Bukan berarti Jokowi atau lainnya itu lebih profesional, belum tentu juga, akan tetapi angka kepastian pengelolaan negara Prabowo secara amatiran cukup tinnggi, mungkin diatas 75 persen.
Janji-janji kerakyatan kepemimpinan ambyar. Apalagi dihubungkan dengan janji melambung saat kampanye, sudah pasti nyungsep.
Kabinet gembrotnya lebih banyak bergoyang dombret tidak bermutu.
Presiden sangat mahir ancam sana ancam sini sambil meliuk-liuk mempertontonkan
kinerja yang ambivalen.
Berawal dengan baiat ke Xi Jinping untuk dukungan jadi Presiden atas jaminan Jokowi, kemudian melapor setelah dilantik untuk siap jalankan tugas.
Saat kerusuhan yang didisain untuk mengingatkan, Prabowo tergesa-gesa menghadap Xi Jinping kembali.
Teriaklah heroik soal antek asing. Tidak lama kemudian ia merapat ke Donald Trump dengan bayang-bayang Netanyahu.
BOP adalah tipu-tipu perdamaian yang telah membuat Prabowo mengembik jadi antek dan terikat oleh tali ART.
Asisten Rumah Trump.
Trump dan Netanyahu menyerang Iran, Xi Jinping dan Putin dukung Iran.
Prabowo kelimpungan ketika ajuan untuk menjadi juru damai dianggap sampah.
Iran pilih Pakistan dan Turki. BOP perisai sial Indonesia.
Prabowo yang didesak rakyat untuk keluar bingung saja. Kapal tanker Indonesia dilarang Iran lewat Selat Hormuz.
Sementara tentara di Lebanon di serang Israel.
Dua prajurit TNI gugur.
Diplomasi luar negeri amatiran ala Prabowo amburadul.
Diplomacy without dignity.
Isu dalam negeri yang cukup berat justru program andalan Prabowo sendiri MBG.
Ketimbang dirasakan manfaat besarnya oleh anak didik konsumen MBG ternyata jauh lebih manfaat dan menguntungkan bagi pengelola dapur MBG bahkan aroma korupsi sangat menyengat.
Jangan karena ini program prioritas, maka pengawasan dan akuntabilitas menjadi terabaikan.
MBG menjadi alasan pembenar dan pemaaf.
Dulu Jokowi menjadikan Covid 19 sebagai proyek kebolehan untuk segalanya termasuk korupsi, kini MBG.
Nah kebobrokan pemerintahan Jokowi tidak dibenahi. Tuntutan rakyat soal bongkar korupsi, ijazah palsu, nepotisme, pengkhianatan negara, serta utang-utang luar negeri tidak ada respons memadai.
Terkesan Prabowo membiarkan bahkan menikmati sambil piknik membangun hubungan puja puji palsu.
Orientasi kerakyatan hanya omon-omon khas penguasa amatir.
Prabowo belum berkapasitas sebagai Presiden.
Apalagi dengan didampingi oleh bocah ingusan anak raja Jawa.
Stop Gibran, stop Prabowo, stop keduanya.
Tak ada harapan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia di bawah pemerintahannya.
Mereka tidak berbuat untuk rakyat, rakyat yang terpaksa memikirkan mereka.
Keduanya bersama para politisi busuk lain kini menjadi beban bagi rakyat.
Wajar jika para dokter tengah bersiap-siap di ruang operasi untuk melakukan amputasi.
M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Redaktur: Abdul Halim
