BERITAIND.COM, JAKARTA – Santri Film Festival (SANFFEST) kembali digelar pada 2026 dengan membawa semangat film sebagai ruang bagi santri untuk berkarya.
Tak hanya soal film, SANFFEST 2026 juga menyampaikan gagasan, sekaligus menghadirkan nilai-nilai Alquran dalam cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Memasuki tahun kedua penyelenggaraannya, SANFFEST 2026 mengusung tema besar ‘The Verses in Motion’.
Tema ini menjadi panggilan bagi para santri untuk tidak sekadar memindahkan teks Alquran ke layar lebar, melainkan menggali esensi nilai di dalamnya dan mengolahnya menjadi karya sinema yang kreatif serta kontekstual.
Ketua Komite SANFFEST 2026 Neno Warisman menegaskan, festival ini merupakan upaya berkelanjutan untuk memperluas panggung bagi santri dalam menyampaikan gagasan.
“Penyelenggaraan festival tahun kedua menjadi bagian dari upaya membuka ruang yang lebih luas bagi santri untuk menyampaikan gagasan melalui film,” ujar Neno saat jumpa pers SANFFEST 2026 di bilangan Jakarta, Senin (21/9/26).
Kolaborasi Pesantren dan Industri Perfilman
SANFFEST 2026 juga berfungsi sebagai jembatan yang mempertemukan lingkungan pesantren dengan ekosistem profesional perfilman Indonesia.
Sejumlah nama besar di industri sinema tanah air turut ambil bagian, di antaranya Tyo Pakusadewo, Mario Irwinsyah, Fajar Bustomi, hingga aktris senior Niniek L. Karim yang bertindak sebagai juri.
Keterlibatan para praktisi ini memastikan karya-karya santri dikurasi dengan perspektif industri yang matang.
Selain itu, figur publik Syakir Daulay yang memiliki latar belakang santri juga terlibat aktif.
Menurutnya, festival ini adalah sarana efektif bagi generasi muda pesantren untuk mengembangkan cara penyampaian nilai-nilai agama melalui medium yang memiliki jangkauan luas.
Kategori Kompetisi dan Nominasi
Project Manager SANFFEST Fadhli Sapawie menjelaskan, tahun ini kompetisi dibagi menjadi tiga kategori utama: Santri Pelajar, Santri Umum, dan Inklusi.
Kategori Inklusi secara khusus dihadirkan untuk merangkul peserta dari kalangan disabilitas serta mereka yang berada di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Dengan total hadiah mencapai Rp415 juta, SANFFEST 2026 tidak hanya berhenti pada ajang perebutan juara.
Rangkaian kegiatan festival dirancang untuk memberikan pengalaman mendalam bagi peserta, mulai dari Jaulah (kunjungan) bersama sineas internasional, proses kurasi, screening karya, hingga puncaknya pada Malam Anugerah SANFFEST 2026.
Melalui pendekatan ini, film diposisikan sebagai alat bagi santri untuk mengasah perspektif, kemampuan bercerita, dan kreativitas visual dalam menghadirkan nilai-nilai Alquran yang relevan dengan tantangan zaman saat ini.
Neno menyebutkan, festival ini sebagai ruang bagi santri untuk mengembangkan kreativitas sekaligus membawa nilai-nilai yang selama ini hidup di lingkungan pesantren ke dalam medium yang lebih luas.
“SANFFEST ingin mendorong santri agar tidak berhenti menjadi penonton perkembangan industri kreatif,” katanya.
“Mereka juga perlu memperoleh ruang untuk menjadi pencipta cerita dengan perspektif yang lahir dari pengalaman dan lingkungan mereka sendiri,” jelas Neno lagi.
Ke depan, Neno optimistis SANFFEST akan berlangsung lama dan mendunia.
“Nantinya tidak hanya berlangsung dan tayang di Indonesia, tetapi bisa Go Internasional,” tandasnya.