Alhamdulillah

by Slyika
ALHAMDULILLAH, merasa bangga dan haru, meskipun belum pantas mengaku-ngaku menjadi “yunior”-nya Habibana Maulana Habib Luthfi bin Yahya saat mondok di Ponpes Ma’haduttholabah, Babakan, Lebaksiu, Tegal.
MENURUT informasi, beliau pernah mukim di Komplek (Asrama) C/D, bagian timur. Medio 89-90, Komplek A berada di sebelah kiri, dan Komplek B berada di bagian barat. Sejak diasuh KH. Mufti Salim, pondok ini menjadi rujukan “ilmu”, bahkan se-Jawa Tengah.
KENDATI tidak satu komplek dengan Anggota Wantimpres (Dewan Pertimbangan Presiden) ini, yang jelas, pernah sama-sama pernah merasakan “minum” airnya pondok legenda dan tua itu. Pernah satu tempat sujud dan mengaji di mushola yang sama.
PASTINYA pernah tidur dan barjanzian juga di mushola yang sama. Sekolah Madrasah Diniyah Awaliah (MDA) dan Madrasah Diniyah Wustho (MDW). Di bawah pengasuh Romo KH. Abdul Malik Mufti, aktivitas pengajian berjalan lancar.
MESKI mukim di Allah Yarham KH. Abdul Halim Sukron/Ny. Hj. Azizah, setiap malam lebih memilih tidur di masjid, bersama teman-teman lainnya. Makanan yang terkenal khas yaitu jintul (dibaca ikhfa, berdengung, hehe).
Dari jintul ini, menjadi “password” berkisah tentang pondok, haha. Makan gorengan, ubi dan singkong di Man (Paman) Kholil.
SERINGKALI jajan di Warung Kyai Maktub sama Kyai Musta’in. Kalau makan bakso dan rujak, jalan ke perkampungan warga.
Kalau makan enak, lari ke warungnya Pak Dul yang berada di Pasar Ketembreng. Kalau mau beli buku dan kitab, tinggal geser ke sebelah kiri, tidak jauh dari warungnya Pak Dul.
NAH, kalau mau mandi langsung air dari gunung, lari ke luar kampung di Sungai Kaligung (Kali Agung), aliran dari Gunung Slamet.
Kalau mau cari suasana sejuk, lari ke belakang pondok bagian barat dan selatan, ada persawahan terbentang luas. Anginya sepoi-sepoi, tak ada di pasaran karena tiada yang menjual. Anugerah alam, pemberian Tuhan Yang Maha Rahman.
MADRASAH Tsanawiyah Negeri (MTsN) Babakan paling favorit. Pada zamannya, menjadi unggulan pertama se-Kabupaten Tegal. Standar nilainya juga harus tinggi, kalau rendah bukan ditolak, tetapi tertolak. Hehe.
TERIMAKASIH kepada para muassis (pendiri) pondok. Meski belum jadi alumni yang pantas dibanggakan, tetapi semoga silaturahmi ruhiyah tetap terpelihara, sebagai mahabah kepada almamater.
Matur sembah nuwun, terutama kepada ahlul bait, KH. Aqib Malik (Gus Aqib), KH. Syafiq Baidowi, KH. Slamet Riyadi, KH. Nurcholis, KH. Ahmad Fatih dan ahlul bait lainnya, sebagai penyambung silaturahmi kami. Semoga Allah SWT meridhoi kita semua. Aaamiiin YRA.
TERUNTUK, KH. Mufti Salim, KH. Muhammad Mufti, KH. Maksum Mufti, KH. Syafii Mufti KH. Isa Mufti, KH. Abdul Malik Mufti, KH. Baedhowi Mufti, KH. Sofwan Mufti, KH. Muslih Maksum, KH. Hisyam Maksum, KH. Zaini Dahlan, KH. Mubasyir Dahlan, KH. Maktub, KH. Musta’in, KH. Syaifuddin, KH. Hafidz Isa Mufti, KH. Abdul Halim Sukron, dan ahlul bait lainnya. Lahum Alfatikha…
MOHON maaf lahir dan bathin.Semoga bermanfaat. Wallahu’alam.
Nucholis Qadafi
Penceramah, Usahawan dan Jurnalis
0 comment
1

Related Post

Leave a Comment