SKRIPSI berjudul “Obyektivitas Berita Buloggate dan Bruneigate di Surat Kabar Rakyat Merdeka Edisi Oktober-Desember 2000” mengingatkan penulis pada 22 tahun lalu.
Setidaknya, menjadi saksi bisu bahwa penulis pernah “berhubungan” dengan perkara tersebut, kendati melalui telaah dari prespektif ; kode etik pemberitaan.
APALAGI dari huru hara ini berujung pada pelengseran KH. Abdurrahman Wahid dari jabatannya sebagai Presiden RI yang keempat.
Kenapa di Rakyat Merdeka ? Pada zamannya, koran ini menjadi simbol “media panas” yang paling berani mengungkap kasus, terutama pada sensasi judul berita halaman depan.
KENAPA Gus Dur ? Suka tidak suka, diakui oleh banyak orang, Gus Dur adalah magnitude (daya tarik). Dimana saja, keberadaannya menjadi sorotan.
Mulai dari landasan berpikir, gaya bicara, gerak dan langkahnya. Style-nya out of the box (keluar dari batas normal), begitu kata orang.
DARI analisa studi kasus, tanpa bermaksud tujuan tertentu, hampir semua konten berita jauh dari obyektif.
Sengaja atau tidak, kandungan tulisan didominasi sisipan pendapat/opini (wartawan), melebihi batas berita fakta dan peristiwa.
Profesionalitas seorang jurnalis dipertanyakan. Atas pengakuan kualitas kajian ilmiah ini, dosen penguji menghargai dengan Nilai A (10).
SEMULA tak terpikir, obyek materi ini terlintas. Tetapi, derajat masalah yang melibatkan orang nomor satu di negeri ini, menjadi gengsi tersendiri untuk ditelaah.
Sekaligus, pesan secara tersirat, bahwa Gus Dur bukanlah seorang pejabat yang rela menjajakan kehormatannya hanya demi rupiah.
Toh, andaikan beliau mau, sebelum menjabat presiden, banyak “tawaran harta” yang menghampirinya.
DALAM banyak riwayat dikisahkan, cucu Hadrotussyekh KH. Hasyim Asy’ari ini terbiasa hidup dalam kesederhanaan, bahkan keterbatasan.
Sehingga, bukan tipe orang yang “memaksa” harus berlimpah uang, pun saat kekuasaan ditangannya. “Gus Dur itu malah sering minta uang ke anaknya, karena gak punya duit,” kata Mahfud MD, salah seorang teman dekatnya, dalam sebuah perbincangan.
SEBALIKNYA, uang halal haknya sering disedekahkan kepada orang yang membutuhkannya.
“Pernah punya uang, baru dipegang di tangan, kemudian tak lama ada seorang ibu yang sedang terdesak kebutuhan, uang itu langsung diberikan,” lanjut Mahfud. Pengakuan ini juga diakui teman baik lainnya.
FASILITAS pun seadanya, termasuk pernak-pernik lainnya. Pakaian Gus Dur, sepantasnya. Makanannya, seperti rakyat pada umumnya. Kendaraannya, mengikuti takdir apa yang ada.
Hiburannya, tertawa bersama teman karib serasa di surga. Korupsi itu persoalan mental, bukan soal kaya miskin. Kemewahan bukan jaminan, tak terkecuali kemiskinan.
GUS DUR memang sudah tiada. Tetapi, warisan contoh perilakunya mengubah cara pandang rakyat Indonesia. Bukan hanya umat Islam, tetapi umat lainnya.
Buktinya, hingga kini, makamnya tak pernah sepi peziarah. Setiap hari, ada saja orang yang rindu dengan sosoknya. Dari Sabang sampai Merauke, beragam agama dan suku budaya.
Semua kalangan kehilangan, figur manusia santai tetapi bernilai. Untuk Gus Dur, Alfatikha. MOHON maaf lahir dan bathin. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam.
H Nurcholis Qadafi
Penceramah, Usahawan dan Jurnalis Senior
