Home Opini Pemijahan Semi-Alami Ikan Betok Menggunakan Hormon Ovaprim, Solusi Praktis untuk Pembudidaya Lokal

Pemijahan Semi-Alami Ikan Betok Menggunakan Hormon Ovaprim, Solusi Praktis untuk Pembudidaya Lokal

by Slyika

Ikan betok (Anabas testudineus), dengan karakteristik unik dan rasa yang khas, telah menjadi salah satu ikan air tawar favorit yang banyak dicari di pasar Indonesia.

Meski produksi ikan betok mengalami pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar pasokan masih bergantung pada penangkapan liar di alam.

Praktik penangkapan yang tidak terkendali ini berisiko menyebabkan penurunan drastis populasi ikan betok di habitat aslinya.

Jika tren ini terus berlanjut, ancaman terhadap kelestarian spesiessemakin nyata, sementara permintaan pasar yang tinggi tidak dapat dipenuhi.

Ketergantungan pada tangkapan alam membuat produksi ikan betok semakin tertekan, menciptakan kesenjangan antara pasokan dan permintaan, yang pada akhirnya mengancam ketersediaannya di pasar.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemijahan ikan betok secara semi-alami.

Teknik pemijahan ini menawarkan solusi yang lebih efisien dan ramah lingkungan, mengurangi ketergantungan pada penangkapan ikan liar dan meningkatkan keberlanjutan produksi ikan betok.

Dalam hal ini, pemijahan dengan rasio jenis kelamin (sex ratio) yang tepat dan penggunaan hormon Ovaprim terbukti dapat meningkatkan keberhasilan pembenihan ikan betok.

Pemijahan Semi-Alami: Solusi untuk Meningkatkan Ketersediaan Benih Ikan Betok

Hasil riset yang Tim Budidaya Perairan yang diketuai oleh Mirna Fitrani, S.Pi, M.Si, Ph.D di Unit Pembenihan Rakyat Mandiri Abadi di Palembang melaporkan keberhasilan pemijahan ikan betok menggunakan metode semi-alami dengan jumlah rasio jantan dan betina berbeda.

Penerapan teknik pemijahan semi-alami ini menggunakan hormon Ovaprim sebagai induktor pemijahan.

Hormon ini bekerja dengan merangsang ovulasi pada induk betina dan memfasilitasi pembuahan telur oleh induk jantan.

Dosis yang digunakan adalah 0,3 mL per kg berat badan untuk induk betina dan 0,2 mL per kg berat badan untuk induk jantan.

Pemijahan dilakukan dalam bak fiber berukuran 60x40x30 cm³, dengan tiga perlakuan berbeda terkait rasio jenis kelamin betina dan jantan, yaitu:

 P1: Sex ratio 1:1

 P2: Sex ratio 2:1 

 P3: Sex ratio 3:1 

Tahapan yang dilakukan meliputi persiapan wadah pemijahan, seleksi induk yang sehat dan berkualitas, pemeliharaan induk, serta pemijahan dan penetasan telur.

Parameter yang diamati dalam penelitian ini mencakup fekunditas (jumlah telur yang dihasilkan), derajat pembuahan (persentase telur yang dibuahi), derajat penetasan (persentase telur yang menetas), serta kelangsungan hidup larva ikan betok.

Hasil yang diperoleh dari perlakuan dengan sex ratio 1:1 (P1) menunjukkan angka yang sangat memuaskan, antara lain derajat pembuahan mencapai 98,5 persen, derajat penetasan sebesar 97,2 persen serta kelangsungan hidup larva mencapai 98,8 persen. 

Kualitas air selama pemijahan dan penetasan juga terjaga dengan baik, dengan suhu air berkisar antara 27,1–32,4°C dan pH air antara 6,9–8,1.

Kondisi ini sesuai dengan kebutuhan optimal bagi perkembangan telur dan larva ikan betok.

Dukungan dari Pembudidaya Lokal dan Prospek ke Depan

Pemijahan ikan betok secara semi-alami dengan penyuntikan hormon Ovaprim menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan dalam meningkatkan produksi benih ikan betok.

Dengan rasio jenis kelamin yang seimbang (1:1), proses pemijahan dapat berjalan dengan efisien, menghasilkan pembuahan dan penetasan yang tinggi, serta kelangsungan hidup larva yang optimal.

Teknik ini tidak hanya memberikan solusi untuk meningkatkan pasokan ikan betok, tetapi juga mendukung keberlanjutan budidaya ikan dengan mengurangi ketergantungan pada tangkapan alam.

Dengan proses yang relatif sederhana dan biaya yang terjangkau, teknik pemijahan semi alami memberikan alternatif yang lebih berkelanjutan dibandingkan dengan mengandalkan penangkapan ikan betok dari alam.

Dukungan dari komunitas pembudidaya ini sangat penting, mengingat mereka memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang tantangan yang dihadapi dalam industri ikan betok.

Penerapan metode pemijahan semi-alami tidak hanya meningkatkan ketersediaan benih berkualitas tinggi, tetapi juga memberikan mereka peluang untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi ketergantungan pada tangkapan liar.

Hal ini juga dapat membuka pintu bagi mereka untuk memperluas usaha budidaya ikan betok mereka, baik untuk konsumsi lokal maupun pasar yang lebih luas.

Ke depan, potensi pengembangan teknik ini sangat besar. Dengan semakin banyaknya pembudidaya yang mengadopsi pemijahan semi-alami, dapat terjadi peningkatan produksi benih ikan betok yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Selain itu, peningkatan kapasitas dalam hal teknologi budidaya juga membuka peluang untuk meningkatkan daya saing ikan betok Indonesia di pasar domestik maupun internasional.

Inovasi dan pelatihan yang berkelanjutan bagi pembudidaya setempat sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pemahaman teknis dan manajerial mereka.

Ini akan memastikan bahwa metode ini dapat diterapkan secara optimal di berbagai daerah, dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang ada.

Prospek ke depan untuk budidaya ikan betok tidak hanya mengarah pada peningkatan pasokan yang lebih stabil, tetapi juga berkontribusi pada kelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.

Penulis: 

Mirna Fitrani, Galih Dwi Ibardy, Dimas Nur Ichsan, Danang Yonarta, Tanbiyaskur*

*Penulis adalah Tim Dosen dan mahasiswa Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian Jurusan Perikanan Universitas Sriwijaya yang bekerjasama dengan UPR Mandiri Abadi Palembang.

You may also like

Leave a Comment