MAKASSAR – Hoaks menyebar dengan cepat di era digital saat ini karena kemudahan dalam menyebarkan informasi melalui media sosial, pesan instan, dan platform online lainnya.
Bahkan, hoaks membutuhkan waktu yang sangat singkat untuk menyebar, sementara itu klarifikasinya lambat sekali.
Bisa 10 kali lebih lambat untuk menyebar dibandingkan hoaks itu sendiri.
Demikian ditegaskan aktivis ICT Watch Savero Karamiveta Dwipayana pada kegiatan pelatihan tenaga promosi kesehatan dan kader kesehatan se-Kota Makassar yang bertajuk Pelatihan Komunikasi Antar Pribadi (KAP) dan Literasi Digital Kesehatan di Kota Makassar, Sabtu (20/5/23).
Kegiatan ini merupakan bagian dari kesekian kali program Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas).
Hal ini merupakan bentuk komitmen Portkesmas bersama Dinas Kesehatan dan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga Kota Makassar didukung oleh Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi, Pemerintah Kota Makassar, Rumah Sakit Bhayangkara Makassar serta mendapat dukungan hotel berbintang di kawasan Jakarta yaitu Mercure Jakarta Cikini dan Ibis Styles Jakarta Simatupang.
Savero memberikan materi pada workshop dan penjelasan modul kebal hoaks. Ia didampingi Mohammad Alief Iqra, spesialis program Portkesmas.
“Hoaks membutuhkan waktu yang sangat singkat untuk menyebar, sementara itu klarifikasinya lambat sekali bahkan bisa 10 kali lebih lambat untuk menyebar dibandingkan hoaks itu sendiri,” ujar Savero yang akrab disapa Ero.
“Oleh karena itu lebih baik kita menahan diri, tetap sabar, dan tenang sebelum meneruskan pesan. Bahkan sebaiknya kalau kita bisa memverifikasi kebenaran informasi tersebut,” lanjutnya.
Pria yang aktif di berbagai kegiatan sosial ini menjelaskan hoaks sering kali dirancang agar terlihat menarik dan menimbulkan kekhawatiran atau kontroversi, sehingga lebih mungkin dibagikan oleh pengguna media sosial.
Ketika itu dilakukan, ia dapat dengan cepat menyebar ke banyak orang melalui jaringan sosial mereka.
“Kabar palsu sering kali dimaksudkan untuk memanipulasi emosi orang-orang, seperti rasa takut, kemarahan, atau kecemasan,” ungkapnya.
Emosi ini dapat mendorong orang untuk segera membagikan hoaks tersebut tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu,” katanya.
“Untuk itu tahan diri untuk menyebarkan informasi lakukan pengecekan kebenarannya,” ujar Ero lagi.
Untuk mengecek kebenaran informasi kini sudah mudah. Alief menjelaskan hal itu bisa ditindaklanjuti misalnya dengan meneruskan pesan yang diduga hoaks kepada Whatsapp Bot Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) dan alat bantu lainnya yang lengkapnya dapat dicek di https://s.id/cekhoaks.
“Verifikasi hoaks menjadi kemampuan yang sangat penting mengingat ibu dan bapak tenaga promosi kesehatan dan kader kesehatan harapannya menjadi sosok yang sangat dipercaya di tengah masyarakat, terutama tentang isu kesehatan,” paparnya.
“Caranya pun mudah dan dapat kita praktekkan sehari-hari layaknya berbicara dengan sanak saudara kita melalui media sosial,” ungkap Alief.
Sangat Penting
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Makassar Sunarti, S.ST mengatakan peran kader-kader di masyarakat sangat penting dalam memberikan pemahaman dan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat.
Kader kesehatan dapat memberikan edukasi dan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan dan langkah-langkah preventif untuk mencegah penyakit.
“Mereka dapat menginformasikan tentang pola makan sehat, pentingnya olahraga, kebersihan pribadi, imunisasi, dan praktik-praktik kesehatan lainnya,” tuturnya.
“Kesemuanya memerlukan keterampilan dalam berkomunikasi dan menjelaskan pesan kesehatan tersebut kepada masyarakat dari semua lapisan,” ujar Sunarti lagi.
Dia mengawali kegiatan dengan memberikan semangat kepada seluruh elemen tenaga promotor kesehatan dan kader kesehatan.
“Banyak masyarakat yang seringkali bingung, ini anak saya mau diimunisasi, anak saya mau disuntik, ada BIAN, ada BIAS, nah itu menjadi peran kita bersama terutama kader-kader di masyarakat bagaimana memberikan pemahaman di tengah masyarakat guna meningkatkan taraf kesehatan masyarakat di Kota Makassar,” paparnya.
Nur’aini Exie Kusuma Wardani atau yang kerap disapa Exie memimpin jalannya kegiatan pelatihan yang bertempat di Aula Rumah Sakit Bhayangkara Makassar tersebut.
Sebagai fasilitator dari pelatihan, Exie mengajak para peserta untuk membuka kegiatan dengan permainan.
“Sama halnya ketika kita mengedukasi masyarakat, mulailah dengan membangun suasananya agar masyarakat semangat dan melihat kegiatan kita sebagai sesuatu yang menyenangkan,” katanya.
“Pemahaman masyarakat dapat disisipkan sedikit demi sedikit, tapi ketika hati tidak terbuka, perhatian tidak tertuju, pikiran tidak terfokus, maka pemahaman dan perubahan perilaku akan sulit dicapai,” kata Exie lagi.
Pelatihan KAP difasilitasi dr. Dhea Mangun, Mohammad Alief Iqra, dr. Basra Amru, Nur’aini Exie Kusuma Wardani, dan Naaila Afifah dari Portkesmas.
Kegiatannya meliputi pengenalan prinsip-prinsip KAP mencakup praktik dan mengenal alat bantu seperti modul, permainan, dan contoh kasus yang diberikan kepada peserta agar dapat digunakan ketika berinteraksi dengan masyarakat.
“Dalam KAP pastikan kita semua mengetahui bahwa penting menerapkan prinsip-prinsipnya setiap kali berinteraksi dengan masyarakat, sehingga tidak hanya dibangun keakrabannya ketika di Posyandu dan Puskesmas saja.” tambah Naaila, spesialis program Portkesmas.
Dalam membangun keakraban dengan warga, peserta diingatkan pentingnya memahami bahwa warga masyarakat memiliki pemahaman dan tidak jarang menutup diri terhadap pemahaman yang baru.
Selain itu, dr. Dhea menjelaskan kepada peserta bahwa untuk melakukan perubahan perilaku, lebih penting untuk menyimak dibandingkan berbicara.
“Menyimak pun ada banyak tekniknya, kita tentu harus menggali dan memastikan bahwa warga masyarakat yang ingin kita ubah perilakunya, memiliki rasa memiliki dari isu kesehatannya,” jelasnya.

dr. Dhea Mangun menjelaskan pentingnya lebih dulu mendengarkan sebelum berbicara kepada masyarakat.
“Dengan adanya rasa memiliki, maka kita dapat lebih mudah mengubah perilaku masyarakat. Bagaimana caranya untuk mencapai hal tersebut? Kita harus lebih dulu menyimak dan bertanya,” tambah dr. Dhea.
Didesain Risang Rimbatmaja
Para peserta aktif mengikuti acara ini. “Dari kegiatan ini kita semua dapat belajar, mulai dari permainan-permainan yang dapat saya gunakan ketika saya terjun ke Posyandu sebagai kader untuk membangun keakraban dengan masyarakat sampai dengan link-link dan nomor Whatsapp yang dapat membantu kita cek dan ricek hoaks,” ujar peserta, Albertina.
Kegiatan pelatihan bertajuk KAP dan Literasi Digital Kesehatan digelar dalam upaya memastikan diri kebal hoaks tersebut merupakan komitmen bersama lintas sektor untuk memperkuat upaya kesehatan masyarakat di Kota Makassar.
Pelatihan ini menggunakan modul KAP yang didesain oleh Risang Rimbatmaja dari UNICEF Indonesia dan modul kebal hoaks yang didesain oleh ICT Watch.
Setelah sebelumnya kegiatan serupa sukses dilaksanakan di Kota Bandung, Kabupaten Kulon Progo, Kota Surabaya, dan Kabupaten Pacitan dengan diikuti total lebih dari 600 peserta, kini berkat dukungan dari Mercure Jakarta Cikini dan Ibis Styles Jakarta Simatupang, Portkesmas mendapatkan kesempatan untuk membawakan pelatihan dengan tema serupa di Aula Tribrata Rumah Sakit Bhayangkara Makassar pada 20 Mei 2023.
Kegiatan pelatihan ini diikuti oleh 150 perwakilan tenaga promosi kesehatan dan kader kesehatan se-Kota Makassar.
