Strategi Militer Merebut Kembali Kota Suci Yerusalem

Jenderal Qassem Sulaimani, Jenderal Ahli Strategi Militer Iran yang dibunuh Presiden Donald Trump (2020) di Bandara Baghdad yang hampir saja menyebabkan perang besar AS vs Iran, telah merancang strategi militer untuk merebut kembali Kota Suci Yerusalem (Baitul Maqdis) dari tangan penjajah Zionis Israel yang berhasil menguasainya sejak tahun 1967 dalam Perang 6 Hari melawan negara negara Arab.

Jenderal Sulaimani yang berpengalaman dalam Perang Iran-Irak (1980-1988) dan berhasil mengusir ISIS yang hampir menguasai Baghdad (2014) dan selalu memimpin pertempuran dari garis depan medan pertempuran itu merancang strategi militer Pengepungan Israel dari segala penjuru.

Jenderal Sulaimani membentuk milisi milisi bersenjata proxy Iran di berbagai negara yang mengelilingi Israel.

Di Lebanon dibentuk milisi Hizbullah, Irak dibentuk milisi As Saabi, Yaman milisi Houthi dan Suriah milisi Al Quds.

Para milisi itu tidak hanya dilatih oleh pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang dipimpin Jenderal Sulaimani, tetapi juga dibiayai dan dipersenjatai dengan senjata senjata modern buatan Iran seperti Drone bahkan Rudal.

Tujuan akhir dari Sulaimani adalah merebut kembali Kota Suci Yerusalem dan Masjidil Al Aqsho dari tangan Zionis Israel sekaligus menghapus Israel dari peta dunia sebagaimana wasiat dari tokoh Revolusi Islam Iran, Ayatullah Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei.

Nampaknya strategi hebat dari Jenderal Ahli Strategi Militer Iran itu sudah dibaca para Jenderal di Washington dan Tel Aviv.

Akhirnya diambil keputusan oleh Presiden Donald Trump untuk melenyapkan Sulaimani (2020) terlebih dahulu setelah itu baru Ayatullah Ali Khamenei (2026) sebelum Strategi Militernya itu berjalan mulus.

Strategi Shalahuddin Al Ayyubi

Sebenarnya hambatan terbesar untuk merebut kembali Kota Suci Yerusalem dan menghapus Rezim Zionis Israel dari peta dunia, bukanlah dukungan penuh AS atas negara Zionis tersebut, dimana saat ini AS memiliki 37 pangkalan militer di berbagai negara Arab dan Teluk Persia yang mengepung Iran.

Hambatan terbesar sesungguhnya adalah kehadiran rezim rezim otoriter Arab yang selalu membela dan mendukung Israel, sehingga negara Zionis Yahudi itu semakin kuat dan arogan dalam menjajah Palestina.

Rezim rezim otoriter Arab itu ketakutan akan tumbang jika tidak mendukung Zionis Israel dan mempersilahkan AS membangun berbagai pangkalan militer di negaranya.

Mereka belajar dari tumbangnya rezim Muamar Khadafi di Libia dan Bashar Al Assad di Suriah serta Omar Al Basyir di Sudan serta Muhammad Mursi di Mesir.

Maka satu satunya jalan untuk merebut kembali Kota Suci Yerusalem dan menghapus Israel dari peta dunia dan memerdekakan Palestina adalah menumbangkan rezim rezim otoriter Arab itu terlebih dahulu dan menggantinya dengan pemerintahan demokratis yang membela Palestina, seperti yang terjadi pada Revolusi Iran 1979 yang berhasil menumbangkan Rezim Shah Iran pro Zionis Israel antek AS menjadi Rezim Islam yang anti Zionis Israel dan musuh AS.

Rezim rezim otoriter Arab seperti Arab Saudi, Kuwait, Qatar, UEA, Bahrain, Yordania dan Mesir adalah pendukung kuat rezim Zionis Israel yang disokong AS.

Rezim rezim otoriter Arab itu harus ditumbangkan terlebih dahulu dan diganti dengan pemerintahan yang demokratis pendukung kemerdekaan Palestina.

Baru setelah itu Kota Suci Yerusalem yang sekarang menjadi Ibukota Zionis Israel berhasil direbut kembali dan Palestina menjadi negara merdeka.

Strategi hebat itu juga pernah dilakukan oleh Jenderal Shalahuddin Al Ayyubi untuk merebut kembali Kota Suci Baitul Maqdis (Yerusalem) dari tangan Pasukan Salib pada Abad Pertengahan lalu yang telah menguasainya selama hampir 1 Abad.

Shalahuddin melihat hambatan utama untuk merebut kembali Baitul Maqdis adalah dukungan dari rezim rezim Arab sekitar pada pasukan Salib seperti Rezim Bani Fatimiyah yang berkuasa di Kairo, Mesir.

Untuk itu Shalahuddin menyerang terlebih dahulu Mesir untuk menumbangkan kekuasaan Kekhalifahan Bani Fatimiyah.

Setelah Bani Fatimiyah tumbang dan wilayah sekitar Baitul Maqdis berhasil dikuasainya dan Shalahuddin berhasil memenangkan Perang Hitting melawan Pasukan Salib, Shalahuddin baru mengerakkan pasukannya menyerbu Kota Suci Yerusalem dan berhasil menguasainya kembali dengan cara damai setelah hampir 100 tahun dikuasai Pasukan Salib dari Eropa atas restu dari Paus di Vatikan.

Jadi kalau strategi militer dari Jenderal Qassem Sulaimani belum berhasil merebut kembali Kota Suci Yerusalem dari pasukan Zionis Israel, maka perlu digelar Strategi Militer mencontoh Jenderal Shalahuddin Al Ayyubi dalam merebut kembali Kota Suci Baitul Maqdis (Yerusalem) dari Pasukan Salib dari Eropa pada Abad Pertengahan lalu.

Wallahu A’lam.

Abdul Halim
Analis Politik Timur Tengah, tinggal di Jakarta

Related posts

Ijazah Antara Ghibah dan Berbantah-bantah

Bersyukur Semua Teman di Kejaksaan Promosi Kajati dan Sekretaris Jaksa Agung Muda

Pernyataan Resmi Taipei Economic and Trade Office (TETO) di Indonesia