Home Opini Makna Kehadiran Prabowo pada World Economic Forum di Swiss

Makna Kehadiran Prabowo pada World Economic Forum di Swiss

by Slyika

Kehadiran Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam forum World Economic Forum di Swiss patut diapresiasi sebagai langkah diplomasi ekonomi dan politik tingkat tinggi.

Namun apresiasi ini perlu ditempatkan secara proporsional dan kritis, agar forum global tersebut tidak berhenti pada simbol kehadiran, melainkan benar-benar berdampak bagi kemajuan bangsa.

Presiden Prabowo Subianto membawa pesan optimisme tentang stabilitas Indonesia, peluang investasi, serta komitmen pada ketahanan pangan, energi, dan industrialisasi.

Substansi ini penting dan relevan, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Namun, tantangan utamanya bukan pada apa yang disampaikan, melainkan bagaimana pesan itu diterjemahkan menjadi kebijakan nyata dan terukur di dalam negeri.

World Economic Forum (WEF) adalah ruang Elite Global yang sangat sensitif terhadap konsistensi.

Dunia internasional tidak hanya menilai narasi, tetapi juga rekam jejak implementasi.

Oleh karena itu, pesan tentang keterbukaan investasi, hilirisasi, dan pembangunan berkelanjutan harus diikuti dengan kepastian regulasi, tata kelola yang bersih, serta perlindungan nyata terhadap kepentingan nasional termasuk tenaga kerja, lingkungan, dan pelaku usaha domestik.

Selain itu, keterlibatan Indonesia di forum global semacam ini harus dijaga agar tidak menciptakan jarak persepsi dengan realitas rakyat.

Ketika Indonesia berbicara tentang pertumbuhan dan peluang besar di panggung dunia, publik di dalam negeri tetap menunggu jawaban atas persoalan mendasar, lapangan kerja yang layak, harga pangan yang terjangkau, keadilan ekonomi, dan keberpihakan pada kelompok miskin. Tanpa kemajuan konkret di aspek-aspek ini, narasi global berisiko terdengar elitis.

Posisi Indonesia sebagai negara berdaulat dan nonblok juga menuntut kehati-hatian. Partisipasi aktif dalam forum global tidak boleh mengaburkan prinsip kemandirian nasional.

Kerjasama internasional harus menjadi alat untuk memperkuat kapasitas bangsa, bukan menjebak Indonesia dalam ketergantungan baru atas nama investasi dan pertumbuhan.

Dengan demikian, kehadiran Presiden Prabowo di World Economic Forum layak diapresiasi sebagai pintu diplomasi, bukan sebagai garis akhir keberhasilan.

Ukuran sejatinya akan terlihat pada keberanian Pemerintah menerjemahkan komitmen global itu ke dalam kebijakan nasional yang konsisten, adil, dan berpihak pada rakyat.

Sikap kritis ini justru diperlukan agar kehadiran Indonesia di forum dunia tidak hanya membuat Indonesia terlihat, tetapi benar-benar berdaulat, berdaya, dan berdampak baik dimata dunia maupun di kehidupan rakyatnya sendiri.

KH Dr Ir Narmodo MAg

Penulis adalah Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik Nasional

Redaktur: Abdul Halim

You may also like

Leave a Comment