Selama istirahat total sejak Minggu (13/2/22) karena terpapar Covid-19, saya terus memonitor berbagai informasi. Salah satunya yang terkait dengan kegiatan sehari-hari dan orang-orang yang saya kenal.
Pada Jumat malam (18/2/22) di antara semua informasi yang ada, saya tertarik dengan satu berita: Perubahan Direksi dan Komisaris Citilink Indonesia.
Ketertarikan saya karena direktur utama (Dirut) yang lama Juliandra Nurtjahjo dan Dirut yang baru Dewa Kadek Rai adalah teman akrab saya. Keduanya sangat baik dan rendah hati.
Saya gembira mendapat informasi pergantian orang pertama di anak perusahaan Garuda Indonesia itu karena antara yang digantikan dan menggantikan sama-sama orang baik.
Sehingga Citilink yang selama pandemi Covid-19 mengalami banyak cobaan dan dapat bertahan, bisa tambah maju.
Selama sekitar lima tahun memimpin Citilink, Juliandra yang dikenal kalem dan taat beribadah, mampu memajukan perusahaan tersebut.
Bahkan selama pandemi Covid-19 sedikit banyak Citilink menopang induknya Garuda Indonesia yang terpuruk karena banyak masalah.
Juliandra yang asli Surabaya, Jawa Timur, mampu meletakkan dasar-dasar yang kuat di perusahaan itu. Sehingga Dewa tinggal meneruskannya saja.
Sebagai wujud rasa syukur dan gembira, Jumat malam menjelang dini hari, saya telefon Dewa. Menyampaikan ucapan selamat dan beberapa saran termasuk mempertahankan efisiensi di Citilink yang membuat perusahaan itu bisa bertahan sampai sekarang.
“Semua hal positif yang telah dilakukan Pak Juliandra termasuk kebijakan efisiensi agar dipertahankan. Sedangkan ide-ide Pak Dewa untuk memajukan Citilink supaya dijalankan,” pesan saya.
Juga saya menyarankan agar Dewa membicarakan dengan manajemen Garuda Indonesia supaya di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, ruang tunggu keberangkatan pesawat Citilink dipindah ke yang lebih dekat. Tidak di pintu 27 dan 28 yang merupakan paling ujung.
“Kasihan setiap calon penumpang jika harus jalan kaki ke sana. Begitu juga ketika baru mendarat. Sementara kendaraan “buggy car” yang ada jumlahnya terbatas dan tidak setiap saat bisa melayani penumpang,” ungkap saya.
Suami dari Gusti Ayu Ary Sasryasry itu sangat memahami semua yang saya sampaikan. Apalagi tujuanya positif sekali untuk kemajuan Citilink yang dipimpinnya.
“Saya perhatikan semua pesan Bos. Akan saya laksanakan. Sebagai penumpang setia Citilink tentu Bos merasakan langsung pelayanan Citilink,” respon Dewa yang biasa memanggil saya “Bos”.
Dewa dengan rendah hati mengatakan selalu menantikan saran-saran saya. Itu sangat dibutuhkannya untuk memperbaiki dan meningkatkan layanan Citilink.
Optimis Majukan Citilink
Kami teman lama dan akrab sekali. Pertemanannya sejak 2007 ketika Dewa mendapat penugasan khusus memimpin Citilink Pontianak, Kalimantan Barat. Sejak itu sampai sekarang persahabatan kami terjaga dengan baik.
Begitu akrabnya persahabatan kami sehingga kalau ngobrol apa adanya dan blak-blakan. Hubungannya sudah seperti saudara.
Ketika Dewa menjabat General Manager Garuda Indonesia di Seoul, Korea selatan, pada 2013 saya sekeluarga ke sana. Waktu itu Dewa mengajak keluarganya menjamu kami sekeluarga makan malam di salah satu resto yang representatif di Seoul.
Ketika Dewa pindah sebagai General Manager Garuda Indonesia Semarang, Jawa Tengah, kami sering ketemu. Setiap ke Semarang saya usahakan jumpa bapak dua anak itu. Meski hanya sekedar ngobrol ringan.
Saat Dewa menjabat sebagai Regional CEO Europe Region Garuda Indonesia atau Garuda Indonesia Regional Kawasan Eropa yang berkantor di Paris, Perancis, saya dan Ero yang waktu itu jalan-jalan ke beberapa negara Eropa pada 2018, menemui Dewa.
Kami ngobrol tentang tugas-tugasnya di sana yang juga berurusan dengan perusahaan penyewa pesawat untuk Garuda Indonesia dan Citilink.
Terakhir tahun lalu kami ketemu di kantor Dewa di Denpasar, Bali. Waktu itu bapak dari Dewa Satya Dharma dan Dewa Dwira Kusuma itu membawahi Garuda Indonesia Wilayah Bali dan Nusa Tenggara.
Saat ketemu tersebut kami secara mendalam mendiskusikan tentang kondisi Garuda Indonesia. Ketika ngobrol saya bisa merasakan kecintaan Dewa pada perusahaan yang telah membesarkannya itu.
Kepada Dewa, saya janji setelah sembuh dari Covid-19, pada kesempatan pertama akan silaturahim di kantor barunya. Juga akan sering singgah baik saat akan berangkat maupun setelah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.
“Cepat sembuh Bos. Saya tunggu kehadirannya di kantor. Kita melanjutkan diskusinya,” ujar Dewa yang saat ini mengoperasikan 49 pesawat jenis Airbus.
Dari Dewa, saya banyak mendapat cerita gembira. Juga optimismenya bersama jajaran memajukan Citilink. Saya yakin dia bisa mewujudkan semua itu.
Pembunuhan Karakter
Kesedihan saya muncul saat membaca berita-berita di berbagai media online yang mengaitkan pergantian Juliandra dengan diperiksanya dirinya sebagai saksi di Kejaksaan Agung terkait kasus dugaan korupsi di Garuda Indonesia.
Padahal karena sudah sekitar lima tahun menjabat, sehingga telah saatnya diganti.
Mengaitkan pergantian Dirut Citilink dengan pemeriksaan sebagai saksi di Kejaksaan Agung, sama dengan pembunuhan karakter Juliandra. Padahal realitanya belum tentu seperti itu.
Mengutip beberapa media, berita tentang itu di bawah ini.
Maskapai penerbangan PT Citilink Indonesia resmi mencopot Juliandra Nurtjahjo dari posisinya sebagai direktur utama (Dirut) perseroan.
Perubahan pengurus berdasarkan Keputusan Pemegang Saham di Luar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), salah satunya pergantian Direktur Utama Juliandra Nurtjahjo ke Dewa Kadek Rai.
“Perubahan kepengurusan Perusahaan tersebut selaras dengan fokus kinerja Citilink sebagai bagian dari Garuda Indonesia Group untuk semakin adaptif dan berdaya saing dalam menjawab tantangan kinerja usaha di era kenormalan baru,” ujar Komisaris Utama Citilink Prasetio dalam keterangan resminya, Jumat (18/2/22).
Sebelumnya, Juliandra diperiksa tim jaksa penyidik pada Jampidsus Kejaksaan Agung (Kejagung) terkait dugaan korupsi dalam pengadaan pesawat di PT Garuda Indonesia tahun 2011-2021.
Kapuspenkum Kejagung Leonard Eben Ezer menyatakan salah satu saksi yang diperiksa adalah Dirut Citilink yakni Juliandra.
Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah mengatakan bahwa hasil penghitungan sementara dalam proses penyewaan yang diusut, negara merugi hingga Rp3,6 triliun.
Ia menyebutkan bahwa penyidik Kejagung saat ini berfokus untuk mengusut pengadaan pesawat ATR dan Bombardir oleh Garuda. Perusahaan pelat merah itu melakukan penyewaan dan pembelian pesawat.
Oleh sebab itu, kata Febrie, jumlah dugaan kerugian keuangan negara yang besar itu membuat penyidik menggarap kasus dengan cara pandang pengembalian kerugian ke kas negara.
Salah satunya, lewat penyitaan aset-aset milik tersangka ataupun yang berkaitan dengan kasus tersebut.
Semoga Juliandra dan keluarganya tabah menghadapi semua cobaan terutama pembunuhan karakter dirinya dan seluruh masalahnya segera tuntas agar tidak menimbulkan fitnah yang berkepanjangan. Aamiin ya robbal aalamiin…
Sedangkan Dewa bersama jajaran direksi Citilink yang baru, dapat lebih memajukan maskapai penerbangan yang terkenal dengan pantun yang selalu disampaikan awak kabinnya kepada para penumpang. Aamiin….
Susunan terbaru pengurus Citilink adalah sebagai berikut:
Anggota Dewan Komisaris;
Komisaris Utama: Prasetio Komisaris: Komisaris :
Hasan M. Soedjono
Adita Irawati
Bambang Gutomo
Anggota Direksi:
Direktur Utama: Dewa Kadek Rai
Direktur Niaga dan Kargo: Ichwan Agus Direktur Operasi: Erlangga Sakti Direktur Human Capital: Arief Adhi Sanjaya
Dari Bogor saat menikmati istirahat yang panjang, saya ucapkan selamat mengapresiasi mereka yang berprestasi.
Dr Aqua Dwipayana
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional
