BERITAIND.COM, PALEMBANG – Keterbatasan lahan tidak selalu menjadi penghalang bagi masyarakat untuk membudidayakan ikan.
Pemanfaatan galon sebagai wadah pemeliharaan menjadi salah satu alternatif yang dikaji oleh tim peneliti Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri) melalui penelitian sistem budidaya ikan lele (Clarias sp) menggunakan galon terbalik.
Penelitian berjudul “Analisis Kualitas Air, Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Lele (Clarias sp) pada Sistem Budidaya Galon Terbalik” ini mengkaji kualitas air, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup ikan selama pemeliharaan.
Wadah yang digunakan berupa galon dengan bagian dasar berbentuk kerucut, yang diuji sebagai alternatif sistem budidaya pada skala kecil.
Ketua peneliti, Siska Almaniar, S.Pi., M.Si., mengatakan, penelitian tersebut dilakukan untuk mengkaji potensi penggunaan wadah sederhana bagi budidaya ikan di ruang terbatas.
“Kami memilih sistem budidaya galon terbalik karena ingin mengkaji alternatif wadah pemeliharaan ikan lele yang dapat dimanfaatkan pada lahan terbatas. Melalui penelitian ini, kami ingin mengetahui bagaimana kualitas air, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup ikan pada sistem tersebut, sehingga pengembangannya dapat didasarkan pada hasil pengamatan ilmiah,” ujar Siska.
Penelitian berlangsung selama 30 hari dengan menggunakan benih lele berukuran 3–5 sentimeter.
Pengamatan dilakukan pada dua tingkat kepadatan, yaitu 20 dan 30 ekor per galon, masing-masing dengan tiga ulangan.
Parameter yang diamati meliputi suhu, pH, kadar amonia, pertumbuhan panjang dan bobot, serta tingkat kelangsungan hidup ikan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan pada perlakuan 20 ekor pergalon mencapai 98,33 persen.
Sementara itu, pada perlakuan 30 ekor pergalon, tingkat kelangsungan hidup tercatat sebesar 73,33 persen.
Perbedaan juga terlihat pada pertumbuhan bobot ikan.
Pada akhir pemeliharaan, bobot rata-rata lele pada perlakuan 20 ekor per galon mencapai 7,73 gram, sedangkan pada perlakuan 30 ekor pergalon sebesar 4,90 gram.
Kualitas air turut menjadi perhatian dalam penelitian ini.
Rata-rata kadar amonia pada perlakuan 20 ekor pergalon tercatat sebesar 0,8 ppm, lebih rendah dibandingkan 2,8 ppm pada perlakuan 30 ekor pergalon.
Adapun pH air relatif stabil pada kisaran 6,9–7,0.
Suhu air pada pagi hari berkisar 27,4–27,8 derajat celsius, sedangkan pada sore hari mencapai 30,41–31,01 derajat celsius.
Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bahwa penggunaan wadah berukuran terbatas perlu disertai pengelolaan kualitas air dan kepadatan ikan yang tepat.
Jumlah ikan yang lebih banyak dalam satu wadah dapat meningkatkan beban lingkungan pemeliharaan sehingga kondisi air perlu dipantau secara berkala.
Siska berharap hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi awal bagi masyarakat yang ingin mencoba budidaya ikan dalam skala kecil.
“Harapannya, hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat bahwa budidaya ikan tidak selalu membutuhkan lahan yang luas. Namun, penggunaan wadah sederhana tetap harus disertai pengelolaan kualitas air, pemberian pakan, dan kepadatan ikan yang tepat agar pemeliharaan dapat berjalan dengan baik,” katanya.
Sistem galon terbalik berpotensi menjadi salah satu pilihan untuk mengenalkan kegiatan budidaya ikan di lingkungan dengan ruang terbatas.
Selain dapat dikaji untuk penerapan skala rumah tangga, sistem ini juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran dan praktik akuakultur.
Meski demikian, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengevaluasi produktivitas panen, efisiensi penggunaan air, kelayakan ekonomi, dan kinerja sistem dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Dengan demikian, potensi penggunaannya dapat dinilai secara lebih menyeluruh sebelum diterapkan secara luas.
Penelitian ini dipimpin Siska Almaniar, S.Pi., M.Si dengan anggota dosen Septi Hermialingga, S.Pi., M.Si., dan Ayu Kalista, S.Pi., M.Si.
Dua mahasiswa, Dwi Kirana dan Wiwit Utami, turut terlibat dalam kegiatan penelitian tersebut.
Penelitian ini merupakan bagian dari skema Penelitian Dasar–Kerja Sama Dosen dan Mahasiswa yang dibiayai melalui DIPA Politeknik Negeri Sriwijaya Tahun Anggaran 2026.
Pendanaan tersebut berdasarkan Kontrak Nomor 5337/PL6.2.1/LT/2026 tanggal 26 Mei 2026 dan SK Direktur Polsri Nomor 4607/PL6.4.2/SK/2026 tanggal 12 Mei 2026.
Editor: Theo Esto
