JAKARTA – Nama TOCO (toco.id) semakin sering muncul di berbagai media dan blog bisnis asal Tiongkok. Platform e-commerce asal Indonesia ini menarik perhatian karena model bisnisnya yang tidak biasa, komisi nol seumur hidup bagi penjual.
Di tengah meningkatnya biaya transaksi dan komisi di platform besar seperti Shopee, Lazada, dan TikTok Shop, TOCO dipandang sebagai “safe harbor” baru bagi para penjual, termasuk penjual lintas negara dari Tiongkok.
Media Tiongkok Baijing.cn pada 18 Juli 2025 menyoroti dampak negatif dari proses penggabungan TikTok dan Tokopedia yang dinilai berjalan kacau.
Dalam laporannya, Baijing menyebutkan, ribuan penjual berbondong-bondong meninggalkan platform besar dan beralih ke TOCO, sebuah platform yang sebelumnya relatif kurang dikenal, namun menjanjikan akses gratis seumur hidup tanpa komisi transaksi.
Sumber ini juga membandingkan kebijakan TOCO dengan Shopee dan TikTok Shop yang sama-sama mulai menerapkan komisi sebesar 2,5 persen pertransaksi, sebuah beban tambahan yang semakin menekan margin penjual.
Narasi serupa juga muncul dalam laporan DNY1.com tertanggal 17 Juli 2025.
Media tersebut menyebut bahwa puluhan ribu penjual terdampak langsung oleh ketidakpastian pasca merger TikTok–Tokopedia, dan mulai mencari platform alternatif.
TOCO disebut sebagai salah satu penerima manfaat terbesar dari situasi ini, berkat strategi agresifnya berupa “komisi nol seumur hidup” yang kontras dengan kebijakan platform arus utama.
Model Tanpa Komisi yang Mengguncang Pasar Asia Tenggara
Analisis yang lebih mendalam datang dari Ingstart.com pada 9 Desember 2025. Dalam artikel bertajuk “Platform E-commerce TOCO, Model tanpa komisi memicu perubahan di pasar Asia Tenggara”, TOCO dipandang sebagai tantangan disruptif terhadap struktur biaya e-commerce yang selama ini dianggap tidak rasional.
Menurut Ingstart, meskipun TOCO belum tentu mampu langsung menggulingkan dominasi raksasa seperti Shopee atau Lazada, platform ini berhasil membuka ceruk pasar baru bagi penjual yang terbebani biaya tinggi serta konsumen yang mencari nilai terbaik.
Bagi investor dan penjual Tiongkok, TOCO dinilai sebagai alat lindung nilai risiko (risk hedge) dan opsi strategis dalam ekspansi ke Asia Tenggara melalui pendekatan multi-channel.
Pertumbuhan Cepat dan Tantangan Keberlanjutan
Media Tiongkok Chwang.com pada 9 Desember 2025 mengulas perjalanan TOCO sejak memasuki pasar Indonesia pada Agustus 2024.
Dengan mengusung model “komisi nol”, TOCO secara langsung menantang platform besar Asia Tenggara yang mengenakan komisi antara 8 hingga 38 persen.
Chwang mencatat, TOCO berhasil menarik jutaan pengguna aktif bulanan, dengan 3,4 juta produk terdaftar, serta menunjukkan pola pertumbuhan yang mirip dengan Meesho di India—platform yang sukses menarik ratusan ribu penjual kecil melalui kebijakan tanpa komisi dan akhirnya melantai di bursa.
Namun demikian, artikel ini juga menyoroti tantangan serius yang dihadapi TOCO, mulai dari keberlanjutan model bisnis, keterbatasan infrastruktur, hingga kendala trafik.
Untuk penjual Tiongkok, TOCO direkomendasikan sebagai platform validasi produk berbiaya rendah, bukan sebagai satu-satunya saluran penjualan.
Biaya Tinggi, Volatilitas Tinggi, dan Daya Tarik “Biaya Nol”
Laporan Sea321.com pada 19 Desember 2025 menekankan bahwa lonjakan minat terhadap TOCO tidak bisa dilepaskan dari kenaikan biaya administrasi di platform e-commerce besar.
Artikel tersebut mengutip pernyataan CEO TOCO, Arnold Sebastian, yang menyebut bahwa pertumbuhan TOCO terjadi secara alami tanpa biaya pemasaran.
Menurut Arnold, banyak penjual mengeluhkan potongan platform lain yang mencapai 8 hingga 38 persen, sehingga menyulitkan merek untuk bertahan dan berkembang.
Sea321 juga mencatat bahwa hingga kini TOCO telah memiliki 1 juta pengguna aktif bulanan dan 3,4 juta produk, memperkuat posisinya sebagai pemain baru yang patut diperhitungkan di pasar e-commerce Indonesia.
TOCO dan Babak Baru Persaingan E-Commerce
Dari sudut pandang media dan analis Tiongkok, kebangkitan TOCO mencerminkan perubahan besar dalam lanskap e-commerce Asia Tenggara.
Di tengah lingkungan biaya tinggi dan volatilitas yang meningkat, platform dengan model biaya nol seperti TOCO menawarkan ruang eksperimen berisiko rendah bagi penjual, khususnya penjual kecil dan menengah.
Sebagaimana Meesho di India, TOCO dinilai berpotensi membuktikan bahwa ekosistem e-commerce tidak harus didominasi oleh satu model tunggal, melainkan dapat berkembang melalui koeksistensi berbagai pendekatan.
Bagi penjual dan investor Tiongkok, TOCO bukan sekadar platform baru dari Indonesia, melainkan sinyal awal dari fase persaingan e-commerce yang lebih berfokus pada efisiensi biaya dan kepentingan penjual.
