Home Opini Nafas Panjang Lawan Jokowi yang Semakin Sekarat

Nafas Panjang Lawan Jokowi yang Semakin Sekarat

by Slyika

ORANG banyak mengagumi kekuatan Jokowi untuk memproteksi ijazahnya. Meski jaringannya, terutama di Kepolisian, masih cukup menentukan akan tetapi sesungguhnya Jokowi itu sudah lemah bahkan mendekati runtuh.

Fisiknya tampak drop dan wibawanya merosot. Sayang lawan-lawan politiknya juga ikut melemah.

Penyembunyian ijazah adalah ajakan atau tantangan untuk berlari marathon, adu stamina,  adu kekuatan, adu nafas panjang.

Siapa yang paling memiliki daya tahan akan menang. Dari 8 tersangka pemburu ijazah yang menjadi lawan tanding lari marathon Jokowi, 3 orang telah gugur atau mengalami dead point sebelum mencapai finish.

Mereka adalah Eggi Sudjana, Damai Lubis, dan Rismon Sianipar. Jokowi tengah menghadapi 5 pelari marathon lainnya Roy, Rizal, Rustam, Kurnia, dan Tifa.

Lawannya tentu bukan hanya 5 tetapi banyak gumpalan meski gumpalan itu terbelah dalam indikator harapan yang berbeda.

Ada yang berharap pada peran Prabowo, ada pula yang tidak percaya pada kemampuan Prabowo untuk berbuat. Ketergantungan pada Prabowo sebenarnya hanya jebakan mitos strategi. Palsu.

Meskipun demikian kedua gumpalan di atas jika masing-masingnya tetap bekerja keras tentu akan bermanfaat. Sebaliknya, jika hanya diam atau menunggu, maka dipastikan akan tergilas.

Andalan Jokowi ada pada sisa pengaruh masa lalu, tanaman jasa, dan uang hasil korupsi yang tidak diusik.

Ketakutan mistis juga ada dan membayangi. Orang-orang yang mendekat dan mengitari serta membela disebabkan oleh faktor-faktor ini.

Mereka adalah pejabat birokrasi titipan, pengusaha yang diuntungkan, serta aparat yang diangkat saat Jokowi menjabat.

Melawan Jokowi harus siap bertarung dengan nafas panjang. Restorative Justice merupakan dead point yakni titik mati saat pelari putus asa dan menyerah.

Padahal jika dead point dapat dilewati maka kelanjutannya adalah stamina prima yang dapat mengalahkan. Jokowi itu sudah goyah dan payah, sebentar lagi kalah.

Ketika Kapolri diganti, reshuffle terjadi, Pimpinan KPK direformasi, atau pemakzulan Gibran disepakati, maka Jokowi dipastikan sekarat menuju mati.

Ijazah palsu, korupsi, dan nepotisme merupakan jalan menuju proses  peradilan. Hukuman mati menjadi opsi sanksi bagi penjahat keji.

Jika presiden Prabowo tidak berkontribusi untuk ini, maka apa boleh buat rakyat segera bergerak dan melakukan aksi besar demonstrasi.

Prabowo-Gibran dinilai tidak berguna dan mutlak harus diganti.

Melalui jalan konstitusi atau pilihan cara rakyat sendiri. Restorasi, reformasi, atau revolusi.

Penulis: M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Redaktur : Abdul Halim

You may also like

Leave a Comment