Home Berita Puisi Empat Bahasa Karya Halimah Munawir Segera Diluncurkan di Kairo

Puisi Empat Bahasa Karya Halimah Munawir Segera Diluncurkan di Kairo

by Slyika

KIARO — Sastrawan Indonesia Halimah Munawir menandai kiprahnya di panggung sastra internasional dengan meluncurkan buku puisi terbarunya, Keagungan Kota Suci, di Kairo, Mesir, Kamis (29/1/26).

Buku yang diterbitkan penerbit Mesir Dar El Sholeh itu berisi 45 puisi bernuansa spiritual yang disajikan dalam empat bahasa: Sunda, Indonesia, Inggris, dan Arab.

Peluncuran buku tersebut dibuka oleh Atase Bidang Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo – Abdul Muta’ali, Ph.D.

Buku karya Halimah menjadi bagian dari lawatan sastra Halimah di Mesir.

Selain dikenal sebagai penyair, Halimah juga merupakan Ketua Umum Obor Sastra Indonesia, komunitas yang aktif mendorong pertukaran sastra lintas negara.

Halimah menjelaskan, seluruh puisi dalam buku ini berangkat dari pengalaman batin saat menunaikan ibadah umrah pada November 2025.

Momentum spiritual itu, kata dia, memicu lahirnya larik-larik puisi yang mengalir tanpa perencanaan ketat.

“Awalnya saya hanya menargetkan sekitar 30 puisi, tetapi proses kreatifnya terus berjalan,” ujar Halimah.

Jumlah 45 puisi kemudian dimaknai secara reflektif. Halimah merujuk penafsiran ulama kharismatik Mbah Moen yang memaknai angka empat sebagai simbol empat pilar kebangsaan, dan angka lima sebagai rukun Islam.

“Di situ ada pertemuan antara nilai keislaman dan kebangsaan,” ujarnya.

Ia juga mengaitkan angka tersebut dengan Surat Al-Jatsiyah dalam Alquran yang berbicara tentang tanda-tanda kebesaran Tuhan dan kesadaran manusia akan hari kebangkitan.

Tema itu, menurut Halimah, tercermin dalam puisi-puisi yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama.

Ketertarikan penerbit Mesir menerbitkan karya ini, lanjut Halimah, tidak lepas dari konsistensinya mengangkat spiritualitas yang berpijak pada pengalaman lokal.

Puisi-puisi dalam buku ini juga merekam kerinduan panjangnya terhadap Tanah Haram—sejak pertama berhaji pada 1995 hingga umrah berulang kali di tahun-tahun berikutnya.

Pemilihan empat bahasa disebut sebagai upaya menjembatani identitas lokal dan pembaca global.

Bahasa Sunda ditempatkan sebagai bentuk penghormatan pada bahasa ibu, sementara bahasa Arab dipilih untuk mendekatkan konteks puisi dengan lanskap spiritual Tanah Suci.

Dalam kesempatan itu, Halimah menyampaikan apresiasi kepada keluarga yang terlibat dalam proses kreatif, termasuk suaminya Muchammad Munawir serta anak-anaknya yang turut membantu desain sampul.

Ia juga menyebut sejumlah tokoh sastra dan akademisi yang memberi pengantar dan testimoni, seperti Prof. Dadang Kahmad, Prof. Ganjar Kurnia, dan Denny JA.

“Buku ini menjadi penanda perjalanan batin sekaligus perjalanan panjang saya dalam sastra,” pungkas Halimah.

You may also like

Leave a Comment