BERITAIND.COM, BANDUNG – Tim Pembentukan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Telkom University melakukan benchmarking ke sejumlah perguruan tinggi yang memiliki pengalaman dalam pengembangan pendidikan HI, yakni Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Universitas Padjadjaran (Unpad), dan Universitas Pertahanan (Unhan).
Kunjungan yang berlangsung 5-7 Oktober 2026, menjadi bagian dari proses pematangan rancangan Program Studi HI Telkom University, mulai dari kurikulum, profil lulusan, kekhasan keilmuan, pengalaman mahasiswa, hingga pengembangan kerja sama internasional.
“Benchmarking ini bukan untuk meniru program studi yang sudah ada, tetapi untuk melihat praktik yang telah teruji, memahami kebutuhan dunia kerja, kemudian merumuskannya sesuai karakter Telkom University,” kata Ketua Tim Pembentukan Program Studi HI Telkom University Dr. Asaas Putra, Senin (12/10/26).
Tim Telkom University berdiskusi mengenai pengembangan kurikulum dan profil lulusan bersama Kaprodi Hubungan Internasional FISIP Unpar, Dr. rer. pol. Albert Triwibowo.
Albert menjelaskan, HI Unpar mempertahankan karakter generalis, tetapi terus menyesuaikan profil lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. S
elain diplomat, profil lulusan dikembangkan mencakup analis, praktisi, dan pegiat media.
Mahasiswa mulai diarahkan pada pilihan profil tersebut sejak semester lima yang kemudian menentukan paket mata kuliah yang diambil.
“Setiap program studi HI memiliki kekhasan masing-masing. Di Unpar kami tetap generalis, tetapi mahasiswa dapat mulai menentukan ingin berkembang sebagai diplomat, analis, praktisi, atau pegiat media, sehingga jalur pembelajarannya bisa disusun sesuai tujuan tersebut,” kata Albert.
Benchmarking berlanjut ke Program Studi Hubungan Internasional FISIP Unpad, Selasa 6 Oktober 2026.
Kaprodi HI Unpad, Prof. Dr. Arfin Sudirman menjelaskan, perkembangan ilmu HI semakin bersinggungan dengan berbagai disiplin lain.
Karena itu, penguatan bidang kajian menjadi penting, salah satunya melalui studi keamanan yang menjadi salah satu kekuatan HI Unpad.
Menurut Arfin, kurikulum HI juga perlu terus disesuaikan dengan perkembangan state of the art serta kebutuhan ilmu dan dunia kerja. Unpad antara lain mengembangkan pengalaman internasional mahasiswa melalui program international exposure, serta pembelajaran bahasa asing seperti Mandarin, Prancis, Rusia, Jepang, Korea, dan Spanyol.
“HI terus berkembang dan bersinggungan dengan banyak bidang. Karena itu, kurikulum tidak boleh berhenti pada apa yang sudah mapan, tetapi harus mengikuti perkembangan isu dan kebutuhan ke depan,” ujar Arfin.
Sementara itu, pada benchmarking di Unhan, Rabu 7 Oktober 2026, Tim Telkom University berdiskusi dengan Wakil Dekan 1 Fakultas Strategi Pertahanan, Brigjend Dr. Yermia Hendarwoto,S.H., M.H.,M.Th, Wakil Dekan 2 Pejabat Laksamana Pertama Bondan,S.T., S.Si., M. Si., M. Tr. Hania, Kaprodi Diplomasi Pertahanan Unhan, Dr. Mohammad Zaini, serta para kaprodi FSP. Salah satu penekanan utama adalah pentingnya fondasi keilmuan HI sebelum mahasiswa diarahkan pada spesialisasi.
“Lulusan HI harus memiliki fondasi yang kuat. Tanpa pemahaman tentang sejarah, strategi, dan teori dasar, kemampuan mereka dalam membaca persoalan strategis akan menjadi kurang tajam ketika masuk ke dunia kerja,” kata Brigjend Dr. Yermia Hendarwoto.
Diskusi juga menyoroti perubahan makna pertahanan yang tidak lagi semata-mata berkaitan dengan militer.
Ancaman siber, hoaks, dan persoalan tata kelola ruang digital dinilai semakin penting.
Zaini melihat tata kelola siber sebagai salah satu ruang yang dapat dikembangkan, terutama karena norma internasional dan regional ASEAN mengenai isu tersebut masih terus berkembang, sementara kewenangan di tingkat nasional melibatkan berbagai institusi.
Pengalaman dari Unpar, Unpad, dan Unhan menjadi masukan penting bagi Telkom University dalam menyusun Prodi HI yang memiliki fondasi akademik kuat sekaligus pembeda yang jelas.
Dari kurikulum berbasis kebutuhan lulusan, penguatan studi keamanan, internasionalisasi, hingga isu teknologi dan tata kelola siber, benchmarking tersebut memperluas bahan pertimbangan dalam merumuskan arah keilmuan prodi.
“Yang kami cari adalah titik temu antara standar keilmuan HI yang sudah teruji dengan kekuatan Telkom University sebagai perguruan tinggi berbasis teknologi. Dari sana kami ingin melahirkan kekhasan yang benar-benar relevan dan memiliki nilai tambah,” ujarnya.
