BOGOR – Direktur Bimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan Anak Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (DitjenPAS) Pujo Harinto menyatakan, kolaborasi dan sinergitas yang baik antara Balai Pemasyarakatan (Bapas) dengan unsur penegak hukum lain, perangkat pemerintah setempat dan masyarakat dapat menghasilkan proses pembinaan klien pemasyarakatan yang maksimal.
“Kolaborasi yang komplit, akan hasilkan tujuan yang luar biasa,” ucap Pujo saat pelaksanaan panen raya sayuran hasil pelatihan pertanian klien Pemasyarakatan Bapas Kelas IIA Bogor di Saga Farm, Desa Ciareuteun, Bogor Barat, Kamis (5/1/23) didampingi Kepala Bapas Bogor dan pimpinan pemerintahan daerah meliputi Dinas Sosia, Kepala Kantor Polisi Sektor Bogor Barat, Kepala Desa hingga Pokmaslipas (Kelompo Masyarakat Peduli Pemasyarakatan).
Tanpa bantuan dan dukungan dari semua pihak, jelas dia, pemasyarakatan tidak akan berhasil melaksanakan penyelenggaraan penegakkan sistem pemasyarakatan dengan baik.
Dia menegaskan, pemasyarakatan butuh dukungan semua pihak dalam upaya reintegrasi sosial eks narapidana sehingga terjadi kesatuan yang utuh membangun negeri.
“Ini merupakan bukti nyata proses pembinaan penyelenggaraan pemasyarakatan yang ideal, memenuhi 3 unsur kunci pembinaan yang baik dimana melibatkan petugas, klien dan masyarakat,” tutur Pujo.
Ia menerangkan, peran bapas yang mengapiliasikan keikutsertaan masyarakat dalam pelaksanaan pembinaan semakin seiring diundangkannya Undang-undang Pidana yang baru. Dimana pelaksanaan pemidanaan tidak semata-mata hanya mengedepankan unsur penjeraan, tetapi juga terdapat pidana alternatif.
Lebih lanjut, Pujo menyampaikan terima kasih kepada bapas dan PT Beliver Karya Indonesia dan pihak terkait lainnya yang telah berkolaborasi wujudkan pembinaan dan pelatihan yang bermanfaat bagi klien Pemasyarakatan.
Kepala Bapas Kelas IIA Bogor, Tholina Saragih mengatakan Sudah menjadi tugas Bapas memberikan pelatihan kepada klien untuk mampu mandiri dan berdayaguna kembali kepada masyarakat.
Namun, dirinya berpesan bahwa bapas tidak dapat melaksanakannya dengan baik tanpa bantuan dan dukungan masyarakat serta instansi pemerintah setempat.
“Dalam melaksanakan pembinaan dan pelatihan pertanian hingga menjadi seperti saat ini, Balai Pemasyarakatan Kelas IIA Bogor kerjasama dengan PT. Beliver Karya Indonesia dengan melibatkan petugas bapas dan 15 orang klien pemasyarakatan,” ungkapnya.
Sementara itu, Betania, pimpinan PT. Beliver Karya Indonesia merasa bangga dan takjub atas keberhasilan dan kemajuan program pelatihan pertanian di Saga Farm yang diikuti 15 orang klien pemasyarakatan.
“Satu hal bahkan yang tak disangka-sangka, baru 2 Minggu mengikuti program pelatihan ke 15 klien dapat melaksanakan panen raya dan menghasilkan berbagai jenis makanan serta minuman dari olahan hasil pertanian,” tuturnya.
Melalui produk yang dihasilkan tersebut, PT. Beliver Karya Indonesia menargetkan akan mencoba peruntungan memasarkan produk makanan ringan dan minuman ke pasar ekspor meliputi Jepang hingga Eropa.
Adapun 15 orang klien pemasyarakatan yang berhasil mengikuti pelatihan pertanian juga diproyeksikan menjadi mentor pelatihan pertanian, hingga menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.
Mendengar hal tersebut, Direktur Bimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan Anak DitjenPAS menyambut baik rencana PT. Beliver Karya Indonesia yang akan memasarkan produk makanan ringan dan minuman hasil olahan pertanian Bapas Bogor ke pasar internasional.
“Maka pertanian ini bukan hanya menjadi program pertanian biasa tetapi juga program pertanian yang memproyeksikan produk olahannya untuk dipasarkan ke pasar dunia. Kita menyebutnya FBI, From Bogor to Internasional. Ini akan menjadi sangat baik dan dapat dijadikan contoh oleh program pelatihan klien Pemasyarakatan di seluruh Indonesia,” tandasnya.
