu tersebut diberi judul “The Greatest Love of APSF.”

Peluncuran Resmi dan Momen Bersejarah

Versi pertama Anthem APSF, dalam bentuk melodi instrumental, secara resmi diluncurkan oleh Raja Norodom Sihamoni dalam acara Royal Torch Rally di Siem Reap, Kamboja.

Selanjutnya, lagu ini diperdengarkan pada Upacara Pembukaan ASEAN Para Games Kamboja 2022, yang dihadiri oleh Perdana Menteri Hun Sen dan disaksikan oleh lebih dari 60.000 penonton.

Penyanyi pertama yang membawakan lagu “The Greatest Love of APSF” adalah Delon Thamrin, Jahna Perricone, Ricardo Ryo, dan Natalia Tjahja.

Seluruh partisipasi tersebut dilakukan secara tulus, from the heart, tanpa kepentingan komersial.

Lagu ini kembali diputar pada Upacara Pembukaan ASEAN Para Games 2026 di Nakhon Ratchasima, Thailand, dengan aransemen khusus yang dibawakan oleh Thailand Army Band, salah satu kelompok musik militer terbesar di negara tersebut.

Wandee Tosuwan, Sekjen Asean Para Sports Federation( APSF) menyampaikan, lagu anthem APSF tersebut kemudian dikembangkan menjadi empat versi berbeda.

“Dengan lagu yang sama yang diciptakan oleh Natalia, saya mengembangkannya menjadi empat versi,” ujarnya.

Natalia mengungkapkan, tanpa disadarinya, para perwakilan negara ASEAN mengenalnya sebagai Composer of APSF Anthem.

“Beberapa Presiden National Paralympic Committee menghampiri saya dan menyampaikan bahwa lagu anthem ini sangat menyentuh hati. Semua itu hanya karena Tuhan,” ujar Natalia.

Dedikasi, Apresiasi

Anthem APSF untuk menaikkan bendera APSF diperdengarkan setelah penampilan sejumlah selebriti Thailand, di antaranya Gam Wichayanee Pearklin (Gam The Star), Aphaphorn Nakhonsawa, Sunaree Ratchasima, MILLI, serta Tachaya Prathumwan (Keng Tachaya).

“Saya bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan. Dengan cara yang senyap, saya mengibarkan bendera Merah Putih di setiap Asian Para Games dan ASEAN Para Games, untuk seumur hidup Asia,” tutur Natalia Tjahja.

Dalam perjalanan panjang dedikasinya terhadap gerakan paralimpik, Natalia menyebut sejumlah tokoh yang memiliki arti penting, antara lain Andrew Parsons, Majid Rashed, Tarek Souei, Ossot Bavilai, Wandee Tosuwan, Raja Sapta Oktohari, almarhum Nick Bhirombhakdi, Naiyanob Bhirombhakdi, Senny Marbun, Rima Ferdianto, serta Dr. Nino.

“Thailand selalu mengingatkan saya kepada Jenderal Wandee Tosuwan, yang memiliki dedikasi luar biasa bagi negara-negara ASEAN dan sangat mendukung lagu Anthem APSF,” ujar Natalia.

Ia juga mengenang almarhum Nick Bhirombhakdi, Presiden NPC Thailand.

“Beliau memiliki hati yang luar biasa bagi atlet disabilitas dan selalu mendukung kegiatan charity MMLWF,” pungkas Natalia.

You may also like

Leave a Comment