Home Berita Cerita Sofia, dari Jakarta ke Nagoya Healing Sambil Jadi Volunteer Asian Games

Cerita Sofia, dari Jakarta ke Nagoya Healing Sambil Jadi Volunteer Asian Games

by Slyika

BERITAIND.COM, NAGOYA — Namanya Sofia, perempuan asal Indonesia yang sengaja datang ke Jepang sebagai volunteer Asian Games dan Asian Para Games 2026.

Dirinya datang tidak sendiri, ada delapan orang dari Indonesia berangkat ke Nagoya bekerja tanpa dibayar.

Bukan hanya kali ini, beberapa event besar skala internasional sempat diikuti oleh Sofia.

Mulai dari SEA Games hingga Olimpiade dan FIFA World Cup.

Bagi Sofia dan teman-temannya, menjadi volunteer bukan sekadar mengisi waktu luang.

Mereka bahkan rela mengeluarkan biaya sendiri untuk bisa menjadi bagian dari event olahraga besar di berbagai belahan dunia.

“Untuk volunteer internasional benar-benar unpaid. Dari FIFA, Olympic, Special Olympics, Asian Games, itu semuanya nggak ada dibayar. Jadi kami semua tetap dari biaya mandiri,” kata Sofia.

Untuk menjadi volunteer Asian Games, Sofia dan tujuh rekannya harus mengikuti proses seleksi yang dibuka langsung oleh panitia penyelenggara.

Mereka mendaftar melalui situs resmi Asian Games, mengikuti proses wawancara, hingga akhirnya mendapat kabar bahwa mereka lolos.

“Setelah beberapa bulan kami diinfokan kalau kami lulus, lolos sebagai volunteer Asian Games dan Asian Para Games,” ujarnya.

Sofia mengatakan pengalaman menjadi volunteer justru memberikan sesuatu yang tidak didapat ketika hanya datang sebagai penonton.

“Kita bisa mengikuti suatu event yang mana kita itu masuk ke dalam acaranya itu sendiri tanpa menginginkan imbalan dari pihak tersebut,” katanya.

Pengalaman itu pula yang membuat Sofia terus kembali.

Sebelum Aichi-Nagoya, ia pernah menjadi volunteer di FIFA World Cup Qatar 2022, kemudian event di Berlin pada 2023 dan Olimpiade Paris 2024.

Setiap pengalaman membawanya bertemu orang-orang baru dari berbagai negara.

Dari sana, Sofia merasa cara pandangnya terhadap dunia ikut berubah.

“Setelah kita bertemu dengan orang baru, apalagi ketemu dengan teman-teman dari overseas, dari luar negeri, kita benar-benar tahu pemikiran kita tuh sudah beda,” tuturnya.

Pertemuan dengan orang-orang dari berbagai negara juga menjadi kesempatan bagi Sofia untuk bertukar budaya.

Ia bahkan selalu membawa cinderamata dari Indonesia setiap kali menjadi volunteer di luar negeri.

“Setiap kita event di dunia manapun, di belahan dunia manapun, aku selalu bawa cinderamata dari Indonesia. Jadi kita bisa tukar-tukar,” katanya.

Menjadi volunteer internasional tentu bukan perkara murah.

Tiket pesawat, tempat tinggal, makanan di luar jam bertugas, hingga berbagai kebutuhan selama perjalanan ditanggung sendiri.

“Dari tiket pesawat kemudian kami juga pesan Airbnb, kemudian makan juga kami sendiri. Kecuali saat shift dan transport kita sendiri,” ujar Sofia.

Karena itu, perjalanan menjadi volunteer sekaligus membutuhkan persiapan finansial.

Sofia dan teman-temannya harus menabung dan menyisihkan waktu dari pekerjaan masing-masing.

“Dua tahun sekali nabung dan kerja. Ini tuh untuk healing-nya,” katanya sambil tertawa.

Sebagian teman Sofia bekerja secara work from home, sementara lainnya memiliki perusahaan sendiri.

Dengan pekerjaan tersebut, mereka bisa mengatur waktu untuk mengikuti event olahraga internasional.

Bagi Sofia, ada kepuasan tersendiri dari konsep “jalan-jalan” yang mereka jalani.

“Kalau orang jalan-jalan aja, ini jalan-jalan tapi bantu orang,” ujarnya.

You may also like

Leave a Comment