JAKARTA – Suana di Aula Ir. H. Juanda lantai 5, Gedung Dakwah Muhammadiyah DKI Jakarta, Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat, terasa hidup ketika Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta menggelar acara Hari Ber-Muhammadiyah, pada Sabtu (3/1/26).
Sekitar 300 pimpinan dan warga Muhammadiyah se-Jakarta hadir, menyatu dalam satu napas menyegarkan kembali semangat, memperkuat barisan, dan meneguhkan nilai yang sejak awal menjadi denyut gerakan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, pendidikan, dakwah, dan kemanusiaan.
Acara ini diantarkan Wakil Ketua PWM DKI Jakarta Ustadz Supriyadi Karsim, dengan penekanan bahwa prestasi Muhammadiyah tidak boleh hanya dipandang sebagai deretan “hasil”, tetapi harus terus dihidupkan lewat pendidikan sejarah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
Menurutnya, sejarah bukan untuk nostalgia melainkan menajamkan arah agar kader dan warga Muhammadiyah memahami mengapa gerakan ini lahir, bagaimana ia bertumbuh, dan untuk apa ia terus bergerak.
Santunan Bencana Kemanusiaan
Ditengah rangkaian acara, momen yang paling membasahi hati adalah ketika diserahkan bantuan untuk korban bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Bantuan tersebut dihimpun oleh Lazismu se-Jakarta, dengan capaian tidak kurang dari Rp1 miliar yang telah terkumpul.
Dititik ini, Hari Bermuhammadiyah tidak berhenti pada wacana. Ia menjelma aksi.
Ketika saudara-saudara kita terdampak bencana, Muhammadiyah tidak cukup berkata “turut berduka”, tetapi bergerak menggalang, menguatkan, menolong.
Sementara itu Dr. H. Agus Taufiqurrohman saat tausiyah menegaskan DNA Gerakan dan Standar Amal.
Dalam acara ini, tausiyah penguatan disampaikan Dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S, M.Kes.
Pesan-pesannya tegas, konkret, dan membumi—seolah mengajak hadirin menengok ke cermin apakah gerak kita masih sejalan dengan ruh Muhammadiyah?
Menurutnya, bahwa tolong-menolong bukan sekadar program, melainkan DNA Muhammadiyah.
Artinya, kedermawanan, kepedulian, respons bencana, pelayanan kesehatan, pendidikan untuk semua itu bukan “tambahan”, tetapi inti.
Tahfidz yang Berbuah: Membaca, Memahami, Mengamalkan
Muhammadiyah menyelenggarakan Tahfidzul Qur’an, tetapi tidak berhenti pada hafalan dan bacaan. Yang dikejar adalah pemahaman dan pengamalan secara ikhlas.
Spirit ini diperkuat dengan contoh klasik yang menggugah, dimana KH Ahmad Dahlan mengajarkan Surat Al-‘Ashr selama 7 bulan dan Surat Al-Ma’un selama 3 bulan.
Itu bukti Alquran tidak diperlakukan sebagai ornamen, melainkan sebagai energi perubahan.
Dia juga menekankan keteladanan di lingkungan amal usaha: setiap pimpinan amal usaha diminta memberi contoh dalam menegakkan sholat, sehingga bawahannya melihat, lalu mengikuti.
Bukan perintah dari mulut ke mulut, tetapi ajakan yang lahir dari perilaku.
Dikatakannya, Hari Bermuhammadiyah untuk menguatkan ranting dan cabang.
Karena dari sanalah denyut jamaah sesungguhnya bergerak, masjid yang makmur dan memakmurkan, pengajian yang hidup, kader yang tumbuh, dan pelayanan sosial yang menyentuh warga.
Mengurus Muhammadiyah Harus Berintegritas
Pesan beliau keras tetapi menyejukkan, mengurus Muhammadiyah harus berintegritas, karena pertanggungjawabannya bukan hanya kepada manusia tetapi kepada Allah SWT.
Integritas bukan slogan di spanduk, melainkan konsistensi jujur, amanah, transparan, tidak menyalahgunakan mandat, dan tidak menggadaikan nilai demi kepentingan.
Bagian yang paling “mengena” adalah analogi beliau tentang ikhlas.
Beliau menggambarkan kelapa sejak dipetik, kelapa diputar, dijatuhkan, dikupas dengan linggis, dibelah dengan golok, air dan dagingnya diambil, dicungkil, diparut, diperas hingga menjadi santan untuk gulai, rendang, atau kolak.
Tetapi kita tidak menyebut “gulai kelapa”, “rendang kelapa”, atau “kolak kelapa”.
Santan bekerja, kelapa diam, kelapa ikhlas tanpa protes, tanpa menuntut disebut namanya.
Lalu membandingkan dengan pepaya: dipetik dengan hati-hati, dipegang jangan sampai jatuh, ditaruh dimeja, dikupas dengan pisau tajam, disajikan di piring bersih, lalu disuguhkan sambil berkata, “silakan dinikmati pepayanya.”
Nama pepaya tetap disebut. Dari sini dia mengajak Muhasaba: jangan sampai amal kita minta panggung, minta ucapan, minta pengakuan. Beramal itu memberi, bukan menagih.
Hari Bermuhammadiyah PWM DKI Jakarta ini pada akhirnya terasa seperti penguatan ulang tiga hal sekaligus: Sejarah sebagai kompas, Amal nyata sebagai bukti, Nilai integritas dan ikhlas sebagai penjaga arah.
Ditengah tantangan zaman yang makin bising pencitraan, perebutan pengaruh, dan kebiasaan “ingin terlihat” acara ini seolah mengingatkan dengan cara yang sederhana tetapi tajam.
Muhammadiyah dibangun oleh kerja sunyi yang panjang, dan akan terus hidup oleh amal yang jernih yang tidak sibuk menyebut nama diri sendiri.
Redaktur: Abdul Halim
