KABUPATEN Lahat terkenal dengan peninggalan megalitik bahkan sudah diketahui keberadaan megalitik Kabupaten Lahat sejak tahun 1849 dengan hasil temuan megalitik oleh Letnan Inf. Ullman dan dibukukan oleh Van der Hoop pada tahun 1932.
Peninggalan megalitik Kabupaten Lahat tersebar di 17 kecamatan terutama di bagian hulu Kabupaten Lahat mulai dari Kecamatan Pulau Pinang hingga Muara Payang dan Tanjung Sakti Pumi. Sedangkan di bagian hilir Kabupaten Lahat selama ini ditemukan peninggalan megalitik di Kecamatan Merapi Barat yaitu di Desa Tanjung Telang.
Ternyata di bagian selatan Merapi area juga ditemukan peninggalan megalitik tepatnya di Desa Suka Merindu Kecamatan Merapi Selatan yang merupakan eks Marga Empat Suku Negeri Agung. Penemuan megalitik di desa ini menjadi satu-satunya peninggalan megalitik di Kecamatan Merapi Selatan.
Desa Suka Merindu Kecamatan Merapi Selatan merupakan satu dari sembilan desa di kecamatan ini. Desa dengan luas wilayah 125 ha dan berpenduduk 782 jiwa, saat ini dipimpin oleh Kepala Desa Erpan dan Sekretaris Yuhandi.
Secara geografis desa ini berada di selatan Bukit Barisan dan berbatasan dengan Sungai Serelo di bagian utara, Desa Lubuk Pedare di bagian barat dan Desa Tanjung Beringin dan Desa Perangai di bagian timur.
Pada pertengahan bulan Februari 2026, kami Tim Inventarisasi dan Dokumentasi Megalitik Kabupaten Lahat yang terdiri dari Maryoto selaku ketua tim, bersama anggota Saidina Amin, Suparjo, Solikhin, Agus Rahman, Samsudin, didampingi oleh Erpa (Kepala Desa Suka Merindu) dan Yuhandi (Sekdes Suka Merindu) melakukan kunjungan ke situs megalitik di Desa Suka Merindu.
Keberadaan megalitik di wilayah ini berada di bagian selatan desa atau ke arah Bukit Barisan. Untuk menuju lokasi situs megalitik dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau kendaraan roda dua. Kami menuju lokasi dengan menggunakan kendaraan roda dua dengan jarak tempuh kurang dari 10 menit dengan menyusuri jalan setapak dan menyeberangi jembatan gantung di atas sungai Suban yang mengalir dari Bukit Barisan.
Setiba di lokasi situs yang merupakan lahan perkebunan berupa kebun singkong dan jagung yang sebelumnya pernah ditanami cabe dan padi, kami langsung menuju ke peninggalan megalitik yang tadi diceritakan oleh sang kades.
Benda megalitik yang pertama kami lihat adalah lumpang batu berlubang satu yang biasa disebut masyarakat sebagai lesung batu. Benda megalitik seperti ini memang sangat banyak ditemukan di Kabupaten Lahat. Hingga kini jumlah temuan lumpang atau lesung mencapai ratusan jumlahnya. Benda dengan lubang bundar di atas biasanya kami sebut dengan lumpang batu sedangkan benda dengan lubang memanjang kami sebut dengan lesung batu.
Lumpang batu di Ataran Dusun Lame ini mempunyai lubang satu dengan diameter sebesar 19 cm dan merupakan lubang diameter lumpang batu paling besar, biasnya lubang lumpang batu di bagian hulu Lahat dengan diameter rata-rata sebesar 14 cm. Untuk kedalaman lubang lumpang batu 19 cm sama dengan diameter lubang. Lumpang batu secara keseluruhan mempunyai panjang 87 cm, lebar 68 cm dan tinggi 25 cm yang berada di ketinggian 152 mdpl di lahan milik Amiludin seluas ¼ ha. Posisi lumpang batu berada tepat di pinggir pagar.
Selain lumpang batu di lahan ini ditemukan juga tetralith (batu formasi susun empat) akan tetapi tetralith ini sudah tidak utuh lagi karena dua batu sudah dipecah-pecah. Ada dua batu yang masih utuh, batu pertama masih berdiri kokoh dengan ukuran tinggi 95 dan lebar 91, batu kedua masih utuh tetapi dalam posisi roboh dengan ukuran panjang 144 dan lebar 107 sedang dua batu lainnya sudah pecah. Selain kedua benda megalitik tersebut juga banyak sebaran bebatuan dan dapat kami identifikasi sebagai tetralith dan monolith.
Lokasi keberadaan benda megalitik tidak jauh dari sungai Suban yang berjarak sekitar 100 meter di kaki Bukit Barisan yang merupakan lokasi pertama Desa Suka Merindu yang bernama Dusun Lame, kemudian lokasi desa pindah ke lokasi baru yang bernama Talang Berase lalu pindah lagi ke Talang Mayang dan berganti nama menjadi Suka Merindu hingga kini ujar Erpan menceritakan sejarah desanya.
Dengan adanya peninggalan situs megalitik di Desa Suka Merindu membuktikan bahwa daerah ini sudah menjadi lokasi pemukiman pada masa prasejarah dan hal ini tak mengherankan karena area Merapi Selatan bertetangga dengan Kecamatan Pagar Gunung dan Mulak Ulu yang juga banyak ditemukan peninggalan megalitik bahkan wilayah ini sering disebut dengan sebutan Mulak Ilir. Jadi sebaran megalitik menyebar hingga wilayah Merapi Selatan.
Selain peninggalan megalitik yang merupakan daya tarik wisata budaya di Desa Suka Merindu juga ditemukan daya tarik wisata alam berupa air terjun atau cughup yang dikenal dengan nama Cughup Renalap yang berada sekitar 6 km dari desa. Cughup dengan air nan jernih mengalir di sungai Suban dari Bukit Barisan akan menjadi daya tarik tersendiri.
Dengan adanya daya tarik wisata tersebut maka dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata dan mendukung destinasi wisata yang telah berkembang sebelumnya di dekat desa ini yaitu destinasi wisata Bukit Besak, Bukit Batu Putri dan Bukit Kuning.
Penulis: Mario Andramartik
