LAMPUNG – Komisi V DPRD Provinsi Lampung menginisiasi dilakukannya dialog interaktif dengan dimediasi oleh BPBD Provinsi Lampung, Mewujudkan Lampung Tangguh Bencana untuk Rakyat Lampung Berjaya.
“Lampung merupakan salah satu daerah dengan ancaman berbagai bencana yang cukup tinggi sehingga sudah perlu dilakukan langkah pencegahan dan persiapan penanggulangan secara taktis, sistematis, kolaboratis dan tepat sasaran” jelas Mingrum Gumay, Ketua DPRD Provinsi Lampung saat membuka dialog interaktif.
Lampung, kata dia, memiliki ancaman bencana alam yang meliputi penunjaman lempeng Indo Australia terhadap Lempeng Eurasia yang mengancam terjadinya megatrust, Aktifitas Sesar Semangko (Sumatera Transform Fault Zone).
Kemudian Aktifitas Sesar Tarahan yang membentang dari Tarahan ke Natar dengan melintasi pusat Kota Bandar Lampung, merupakan ancaman yang harus mendapat perhatian khusus.
Aktifitas Gunung Anak Krakatau yang sejak erupsi Desember 2018 dan terakhir bulan April 2020 hingga saat ini masih dalam Level II (Waspada), jelas dia, juga menjadi perhatian bersama.
Selain itu, perlu dilakukan pemutakhiran mitigasi secara kolaboratif untuk melakukan pemetaan yang lebih terbarukan.
Diskusi dialog interaktif berjalan hangat dengan narasumber Syarif Hidayat Anggota Komisi V DPRD Provinsi Lampung, Kepala BPBD Provinsi Lampung Rudi Syawal Sugiarto dan Aris Gibrant selaku Ketua Forum Rescue Relawan Lampung.
Dalam dialog tersebut telah merangkai masukan-masukan berharga untuk bersama mewujudkan Lampung Tangguh Bencana.
Dialog Interaktif ini tentu saja tidak berakhir sampai di sini dan akan dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1.Penguatan partisipasi kolabortif penthahelix seluruh jajaran instansi, kesatuan TNI-Polri, BUMN, akademisi, pengusaha, organisasi serta masyarakat umum;
2. Akan dilaksanakannya pembaharuan mitigasi bencana di Provinsi Lampung serta melaksanakan contingency kesiapsiagaan bencana dengan melibatkan seluruh unsur terkait;
3. Dilaksanakannya simulasi kebencanaan di Provinsi Lampung mengingat resiko bencana yang cukup tinggi;
4. Bencana umumnya akan disertai terputusnya jaringan komunikasi, maka akan disepakatinya frequency khusus kebencanaan;
5. Melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat umum di Provinsi Lampung baik melalui media maupun secara langsung dengan miningkatkan kaderisasi masyarakat tangguh bencana. (budi theo)