Kuliah di Harvard dan MIT, Ini Cerita Pengalaman Artis Agatha Chelsea

BERITAIND.COM, JAKARTA – Penyanyi sekaligus penulis lagu Agatha Chelsea membagikan pengalamannya menjalani perkuliahan di dua kampus ternama dunia, Harvard University dan Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Chelsea mengaku senang mendapat kesempatan mengikuti kelas di Harvard dan MIT.

Menurutnya, kedua kampus tersebut memiliki lokasi yang berdekatan sehingga memungkinkan dirinya untuk mengeksplorasi kesempatan belajar di keduanya.

Ia merasa pengalaman tersebut memberikan banyak ruang untuk memperluas wawasan sekaligus mendalami berbagai minat yang dimilikinya.

“Bisa kelas di dua kampus sekaligus, obviously senang banget sama kesempatannya. Harvard sama MIT kan dua-duanya sekolah Ivy yang kebetulan banget lokasinya dekat, jadi makanya bisa ambil keduanya,” ujar Agatha Chelsea.

Chelsea mengatakan Harvard dan MIT sama-sama memberikan banyak kesempatan serta sumber daya yang mendukung proses belajarnya.

Ia pun merasa beruntung dapat mengeksplorasi berbagai hal yang sesuai dengan minatnya selama berada di lingkungan akademik tersebut.

Salah satu hal yang paling menarik perhatian Chelsea dari Harvard adalah sistem pembelajaran yang diterapkan.

Ia menyebut metode belajar di Harvard banyak menggunakan studi kasus sehingga mahasiswa tidak hanya menerima materi dari dosen, tetapi juga dituntut aktif berdiskusi dan berpikir kritis.

“Hal yang paling menarik dari Harvard adalah sistem belajarnya. Di Harvard itu banyak banget pakai case study, jadi lebih banyak diskusi. Dosennya nggak memberikan jawaban secara langsung,” katanya.

Menurut Chelsea, proses belajar di Harvard tidak terlalu berorientasi pada metode kuliah satu arah atau lecture based.

Mahasiswa justru didorong untuk bertukar pendapat, menganalisis persoalan, dan membangun pemikiran berdasarkan hasil diskusi.

Pengalaman tersebut kemudian ingin diterapkan Chelsea dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam membiasakan diri untuk berpikir lebih kritis sebelum mengambil keputusan.

“Setelah ikut kelas di Harvard, yang pengen aku terapkan dalam kehidupan sehari-hari pastinya buat berpikir lebih kritis,” tuturnya.

Selain kemampuan berpikir kritis, Chelsea juga mendapatkan pelajaran penting mengenai bagaimana menentukan prioritas.

Menurutnya, banyaknya kesempatan yang tersedia di Harvard justru membuat mahasiswa harus mampu memilih dengan bijak karena waktu yang dimiliki tetap terbatas.

“Di Harvard itu banyak banget kesempatannya, tapi waktu yang kita miliki kan memang limited. Jadi perlunya untuk memprioritaskan, mengukur skala prioritas dari setiap hal yang mau diambil,” jelas Chelsea.

Ia menyadari bahwa seseorang tidak mungkin menjalankan seluruh kesempatan yang datang secara bersamaan.

Karena itu, diperlukan kesadaran untuk menentukan mana yang benar-benar penting dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

“Lebih punya intention, lebih bisa mengukur dan menyadari bahwa kita nggak bisa melakukan semuanya secara bersamaan. Jadi harus kita sendiri yang bisa mengatur dan pintar-pintar sendiri dalam memilih prioritas mana yang mau dikerjakan dulu, kesempatan mana dulu yang mau diambil,” lanjutnya.

Sementara itu, Chelsea melihat pengalaman belajar di MIT memiliki karakter yang berbeda dibandingkan Harvard.

Jika Harvard lebih banyak berkaitan dengan ilmu sosial, MIT menurutnya memiliki pendekatan yang lebih teknis dengan fokus pada sains, teknologi, teknik, dan matematika atau STEM.

“Buat MIT sendiri memang agak beda sama Harvard, karena Harvard kan lebih fokusnya ke ilmu sosial. Jadi memang di sana, kalau Harvard itu lebih about social innovation, terus how to create change, jadi lebih sosial,” ungkapnya.

“Sedangkan MIT itu lebih teknis dan lebih STEM, lebih science, lebih teknologi, karena it’s a technology school. So obviously profesornya pun cara dia untuk mengajar tuh lumayan beda,” sambung Chelsea.

Perbedaan pendekatan tersebut membuat Chelsea mendapatkan pengalaman belajar yang beragam.

Baginya, kesempatan berada di dua lingkungan akademik dengan karakter berbeda menjadi pengalaman berharga untuk memperluas perspektif sekaligus mengenali cara belajar yang paling sesuai dengan dirinya.

Related posts

Buka Restoran Korea Min Sok Chon, Inul Daratista Optimistis Bakal Digemari Masyarakat

Film ‘Semua Akan Baik-Baik Saja’ Raih 4 Nominasi di Cinemag Magz, Baim Wong Ungkap Rasa Syukur

Delisha Okta Mahasiswi di Jogya dengan Setengah Juta Lebih Streams Spotify, Rilis Single ‘Akhir Cerita’