Home Opini Sang Tukang Obat

Sang Tukang Obat

by Slyika

Ketika berjalan ke pasar seorang anak muda bertemu dengan seorang tukang obat, mereka bercakap-cakap. Layaknya penjual sejati sang tukang obat berusaha menarik hati si anak muda dengan mencari tahu keluhan kesehatannya.

Mulailah si anak muda bercerita tentang gangguan perutnya beberapa hari ini. Sambil mengeryitkan dahinya sang tukang obat mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan si anak muda, sambil sesekali memperhatikan perut si anak muda itu.

Sang tukang obat meminta izin untuk memeriksa perut si anak muda, lalu dia mengangguk-angguk seperti segera tahu apa masalahnya.
Tak lama kemudian sang penjual obat mengambil obat dari dalam tasnya, lalu dia mulai menyampaikan khasiat obat pilihannya itu, si anak muda gantian mendengarkan dengan seksama, sesekali dia terlihat ragu, sang penjual obat memahami hal itu, dia langsung memberikan jawaban atas keraguan si anak muda, dengan kalimat-kalimatnya yang sangat meyakinkan dan menenangkan.

Dua minggu berlalu, tak sengaja si anak muda kembali bertemu dengan sang penjual obat, dengan antusias si anak muda menceritakan perihal perutnya yang tak lagi ada masalah. Sang penjual obat tersenyum bahagia.

Guru, seperti tukang obat, apa-apa yang disampaikan tidak serta merta terbukti. Seperti obat yang memerlukan proses untuk menghilangkan sakit dan menyembuhkan, maka perkataan dan ajaran seorang guru juga perlu proses menjadi kenyataan.
Pernah ga sih, kita dengar orang berkata “Bener juga kata guru saya, sekarang saya baru tahu manfaatnya”, atau “Coba saya dengerin kata guru saya ya, mungkin saya ga begini”, dan masih banyak yang lainnya.

Seorang guru yang baik, mampu menyampaikan kelebihan dan keunggulan ajaran atau didikan yang akan diberikan kepada muridnya, menemukan cara yang tepat untuk memberikannya, mencaritahu metode mengajar yang cocok dengan muridnya, menyampaikan manfaat yang didapat dari mempelajarinya, kegunaan apa yang bisa dipakai untuk bertahan dikehidupan murid dimasa depannya, menjadi “somebody” diera yang luar biasa persaingannya.

Disaat murid percaya bahwa dia butuh “obat” yang diberikan sang guru, maka sinergi akan tercipta. Beberapa murid akan dengan suka hati mempelajari karena paham akan kebutuhannya, mungkin sebagian masih mau tak mau mengikuti, tak apa, setidaknya mereka tetap meminum “obat” yang diberikan. Bagaimana khasiat obat itu nanti, punya cerita sendiri. Bukankah mereka yang bersungguh sungguh pasti akan berhasil. Wallahu a’lam.

Flamingga

#Selamat Hari Pendidikan Nasional
#Semangat bergerak merdeka belajar

You may also like

Leave a Comment