Komitmen Presiden Prabowo untuk memberantas korupsi masih isapan jempol, buktinya yang terindikasi korup di lingkungan kementerian masih dibiarkan bahkan dihormati.
Sebutlah Zulhas, Bahlil, Erik Thohir, Luhut, Imin, Airlangga, Tito dan lainnya layak untuk diusut atas perilaku politik yang berbau korupsi.
Yang terbukti korupsi saja diampuni. Tercetus koruptor bebas asal kembalikan hasil korupsi, boleh diam-diam.
Niat mengejar ke Antartika terlalu jauh, yang antar kita saja tidak terkejar.
Mungkin Prabowo sendiri juga tidak bersih-bersih amat.
Food estate dan alutsista ramai menjadi diskursus publik.
Inkonsisten warna kepemimpinannya.
Hari ini bicara kepentingan rakyat, besok sudah oligarki, lusa bermimikri menjadi Geng Solo.
Prabowo sedang menampar Prabowo.
Hari-hari ini Prabowo menampar Prabowo lagi.
Tetapi duo Prabowo yang ini agak berbeda.
Yang menampar adalah Listyo Prabowo dan yang ditampar Prabowo Subianto.
Di negeri ini anomali terjadi bahwa Kapolri berani menampar Presiden RI.
Tercatat tiga kali tamparan keras itu.
Pertama, saat Presiden Prabowo mengumumkan akan membentuk Tim Reformasi Kepolisian tiba-tiba dihadang Prabowo lain dengan langsung membentuk Tim Transformasi Reformasi Polisi.
Pasukan perlawanan “responsibilitas dan akuntabilitas” ini beranggotakan 52 perwira dengan Kapolri sebagai Pelindung dan wakapolri sebagai penasehat.
Kedua, mampunya Kapolri Listyo Prabowo masuk dalam personal Komisi Percepatan Reformasi Polisi bentukan Prabowo Subianto bersama Tito Karnavian, Idham Azis, dan Badrodin Haiti.
Kehadirannya mengganggu independensi Komisi.
Akibatnya komisi mandul, tidak efektif dan tidak aspiratif. Komisi bentukan Prabowo ini mati dibunuh Prabowo.
Ketiga, tantangan atau pemberontakan Prabowo atas Prabowo.
Ungkapan di depan Komisi III DPR yang tegas menolak Polisi di bawah kementerian dan komando agar seluruh jajaran kepolisian untuk mempertahankan sampai titik darah penghabisan adalah tidak lazim dan gila.
Opsi menjadi petani daripada menjadi Menteri Kepolisian menunjukan arogansi.
Tepuk tangan anggota Komisi menandai lumpuhnya wibawa Presiden Prabowo.
Desakan agar Kapolri diganti disikapi dengan dingin nyaris beku. Menggigil ketakutan.
Presiden yang seharusnya menekan cuma garang di mimbar dan forum, ciut nyali menghadapi jajarannya sendiri.
Prabowo tampar Prabowo.
M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Redaktur: Abdul Halim
