Home Opini Move In to Move On, Kesadaran Mengawali Bergerak ke Dalam Baru Keluar

Move In to Move On, Kesadaran Mengawali Bergerak ke Dalam Baru Keluar

by Slyika

Dear rekan berpulih dan bertumbuh. Di dunia yang penuh distraksi, reaksi otomatis terhadap stres, pengalaman tidak menyenangkan atau bahkan pengalaman yang netral adalah dengan melihat ke luar.

Secara fundamental, stres adalah respon terhadap ketakutan, baik nyata (faktual) maupun masih berada di pikiran.

Dalam ilmu metalurgi (ilmu yang mempelajari sifat-sifat kimia dari logam dan cara memanfaatkan logam untuk kegunaan sehari-hari), stres dimaknai sebagai besarnya tekanan yang diberikan kepada sebuah logam dan mencapai suatu keadaan ketika logam tersebut menjadi rusak, rentang atau patah akibat tidak dapat menahan tekanan.

Peristiwa sebelum terjadinya rentang, retak dan patah akibat tekanan itulah yang disebut dengan stres.

Pada manusia, stres adalah sebuah titik penting yang akan menentukan apakah manusia yang mengalaminya akan menjadi “patah” atau tidak.

Inilah definisi yang paling penting, menjadi “patah” atau tidak.

Pada manusia, stres bukan saja hanya tekanan fisik, tetapi juga mental. Jika manusia yang mengalami stres menjadi “patah” maka ia akan masuk ke dalam lingkaran kesedihan dan depresi.

Namun apabila dia bisa mengatasi stres tersebut, maka ia akan menjadi manusia yang terbarukan.

Jadi stres tidak selalu buruk bagi manusia. Stres dibedakan menjadi eustress dan distress. Eustress adalah stres baik (happy problem), peluang memperbesar kapasitas diri.

Sedangkan dalam bukunya “Teknik Menghilangkan Stres Dari Otak” Prof. Arita Hideho menjelaskan, menjelaskan, ada dua jenis stres yaitu stres fisik seperti kesakitan dan rasa dingin, dan stres psikis seperti kepedihan dan kesedihan.

Kemudian dia menyimpulkan kembali bahwa manusia akan merasakan tiga macam stres, pertama stres fisik.

Kedua stres yang timbul akibat tidak terpenuhinya kesenangan.

Ketiga, stres yang timbul akibat tidak mendapatkan penghargaan yang semestinya dari orang lain (halaman 55). Semua rasa yang tidak menyenangkan yang terjadi terhadap fisik dan psikis kita dirasakan oleh otak sebagai stres (halaman 2).

Lanjut profesor fakultas kedokteran Universitas Toho ini mengingatkan apabila; “Sesungguhnya kita tidak boleh berpikir untuk mengalahkan stres.

Karena manusia dirancang tidak bisa mengalahkan stres.

Dan belakangan ini pun kita sering mendengar kata-kata “stress free (bebas stres)”.

Ini juga tidak boleh dijadikan tujuan. Karena stress tidak akan pernah lenyap.

Tapi penderitaan akibat stress bisa dihilangkan sekalipun stress itu sendiri tak bisa dihilangkan” (halaman vi).

Menurut Prof. Arita Hideho yang dikenal sebagai pakar di bidang riset mengenai serotonin, otak manusia memiliki fungsi untuk mengontrol stres.

Secara alamiah fungsi tersebut akan bekerja jika manusia menjalani kehidupan dengan teratur sambil tetap bersosialisasi dengan sesama.

Jadi yuk kita berlatih terampil mengalir bersama dalam riuhnya pikiran (arus energi dan informasi) dengan mengawali bergerak ke dalam sebelum keluar. Terampil koneksi sebelum koreksi.

Terima kasih sudah membaca. Silahkan bersapa untuk berlatih bersama. Dengan semangat move in to move on. Yuk, berlatih terampil mengalir bersama. Dekap Erat.

Tio Novi
Dialektika terapis dan konselor, WA 085932278203
Ig and Treads : @tio.novi

You may also like

Leave a Comment